Saat JK Dilaporkan Dugaan Penistaan Agama ke Polda Metro

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Ketua Umum Pemuda Katholik, Stefanus Asat Gusma nan merupakan pelapor Wapres ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla memberikan keterangan pers usai menjalani penjelasan di Polda Metro Jaya, Senin (13/4/2026). Foto: Ryan Iqbal/kumparan

Pengurus Pusat Pemuda Katolik, DPP Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (DPP GAMKI) dan sejumlah organisasi lainnya melaporkan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla, ke Polda Metro Jaya buntut pernyataannya pada pidato di Masjid Universitas Gadjah Mada (UGM).

DPP GAMKI Sahat berbareng sejumlah lembaga kristen dan organisasi kemasyarakatan lain itu menilai pernyataan JK dalam pidato tersebut menuai polemik.

Laporan itu teregister dalam dengan nomor register LP/B/2546/IV/2026/SPKT/POLDAMETROJAYA dan LP/B/2547/IV/2026/SPKT/POLDAMETROJAYA.

Dalam laporan itu, GAMKI berbareng sejumlah lembaga Kristen lainnya melaporkan Jusuf Kalla mengenai dugaan penistaan kepercayaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 300 dan/atau Pasal 301 dan/atau Pasal 263 dan/atau Pasal 264 dan/atau Pasal 243 Undang-undang Nomor 1 Tahun 2023.

Sementara, Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik Stefanus Gusma--yang juga melaporkan JK, menekankan pentingnya meluruskan pemahaman publik mengenai aliran Kristiani, terutama dalam konteks nilai-nilai dasar ketaatan nan kerap disalahartikan.

"Dalam aliran Kristiani, kasih adalah norma nan utama. Iman kami tidak mengajarkan kekerasan sebagai jalan kesaksian, melainkan pengorbanan, kerendahan hati, dan kesediaan menderita tanpa membalas," tegas Gusma dalan keterangannya, Senin (13/4).

Doorstop Jusuf Kalla di Bareskrim Polri pada Rabu (8/4/2026). Foto: Kevin Daniel/kumparan

Ia menjelaskan, konsep meninggal syahid dalam tradisi Gereja tidak pernah dimaknai sebagai tindakan menyerang alias menghilangkan nyawa orang lain, melainkan kesetiaan pada ketaatan hingga rela berkorban demi kebenaran.

"Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka nan menganiaya kamu. Ini menunjukkan bahwa kasih dalam ketaatan Kristiani berkarakter radikal, melampaui logika balas dendam," ujarnya.

hanya ditujukan kepada sesama manusia sebagai gambaran Allah, tetapi juga kepada seluruh ciptaan.

"Allah adalah kasih dan sumber kehidupan. Karena itu, mencintai berfaedah menghormati seluruh makhluk hidup sebagai bagian dari ciptaan-Nya,"katanya.

Gusma mengingatkan, narasi keagamaan nan disampaikan di ruang publik perlu berpijak pada pemahaman nan utuh dan tidak simplistis, agar tidak menimbulkan distorsi makna nan berpotensi memicu ketegangan sosial.

"Ketika aliran kepercayaan direduksi alias digeneralisasi secara keliru, nan muncul bukan hanya kesalahpahaman, tetapi juga potensi retaknya kepercayaan dan persatuan," tandas dia.

Respons Jubir soal JK Dilaporkan ke Polda Metro Terkait Dugaan Penistaan Agama

Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla (tengah) melangkah keluar gedung usai melaporkan dugaan pencemaran nama baik di Bareskrim Polri, Jakarta, Rabu (8/4/2026). Foto: Sulthony Hasanuddin/ANTARA FOTO

Juru bicara Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla, Husain Abdullah, merespons laporan terhadap JK ke polisi mengenai isi ceramahnya di Universitas Gadjah Mada (UGM) nan viral.

Husain menyebut konten nan beredar telah dipotong sehingga menimbulkan narasi nan melenceng dari substansi pernyataan.

Hingga saat ini JK belum memberikan tanggapan langsung. Namun, Husain mengimbau agar pihak nan melaporkan lebih dulu mengkaji secara utuh isi pidato nan dipersoalkan.

“Belum ada tanggapan lantaran tetap kunjungan luar kota. Tapi sebelum melaporkan, sebaiknya mengkaji sebaik-baiknya konten nan sedang viral. Karena terpotong dan diberi narasi nan melenceng dari substansinya,” ujar Husain saat dikonfirmasi kumparan, Senin (13/4).

Ia menjelaskan, inti pesan nan disampaikan JK dalam pidato di Universitas Gadjah Mada pada 5 Maret 2026 lampau merupakan pembelajaran tentang gimana mendamaikan dua pihak nan bertikai.

Menurut Husain, dalam pidato tersebut JK mengungkapkan pendapat pihak-pihak nan terlibat bentrok di Poso dan Ambon, nan mencerminkan realitas sosiologis saat bentrok terjadi, bukan pandangan pribadi JK.

“Pak JK mengungkapkan pendapat orang orang nan bertikai pada saat kerusuhan Poso dan Ambon. Atau realitas sosiologis saat terjadi konflik. Bukan pendapat pribadi Pak JK,” kata dia.

Ia memaparkan, pada masa konflik, kedua pihak nan bertikai menggunakan semboyan kepercayaan untuk membenarkan tindakan kekerasan.

Penjelasan Pihak JK

Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla (tengah) menyampaikan keterangan usai melaporkan dugaan pencemaran nama baik di Bareskrim Polri, Jakarta, Rabu (8/4/2026). Foto: Sulthony Hasanuddin/ANTARA FOTO

Pihak Jusuf Kalla mengklafirikasi mengenai laporan tersebut. Juru bicara Jusuf Kalla, Husein Abdullahdengan tegas membantah tuduhan tersebut dan membeberkan kebenaran utuh di kembali pidato nan disampaikan.

Dalam video viral tersebut, hanya ditampilkan potongan kalimat JK:

"Kenapa kepercayaan mudah menjadi argumen bentrok kayak di Poso, Ambon? Karena kedua-duanya Islam dan Kristen beranggapan meninggal alias menewaskan orang alias mematikan itu syahid. Saat bentrok berjalan kedua pihak berkeyakinan begitu. Kalau saya bunuh orang Islam, saya syahid. Kalau saya meninggal pun saya syahid. Akhirnya susah berhenti."

Sejumlah akun IG itu lampau menarasikan bahwa JK telah mendusta lantaran "Kristen tidak mengenal meninggal syahid untuk membunuh musuh" dan bahwa aliran Kristus adalah "Kasihilah musuhmu".

Husain Abdullah menjelaskan JK sedang berbincang dalam konteks sejarah bentrok Poso dan Ambon (pada masa awal reformasi) nan bernuansa SARA alias menggunakan simbol simbol kepercayaan sebagai argumen pembenar. Bukan sedang khotbah mengajarkan teologi Kristen, tetapi menggambarkan usahanya kepada Civitas Akademika UGM, saat meluruskan kepercayaan kedua golongan nan bertikai Islam dan Kristen nan telah bertindak keliru sehingga menyebabkan ribuan nyawa melayang dari kedua pihak.

"Yang disampaikan Pak JK adalah realitas sosiologis di lapangan saat bentrok pecah. Pada masa itu, betul terjadi bahwa baik golongan Islam maupun golongan Kristen sama-sama menyerukan 'perang suci' dan menyatakan bahwa membunuh pihak musuh alias meninggal dalam pertempuran adalah syahid. Itu kebenaran sejarah, lantaran itu baik bentrok Poso maupun Ambon disebut bernuansa SARA. Konflik nan saat itu menewaskan ribuan orang, bukan pendapat pribadi Pak JK," jelas Husein dalam keterangan tertulis nan diterima, Senin (13/4).

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan