Komandan Korps Brimob (Dankorbrimob) Polri Komjen Pol Ramdani Hidayat, menyampaikan pesan Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo agar seluruh jejeran Brimob selalu siap menghadapi akibat bentrok global, termasuk potensi gangguan dalam negeri.
Hal itu disampaikan Ramdani usai apel pembukaan rapat kerja teknis (rakernis) Korps Brimob di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, Selasa (21/4).
“Jadi pesan-pesan nan yang disampaikan oleh Bapak Kapolri bahwa inti daripada Korbrimob Polri itu kudu siap. Baik itu personelnya, sarana prasarana, dan seluruh sumber daya nan ada di Korbrimob Polri untuk mengantisipasi khususnya kejadian-kejadian nan berakibat kepada negara kita,” ujar Ramdani.
Ramdani menyinggung, bahwa mau tak mau, polisi juga perlu waspada terhadap akibat dari bentrok global. Sebab, secara tak langsung, dampaknya berkapak pada ekonomi masyarakat.
“Dampak dari perang Iran, Israel, sama Amerika, akhirnya berakibat ke seluruh, termasuk akibat kepada kebutuhan pokok, kebutuhan krusial masyarakat. Bukan masalah naik turunnya nilai itu, tapi akibat naik dan turunnya nilai itu maka Brimob Polri sangat memerlukan personel Polri untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan berangkaian dengan permasalahan-permasalahan tersebut,” lanjut dia.
Menurutnya, Kapolri menekankan kesiapsiagaan seluruh unsur Brimob, baik personel maupun perlengkapan dalam situasi dimanika dunia nan tidak menentu.
“Itu sebenarnya pesan-pesan beliau adalah mengharapkan dan memerintahkan bahwa personil Polri, personel, dan sarana prasarana dan sumber daya Brimob Polri untuk selalu siap gitu,” ucapnya.
Menindaklanjuti pengarahan tersebut, Ramdani menyebut pihaknya terus melakukan pertimbangan dan pembenahan di beragam lini, mulai dari peralatan hingga sistem pelatihan.
“Setiap pertimbangan baru kita bakal perbaiki, kita benahi. Kejadian-kejadian apa pun kita pertimbangan dan kita benahi, termasuk penguatan peralatan, modernisasi peralatan, sampai sistem pelatihan. Itu nan kita siapkan semuanya,” kata dia.
Dalam pengamanan massa, Brimob juga diminta mengedepankan pendekatan humanis. Penggunaan kekuatan menjadi opsi terakhir setelah upaya persuasif dilakukan.
“Penanganan massa sekarang tidak kudu dengan kekerasan ya. Kita tunjukkan dulu pakai soft power. Ada dari Binmas, ada dari Sabhara. Jadi kekuatan Brimob adalah kekuatan terakhir,” imbuhnya.
Ia menegaskan, peran Brimob dalam pengendalian massa lebih pada pencegahan tindakan anarkis, bukan represif sejak awal.
“Jadi maka itu kita sampaikan bahwa PHH itu bukan pasukan huru-hara, tapi pasukan untuk mencegah anarkis. Anarkisnya nan kita utamakan untuk pencegahan sampai penindakan.”
“Kalau unjuk rasanya sih, semua boleh-boleh saja unjuk rasa, tapi jika sampai perusakan, pembakaran, kemudian membikin jiwa seseorang terancam, apalagi sampai meninggal dunia, baru kita kelak tindak. Itu sebenarnya,” jelasnya.
Terkait potensi gangguan keamanan akibat kenaikan nilai minyak, Ramdani menyebut pemetaan sudah dilakukan oleh Badan Intelijen dan Keamanan (BIK) Polri. Sejauh ini, dia memastikan kondisi tetap terkendali dan belum ada laporan gangguan signifikan.
“Alhamdulillah tetap tertangani semuanya. Makanya saya bilang, unjuk rasa nan ada sekarang tetap bisa diatasi oleh kewilayahan. nan jelas kita kudu siap saja semuanya, gitu.”
Sebelumnya, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memimpin apel pembukaan Rakernis Korps Brimob Polri di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, Selasa (21/4). Dalam aktivitas tersebut, sekitar 7.000 personel Brimob disiapkan untuk mendukung program pemerintah tahun 2026 sekaligus menghadapi potensi dinamika keamanan.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·