Pendidikan Indonesia: Mengajarkan Hitung, tapi Lupa Mengajarkan Cara Berpikir

Sedang Trending 6 hari yang lalu
Ilustrasi rak kitab sebagai simbol pengetahuan dan literasi. Foto: Pixabay

Pendidikan di Indonesia menunjukkan nomor nan rendah jika dibandingkan dengan kualitas pendidikan di negara lain. Hasil survei nan dikeluarkan oleh PISA (Programme for International Student Assesment) pada tahun 2019, menunjukkan bahwa Indonesia berada di posisi ke 47 dari 49 negara alias berada dalam posisi ke-6 terendah. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan di Indonesia tetap tergolong rendah dan belum bisa bersaing dengan partisipan global. Kondisi tersebut disebabkan oleh banyaknya halangan dan tantangan nan dihadapi dalam penyelenggaraan pendidikan.

Kurikulum nan jelek dan membebani menjadi salah satu halangan penyelenggaraan pendidikan di Indonesia saat ini. Beban materi nan berlebihan membatasi keahlian peserta didik untuk mengeksplorasi dan mengembangkan potensi mereka sesuai dengan minat dan keahlian perseorangan (Dzaky et al., 2025). Sekolah lebih sering menekankan keahlian berbilang dan menghafal materi sehingga orientasi siswa hanyalah nilai ujian.

Ditambah lagi tekanan dari orang tua nan juga memprioritaskan hasil nilai ujian dan sistem perankingan. Kondisi ini menyebabkan siswa hanya konsentrasi pada hasil nomor nilai ujian, tidak memperhatikan sejauh mana materi nan ditangkap. Sekolah kurang melatih keahlian berpikir kritis, analitis dan reflektif, sehingga perihal ini tentunya juga berakibat pada budaya literasi para siswa di Indonesia.

Literasi sendiri mempunyai makna keahlian memperoleh info dan menggunakannya untuk mengembangkan pengetahuan pengetahuan nan berfaedah bagi masyarakat. Penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia lebih suka bertindak menjadi “pembaca pasif” nan mendapatkan info dan mengunyah renyah persepsi nan dikemukakan dari televisi.

Sehingga persepsi nan ada dalam masyarakat, selalu berasas persepsi di televisi. Pendidikan di sini semestinya berkedudukan sebagai sarana untuk membentuk langkah berpikir kritis, bukan hanya untuk mentransfer pengetahuan.

Metode Pembelajaran nan Tidak Efektif

Sistem pendidikan nasional tetap berpegang pada metode lama nan metode pembelajarannya condong satu arah (teacher centered). Ilmu diberikan alias diajarkan oleh orang nan lebih pandai alias pembimbing kepada murid. Guru memberi materi, sementara siswa condong pasif dan lampau menerima dengan tidak ada kritik alias pendapat terhadap guru. Sehingga, terjadi pola siswa hanya kudu menerima dan mengikuti apa nan diberikan pembimbing tanpa berpikir ulang validitas dari pernyataan nan diberikan guru.

Selain itu, kebanyakan sekolah juga berorientasi pada nilai ujian akademik. Bobot pengetahuan terletak pada hasil akhir alias final product, di mana seorang nan mendapat nilai bagus pasti bakal selalu mendapat label siswa giat dan pintar.

Padahal, goals pendidikan adalah gimana siswa dapat bekerja keras, penuh tanggung jawab, jujur, dan disiplin dalam proses pembelajaran. Metode pembelajaran harusnya menitikberatkan pada meneliti, bukan menerima peralatan jadi.

Dampak terhadap Pola Pikir Siswa

Dampak dari sistem pendidikan nan ada ialah siswa menjadi kurang terbiasa berpikir kritis dan memecahkan masalah nan ada. Siswa juga ketergantungan pada jawaban benar-salah tanpa berpikir melalui proses nan mendalam. Akibatnya, di era digital nan serba sosial media ini siswa dapat dengan mudah tergiring opini alias termakan hoax nan beredar di sosial media.

Pola nan dihasilkan oleh metode pembelajaran teacher centered juga bakal secara tidak sadar terbawa ke dalam kehidupan sehari-hari. Siswa bakal mudah untuk menelan mentah info dan bakal kesulitan menghadapi masalah nyata di masyarakat. Selain itu, kurangnya produktivitas dan keahlian berinovasi juga menjadi akibat nan muncul lantaran kesalahan sistem ini.

Tujuan Ideal Pendidikan

Tujuan pendidikan adalah untuk mengembangkan potensi siswa dalam mengembangkan nalar, kreativitas, dan karakter. Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 3 disebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman, bertakwa, beradab mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi penduduk negara nan demokratis serta bertanggung jawab.

Tujuan pendidikan tidak hanya untuk menghasilkan siswa nan pandai secara akademik, tetapi juga kudu bisa berpikir berdikari dan bertanggung jawab. Sistem pembelajaran nan ada harusnya mendorong siswa untuk berdiskusi, menganalisis, serta mengeksplorasi ide.

Hal ini krusial untuk meningkatkan pemahaman nan mendalam, melatih keahlian berpikir kritis, serta melatih kerja sama siswa. Metode ini mengubah kelas menjadi ruang eksplorasi aktif, bukan hanya untuk “menghafalkan” materi.

Upaya Mewujudkan Pendidikan Berkualitas

Pendidikan nan berbobot adalah pendidikan nan sukses mencetak generasi berpola pikir nan berkembang dan maju serta mempunyai nilai adab mulia dengan menerapkan sendiri sebagai contoh serta menciptakan pembelajaran nan aktif, kreatif, dan menyenangkan (Firnando, 2020). Sejalan dengan sebuah pendapat menyatakan bahwa pendidikan nan berbobot adalah pendidikan nan bisa memenuhi angan dan bisa memenuhi kemauan dan kebutuhan masyarakat, untuk mewujudkan angan masyarakat, sekolah dan pembimbing kudu mempunyai angan nan tinggi terhadap siswa (Aziz, 2015).

Untuk mewujudkan pendidikan nan lebih berkualitas, perlu ada perubahan mendasar pada metode pembelajaran nan ada. Beberapa solusi nan bisa ditawarkan adalah mengubah metode pembelajaran dari teacher centered menjadi student centered learning. Siswa tidak hanya pasif mendengarkan materi dari guru, namun juga turut aktif agar pembelajaran di kelas menjadi dua arah.

Selain itu, sistem pertimbangan juga perlu diperbaiki sehingga tidak hanya konsentrasi pada hasil ujian, tetapi juga menilai proses berpikir, serta pemecahan masalah pada pembelajaran siswa. Di sisi lain, sekolah juga kudu menciptakan lingkungan belajar nan mendukung dan menjadi ruang eksploratif nan terbuka bagi perbedaan pendapat, sehingga siswa terbiasa untuk menyampaikan pendapat nan logis dan bertanggung jawab.

Penutup: Pendidikan sebagai Proses Membentuk Cara Berpikir

Pendidikan tidak cukup hanya mengajarkan berbilang dan memahami materi, melainkan bisa untuk membentuk langkah berpikir siswa secara kritis dan analitis. Sistem pendidikan juga perlu beralih bentuk dari nan berorientasi pada hasil ujian menjadi berorientasi pada proses dan kerja keras siswa dalam memperoleh ilmu.

Sekolah sebagai lembaga pendidikan kudu bisa untuk mewadahi siswa dengan memberikan akomodasi nan memadai dan menciptakan ruang belajar nan mendorong siswa untuk mengeksplorasi, serta mengembangkan produktivitas dan keahlian berpikir kritis. Dengan demikian, jika pendidikan bisa mengajarkan langkah berpikir nan baik, maka bakal menghasilkan siswa nan siap menghadapi tantangan masa depan dan bisa berkontribusi positif pada masyarakat.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan