Muatan Lokal Gunung Ciremai sebagai Ekosistem Pembelajaran Lintas Jenjang

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Ilustrasi jenjang pendidikan dari PAUD hingga Perguruan Tinggi di lanskap Gunung Ciremai: mengenal, memahami, melestarikan, menganalisis, hingga meneliti dalam satu alur berkelanjutan.

Pendidikan tidak hanya mengajarkan tentang apa nan ada dalam buku, dia kudu menjawab pertanyaan nan lebih mendasar: untuk apa pengetahuan itu dipelajari, dan gimana dia terhubung dengan kehidupan nyata peserta didik? Karena dalam praktiknya, pembelajaran di sekolah tetap belum banyak menyentuh soal realitas sosial, budaya, dan lingkungan tempat mereka tinggal. Sehingga proses pembelajaran hanya dijadikan sebagai pemahaman tanpa dimaknai secara holistik. Padahal sudah jauh hari Ki Hadjar Dewantara menyatakan bahwa pendidikan bukanlah persiapan untuk hidup, pendidikan merupakan kehidupan itu sendiri.

Dalam konteks inilah kurikulum muatan lokal menemukan relevansinya. Seperti nan pernah ditegaskan oleh Mulyasa, bahwa muatan lokal merupakan kerangka kurikulum nan dikembangkan sesuai dengan potensi dan karakter suatu daerah. Gagasan serupa juga dikemukakan oleh Oemar Hamalik nan mengaitkan pendidikan muatan lokal nan diintegrasikan dengan keadaan lingkungan alam, sosial, dan budaya daerah. Dengan demikian, kurikulum tidak lagi berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian nan tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakatnya.

Dalam kerangka tersebut, tentu kehadiran Kurikulum Muatan Lokal Gunung Ciremai (MLGC) merupakan langkah strategis dari Pemerintah Daerah Kabupaten Kuningan dalam mengintegrasikan nilai ekologis, sosial dan budaya lokal ke dalam praktik pembelajaran. Muatan Lokal gunung Ciremai diharapkan menjadi ruang bagi peserta didik agar tidak hanya belajar tentang lingkungannya saja, tetapi juga menggunakan lingkungan tempat mereka tinggal sebagai sarana dan sumber belajar secara kontekstual. Sehingga proses pembelajaran nan dilakukan dapat menghubungkan antara teori dengan aktivitas praktik di lapangan.

Dari Kebijakan ke Praktik: Dinamika Implementasi di Sekolah

Kekuatan kurikulum tidak hanya terletak pada desainnya, melainkan gimana dia diimplementasikan secara nyata diruang kelas. Apa nan tertulis dalam arsip kebijakan seringkali mengalami perubahan ketika dihadapkan pada realitas implementasinya. Hal tersebut menunjukkan gimana tokoh di tingkat sekolah secara aktif menafsirkan, mengadaptasi dan menerapkan kebijakan dalam praktik nyata di lapangan.

Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Stephen J. Ball nan menegaskan bahwa penerapan kurikulum tidak melangkah linear dengan kebijakan, melainkan ditafsirkan dan diterjemahkan secara bergerak ke dalam praktik nyata berasas konteks institusionalnya. Dalam konteks ini, kepala sekolah dan pembimbing mempunyai peran strategis dalam menerjemahkan kebijakan menjadi praktik pembelajaran dan menentukan kualitas penerapan kurikulum. Oleh lantaran itu, kompetensi kempemimpinan pedagogis serta profesionalisme kepala sekolah dan pembimbing menjadi sangat krusial agar pengalaman belajar nan dibangun relevan dengan kehidupan nyata peserta didik.

MLGC: Menghubungkan Sekolah dengan Kehidupan

Kurikulum muatan lokal mempunyai kekuatan menghadirkan pembelajaran kontekstual nan menghubungkan peserta didik dengan nilai sosial, budaya serta lingkungannya. Mereka tidak hanya menerima info dari pembimbing dikelas, tetapi juga terlibat secara aktif untuk memahami realitas lingkungan nan ada di sekitarnya. Pembelajaran seperti ini bakal lebih mudah dipahami lantaran mempunyai kedekatan dengan kehidupan peserta didik sendiri.

Dalam praktiknya, Gunung Ciremai dapat menjadi sumber belajar nan kaya: mulai dari aspek ekologi lingkungan, budaya masyarakat, hingga potensi ekonomi lokal. Ketika perihal ini diintegrasikan dalam pembelajaran, maka proses belajar tidak lagi berkarakter abstrak, melainkan menjadi lebih konkret dan bermakna.

Lebih dari itu, pembelajaran berbasis kearifan lokal seperti MLGC juga berkedudukan dalam membangun kesadaran identitas dan rasa peduli terhadap lingkungannya. Ketika peserta didik terlibat langsung dalam mempelajari potensi serta persoalan daerahnya, mereka tidak hanya mempunyai keahlian secara konginitf saja, tetapi juga mengasah sikap peduli dan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan sosial. Hal ini menjadikan proses pembelajaran nan tidak hanya konsentrasi pada aspek pengetahuan saja, melainkan sebuah upaya untuk membentuk generasi nan dapat membaca realitas dan berkontribusi nyata dalam kehidupan masyarakatnya.

Tantangan: Terputusnya Pembelajaran Antar Jenjang

Berdasarkan hasil pengamatan, penerapan Kurikulum Muatan Lokal Gunung Ciremai (MLGC) pada jenjang PAUD, SD dan SMP sejatinya telah melangkah dengan cukup baik. Peserta didik telah ditanamkan nilai-nilai kearifan lokal sejak usia awal sampai jenjang pendidikan menengah pertama. Namun nan jadi pertanyaan adalah gimana dengan peserta didik nan ada di jenjang SMA dan mahasiswa di perguruan tinggi? apakah perihal ini hanya lantaran adanya pembagian kewenangan pengelolaan pendidikan antara pemerintah kabupaten/kota, provinsi dan pemerintah pusat sehingga menimbulkan jarak kebijakan antar jenjang nan signifikan?

Tidak adanya kesinambungan antar jenjang ini pada akhirnya berakibat pada hilangnya potensi penguatan pembelajaran nan semestinya bisa berkembang secara bertahap. Pengetahuan dan pengalaman nan telah dibangun pada jenjang sebelumnya tidak sepenuhnya dilanjutkan, sehingga besar kemungkinan peserta didik bakal mulai dari titik nan berbeda tanpa adanya kesinambungan nan jelas. Oleh lantaran itu, diperlukan sebuah upaya untuk membangun kebijakan lanjutan sebagai penghubung lintas jenjang pendidikan dan lembaga pemerintah, baik melalui penyelarasan kurikulum alias dengan kerjasama antar pemangku kepentingan. Hal ini bermaksud agar proses pembelajaran dapat melangkah secara utuh, terarah dan berkelanjutan.

Saya berkeyakinan bahwa kurikulum nan baik tentu kudu mempunyai prinsip kesinambungan (continuity) antar lintas jenjang pendidikan, sehingga peserta didik sebagai subjek utama pembelajaran bisa berkembang secara berjenjang dan terarah sesuai dengan tujuan kurikulumnya. Oleh karenanya, MLGC mempunyai potensi besar untuk dikembangkan sebagai sebuah “ekosistem pembelajaran berbasis kearifan lokal berkelanjutan” nan tidak hanya berakhir pada jenjang pendidikan dasar, melainkan terintegrasi hingga ke perguruan tinggi.

MLGC sebagai Ekosistem Pembelajaran Lintas Jenjang

Dalam konteks ini kita memerlukan perspektif baru dalam memandang Muatan Lokal Gunung Ciremai. Kurikulum ini tidak cukup diposisikan sebagai “mata pelajaran baru”, tetapi sesuatu nan kudu ditransformasikan sebagai “sebuah ekosistem pembelajaran lintas jenjang pendidikan”.

Sebagai ekosistem, MLGC sejatinya menghubungkan beragam jenjang pendidikan dalam satu alur pembelajaran nan berkelanjutan. Bisa kita bayangkan, jika pada jenjang Usia Dini dan Sekolah Dasar peserta didik mulai diperkenalkan pada kesadaran lingkungan dan nilai-nilai lokal, kemudian di jenjang SMP diarahkan pada pemahaman nan lebih mendalam tentang konteks gunung ciremai. Tentu perihal ini menjadi Langkah nan signifikan dalam merawat akar budaya wilayah pada generasi muda di Kabupaten Kuningan.

Lalu pada jenjang SMA, peserta didik mulai diarahkan pada kajian kritis dan kajian tentang fenomena-fenomena nan berangkaian dengan Gunung Ciremai, sehingga pada level Perguruan Tinggi proses pembelajaran dapat diarahkan pada eksplorasi pengetahuan dan pemahaman berbasis riset nan kontekstual dengan kondisi di lapangan.

Jika ekosistem pembelajaran ini sudah terintegrasi sampai perguruan tinggi seperti nan disampaikan, Gunung Ciremai tidak hanya dipandang sebagai area ekologis dan pemisah wilayah antar daerah, dia telah beralih bentuk sebagai landasan pembelajaran kontekstual nan menguatkan kesadaran kolektif para generasi muda dalam menjaga, merawat dan mengembangkan kearifan lokal wilayah di tengah arus perubahan zaman.

Menguatkan Sinergi untuk Keberlanjutan

Untuk mewujudkan Muatan Lokal Gunung Ciremai sebagai “ekosistem pembelajaran berbasis kearifan lokal berkelanjutan” tentu memerlukan support dari beragam pihak. Pemerintah Daerah, Pemerintah Provinsi, Satuan Pendidikan, hingga Perguruan Tinggi perlu membangun sinergi nan berkepanjangan dalam menentukan arah dari kurikulum ini. Meskipun setiap jenjang pendidikan dan lembaga pemerintah mempunyai karakter dan political will nan berbeda, maka semuanya kudu mempunyai visi nan sama dalam satu kerangka besar penguatan pendidikan berbasis kearifan lokal Gunung Ciremai.

Sehingga pada akhirnya Mulok Gunung Ciremai telah menunjukkan bahwa pendidikan dapat tumbuh dari akar budaya lokal tanpa kehilangan relevansinya dengan perkembangan zaman. Tantangan kedepan tentu tergantung gimana sikap Pemerintah Daerah memperkuat kesinambungan dan memperluas jangkauan implementasinya. Karena jika perihal ini dapat diwujudkan, maka kurikulum Muatan Lokal Gunung Ciremai bukan hanya menjadi pelengkap struktur kurikulum, tetapi menjadi fondasi dalam membangun generasi nan mencintai lingkungannya, menghargai serta merawat budayanya, dan bisa berkontribusi nyata bagi wilayah tempat tinggalnya sendiri.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan