Pengusaha Bus Tahan Pembelian Unit Baru di Semester I 2026, Ini Alasannya

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Bus Sumber Alam. Foto: dok. Sumber Alam

Pengusaha otobus memilih menahan pembelian unit baru pada semester pertama 2026. Kondisi ekonomi dunia nan belum stabil membikin pelaku upaya mengambil langkah hati-hati.

Situasi ini berakibat langsung pada strategi upaya perusahaan transportasi darat. Banyak operator sekarang lebih konsentrasi menjaga arus kas daripada melakukan ekspansi armada.

Direktur Utama PT PO Sumber Alam Ekspres, Anthony Steven Hambali, mengatakan tren ini terjadi nyaris merata di kalangan pelaku upaya tidak hanya di perusahaannya. Ia menyebut kebanyakan operator tetap menunggu kepastian kondisi ekonomi.

Ilustrasi bus pariwisata Foto: yahyaernanda/Shutterstock

Menurutnya, ketidakpastian dunia membikin investasi besar seperti pembelian bus baru menjadi pertimbangan serius. Apalagi industri transportasi sangat sensitif terhadap perubahan biaya operasional.

“Kalau saya lihat semester 1 ini semua menahan pembelian lantaran kondisi global. Masih wait and see,” kata Anthony kepada kumparan, Senin (13/4/2026).

Ia menambahkan, langkah wait and see ini bukan tanpa alasan. Pelaku upaya mau memastikan kondisi pasar kembali stabil sebelum menggelontorkan biaya besar.

Ilustrasi Bus. Foto: Dok. Ditjen Perhubungan Darat Kemenhub

“Karena pembelian unit itu investasi besar, jadi pasti semua pengusaha lebih berbilang di kondisi seperti sekarang,” katanya.

Dalam kondisi normal, PO Sumber Alam mempunyai pola peremajaan armada nan cukup konsisten. Hal ini dilakukan untuk menjaga kualitas jasa tetap kompetitif.

Setiap tahun, perusahaan biasanya membeli 1 hingga 2 unit baru. Selain itu, peremajaan bodi dilakukan pada beberapa armada lama.

“Kalau normal, kami peremajaan bisa beli 1-2 unit, lampau body juga diremajakan sekitar 2-4 unit per tahun,” jelasnya.

Namun untuk saat ini, strategi tersebut belum dijalankan secara agresif. Ia menegaskan keputusan pembelian bakal sangat berjuntai pada perkembangan ekonomi ke depan.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan