Purbaya Respons S&P soal Ketahanan Ekonomi RI, Pastikan Defisit-Utang Terkendali

Sedang Trending 5 hari yang lalu
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di Peninsula Hotel New York, pada Senin (13/4). Foto: Dok. Kementerian Keuangan

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa merespons lembaga pemeringkat dunia Standard & Poor’s (S&P) menyoroti secara rinci kondisi fiskal Indonesia dalam pertemuan nan berjalan di Washington DC pada Selasa (14/4).

S&P Global Rating melaporkan ranking angsuran Indonesia saat ini berada pada level BBB dengan prospek stabil. Meski begitu, ranking angsuran Indonesia dinilai sangat sensitif terhadap pelemahan parameter fiskal serta eksternal akibat perang.

Purbaya menjelaskan S&P menekankan pentingnya konsistensi pemerintah dalam menjaga defisit di bawah 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

“Jadi, kita bilang kita konsisten dengan kebijakan itu. Presiden kita telah memberikan pengarahan bahwa defisit kita kudu dijaga di bawah 3 persen dari PDB,” kata Purbaya usai pertemuannya dengan S&P di Washington DC, Amerika Serikat, dikutip pada Kamis (16/4).

Selain itu, S&P juga menyoroti rasio pembayaran utang terhadap penerimaan negara nan dinilai tetap menjadi perhatian. Purbaya meyakinkan rasio tersebut tetap dalam pemisah nan terkendali dan bakal terus diperbaiki ke depan, seiring dengan upaya peningkatan penerimaan pajak dan cukai.

“Tapi kita bakal perbaiki ke depan sesuai dengan kondisi perbaikan pengumpulan pajak dan pengumpulan cukai kita lantaran kita sudah restrukturisasi itu, organisasi pajak dan cukai agar performanya lebih baik,” jelas Purbaya.

Ilustrasi Gedung Kementerian Keuangan RI. Foto: Wulandari Wulandari/Shutterstock

Dalam pertemuan itu, Purbaya memaparkan keahlian penerimaan pajak nan menunjukkan pertumbuhan signifikan. Pada dua bulan pertama tahun ini, penerimaan pajak tercatat tumbuh sekitar 30 persen, sementara pada periode Januari hingga Maret tumbuh sekitar 20 persen

“Saya bilang kita bakal monitor terus dan memastikan keadaan ekonomi tetap baik dan fiskal kita bakal jaga, tidak memburuk revisi pembayaran tambahan,” tegas Purbaya.

Purbaya memastikan laporan nan menyebut Indonesia mempunyai akibat relatif tinggi di area Asia itu merujuk pada penilaian sebelum pertemuan terbaru dengan S&P. Bahkan, kata Purbaya, lembaga tersebut memandang prospek Indonesia secara positif.

“Jadi sepertinya mereka sudah melakukan assessment ulang dan di hari Selasa ketika saya meeting dengan mereka, mereka memberikan konfirmasi bahwa memang kita tidak berubah, tetap stable dengan rating tetapi artinya dari situ kita bukan dalam posisi nan lemah dari sisi fiskal,” tutur Purbaya.

“Kalau message dari mereka clear dan mereka Juni kelak bakal datang lagi ke Indonesia untuk mendiskusikan alias menilai kondisi ekonomi maupun anggaran Indonesia secara keseluruhan. Jadi mereka pandangannya banget positif dari Indonesia,” tambahnya.

video story embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan