Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) mencapai titik terendah sepanjang sejarah. Nilai tukar rupiah melemah hingga Rp.17.156 per dollar AS pada 15 April 2026 (Trading Economics, 2026). Melampaui rekor terlemah sepanjang sejarah.
Kinerja mata duit rupiah lebih jelek dibandingkan tiga mata duit utama Asean, ialah ringgit Malaysia, baht Thailand, dan dong Vietnam. Hingga akhir maret 2026, rupiah melemah 5,5% dibandingkan posisi terkuatnya dalam satu tahun terakhir. Sementara, ringgit Malaysia melemah 4,1%, baht Thailand 5,0% dan dong Vietnam 2,40%.
Nilai tukar rupiah undervalued, di bawah nilai wajar dan tidak sesuai kondisi fundamentalnya. Fenomena ini sejalan dengan pandangan ahli ekonomi International Monetary Fund (IMF), Lorenzo Giorgianni (1997) bahwa depresiasi ekstrim nilai tukar dapat dipengaruhi oleh kondisi fiskal nan jelek melalui kenaikan persepsi akibat terhadap suatu perekonomian nan tercermin pada risk premium nan tinggi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Risk Premium Channel
Risk premium channel (jalur premi risiko) menjelaskan jalur pengaruh lemahnya disiplin fiskal terhadap nilai tukar melalui peningkatan persepsi akibat terhadap perekonomian suatu negara.
Pengalaman beberapa negara Eropa tahun 1992, nilai tukar lira Italia, franc Belgia dan krona Swedia mengalami depresiasi ekstrim lantaran premi risikonya sangat tinggi nan disebabkan oleh lemahnya disiplin fiskal. Hal ini tercermin pada debt to Gross Domestic Product (GDP) ratio nan tinggi, melampaui pemisah kondusif 60%.
Fenomena nan sama juga terjadi di Brazil tahun 2002, pada saat disiplin fiskal jelek nan tercermin pada debt to GDP ratio tinggi, rasio defisit fiskal terhadap GDP lebih besar 3,0%, keseimbangan primer negatif dan credit default swap (CDS) naik membikin nilai tukar real Brazil terdepresiasi ekstrim.
Depresiasi ekstrim real Brazil lantaran risk premium tinggi. Potensi kandas bayar utang luar negerinya naik. Tax revenue sebagai%tasi terhadap GDP tidak sesuai ekspektasi. Sehingga, bank sentral mengakomodasi defisit fiskal melalui pencetakan duit baru (money creation). Hingga situasi paling jelek terjadi, kandas bayar utang luar negeri.
Lembaga pemeringkat internasional nan menjadi patokan penanammodal dunia menempatkan asetnya, Moody's, Fitch dan S&P menurunkan ranking utang Brazil menjadi "highly speculative". Tingkat akibat kandas bayar utang meningkat signifikan nan tercermin pada CDS sebesar 3,75, tertinggi sepanjang sejarah (all-time high).
Meyakinkan Pasar
Fenomena nan sama terjadi di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir. Narasi state capitalism sangat dominan. Disiplin fiskal menurun nan tercermin pada debt to GDP ratio naik menjadi 40,46%. Rasio defisit fiskal terhadap GDP juga mendekati pemisah kondusif sesuai undang-undang (UU) sebesar 3,0%.
Debt service ratio (DSR) naik di atas pemisah kondusif 20% menjadi 47,67%. DSR mencerminkan keahlian suatu negara bayar utang. DSR sebesar 47,67 menunjukkan bahwa nyaris separuh pendapatan pemerintah Indonesia digunakan untuk bayar utang.
Peringkat utang Indonesia memperkuat di Baa2 jenis lembaga pemeringkat Moody's dan juga Fitch Rating, tetap kategori investment grade. Tetapi dari sisi outlook utang pemerintah Indonesia turun dari kategori stabil menjadi negatif.
Coutry risk premium Indonesia sebesar 2,46. Lebih tinggi dibandingkan country risk premium Malaysia sebesar 1,55 dan Thailand 2,07. Hal ini sejalan dengan ranking utang Malaysia jenis Moody's termasuk kategori menengah atas (A3). Demikian juga dengan sovereign CDS (mencerminkan potensi kandas bayar utang pemerintah), Indonesia 1,05 lebih tinggi dari Malaysia nan hanya 0,53.
Lalu, apa nan dapat dilakukan pemerintah dan Bank Indonesia (BI) untuk menurunkan premi akibat perekonomian nasional serta mengurangi depresiasi rupiah dalam situasi ketidakpastian dunia akibat perang Iran melawan AS dan Israel?
Pertama, presiden Prabowo secara langsung menyampaikan ke publik (investor) komitmen pemerintah untuk menjalankan kebijakan fiskal secara disiplin sesuai fiscal policy rule, ialah mematuhi ketentuan UU mengenai rasio defisit fiskal terhadap GDP paling besar 3,0%, menurunkan DSR mendekati 20%, dan mempertahankan rasio utang terhadap GDP sekitar 40%, jauh lebih mini dari pemisah kondusif 60%.
Kedua, mengumumkan secara terbuka hasil stress test, skenario menghadapi ketidakpastian global, khususnya berangkaian dengan akibat kenaikan nilai minyak bumi terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Termasuk, skenario kebijakan menunda penyelenggaraan program strategis nasional berbiaya mahal.
Ketiga, sebagai mitigasi terhadap meningkatnya persepsi akibat perekonomian nasional nan menyebabkan nilai saham jatuh ke titik terendah dalam setahun terakhir dan kurs rupiah melewati pemisah psikologis Rp. 17.000 per dollar AS, maka BI perlu memikirkan opsi capital control untuk menjamin kestabilan nilai rupiah dan menjamin independensi kebijakan moneter dalam situasi ketidakpastian dunia sesuai kerangka impossible trinity.
Akhirnya, ada baiknya menyimak nasihat ahli ekonomi paling berpengaruh abad ke-20 dan pemenang nobel ekonomi 1976, Milton Friedman: "untuk menurunkan premi akibat perekonomian, diperlukan kepastian kebijakan, dibutuhkan monetary policy rule dan stabilitas moneter. Ingat, premi akibat tinggi sering kali disebabkan oleh perubahan kebijakan pemerintah nan tidak terduga."
Muhamamd Syarkawi Rauf
Dosen FEB Unhas
Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha RI - KPPU RI (2015 - 2018)
Simak Video "Video Bos BI Pede Rupiah Bakal Terus Menguat"
[Gambas:Video 20detik]
(ang/ang)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·