Saat Lampu Sorot Padam: Nestapa di Balik Panggung yang Sepi

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

​Kediri - Lampu panggung itu tetap tergantung rapi. Backdrop aktivitas tetap terlipat dalam plastik. Di perspektif gudang; rangka tenda, kabel, dan bangku lipat tertata seperti menunggu perintah. Biasanya, semua itu bergerak cepat—diangkut, dipasang, disusun, lampau dalam hitungan jam berubah menjadi sebuah peristiwa. Namun, ketika negara sedang tidak baik-baik saja, nan pertama terasa adalah sunyi. Dan sunyi itu paling sigap datang ke bumi event organizer (EO).

Cahaya panggung menyatukan kita, merayakan akar budaya nan takkan pernah lekang oleh waktu.Foto Dok. pribadi

​Satu aktivitas nan dibatalkan mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang; hanya sebuah aktivitas nan ditunda. Namun bagi pekerja EO, satu aktivitas berfaedah hidup bagi puluhan, apalagi ratusan orang. Dalam satu aktivitas skala mini saja, setidaknya ada 20 sampai 30 pekerja nan terlibat. Mulai dari koordinator lapangan, kru registrasi, operator suara, teknisi pencahayaan, dekorasi, dokumentasi, hingga tenaga bongkar muat.

​Jika aktivitas berskala menengah, jumlah itu bisa mencapai 50 sampai 80 orang. Ada manajer panggung, runner, liaison officer, tim konsumsi, pembawa aktivitas (MC), pengisi acara, keamanan, hingga tim kebersihan. Mereka bekerja tidak hanya saat aktivitas berlangsung, tetapi juga sebelum dan sesudahnya. Ada nan menata bangku sejak subuh, ada nan menggulung kabel saat tengah malam, dan ada nan baru pulang ketika semua orang sudah tidur.

​Sementara untuk aktivitas besar seperti konser, pameran, alias pagelaran daerah, jumlah pekerjanya bisa menembus 100 hingga 200 orang, apalagi lebih. Mulai dari vendor sistem suara, pencahayaan, videotron, dekorasi, tenda, logistik, dokumentasi, multimedia, hingga UMKM nan berdagang di area acara. Satu panggung nan berdiri sesungguhnya menghidupi banyak keluarga.

Fokus tajam sang perekam, abadikan momen di kembali lensa. Foto : Dok. pribadi

​Itulah sebabnya, ketika kondisi ekonomi melambat alias anggaran ditahan, industri EO menjadi nan pertama terdampak. Perusahaan menunda peluncuran produk. Pemerintah mengurangi aktivitas seremonial. Komunitas menahan festival. Bahkan, aktivitas pernikahan pun disederhanakan. Kalimat nan sering terdengar hanyalah, “Kita tunda dulu, ya,” alias “Anggaran belum bisa turun.”

​Kalimat pendek itu berakibat panjang. Telepon nan biasanya ramai menjadi sepi. Grup koordinasi nan biasanya penuh jadwal, mendadak kosong. Para tenaga lepas nan biasanya beranjak dari satu aktivitas ke aktivitas lain, sekarang hanya saling bertanya, “Ada kerjaan minggu ini?”

​Sebagian dari mereka akhirnya beranjak sementara. Operator pencahayaan menjadi tukang servis listrik. Kru panggung membantu upaya keluarga. Fotografer aktivitas mencoba membuka jasa foto produk. Ada nan bertahan, ada nan menunggu, ada nan terpaksa mencari jalan lain. Namun, semuanya mempunyai angan nan sama—agar panggung kembali ada.

​Karena bagi pekerja EO, aktivitas bukan sekadar pekerjaan. Ia adalah sumber nafkah nan bergerak dari satu momen ke momen lain. Mereka tidak mempunyai penghasilan tetap; mereka hidup dari jadwal. Jika agenda kosong, penghasilan pun ikut kosong.

​Namun di kembali itu, ada ketangguhan nan jarang terlihat. Mereka tetap merawat peralatan, membersihkan gudang, menjaga jaringan, dan menyusun proposal baru, seolah siap kapan saja jika panggilan itu datang lagi. Mereka tahu bumi aktivitas selalu hidup dalam siklus: ada masa ramai, ada masa sunyi. Dan saat sunyi datang, mereka belajar bertahan.

​Ketika negara tak baik-baik saja, panggung memang redup lebih dulu. Namun di kembali layar, tetap ada banyak orang nan menjaga angan tetap menyala. Mereka mungkin tak terlihat saat lampu sorot padam, tetapi mereka tetap ada—menunggu hari ketika musik kembali terdengar, bangku kembali terisi, dan ratusan pekerja kembali bergerak dalam satu irama.

​Karena bagi mereka, satu aktivitas bukan hanya peristiwa. Satu aktivitas adalah kehidupan bagi puluhan, apalagi ratusan orang. Dan ketika panggung kembali berdiri, itu bukan hanya tentang hiburan—itu tentang roda ekonomi mini nan kembali berputar.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan