Menteri Perhanan AS Pete Hegseth dan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menggelar pertemuan di Pentagon pada Senin (13/4). Dalam pertemuan tersebut, keduanya mengumumkan pembentukan Kemitraan Kerja Sama Pertahanan Utama alias Major Defense Cooperation Partnership antara kedua negara.
Kemitraan ini bakal menjadi kerangka untuk meningkatkan kerja sama pertahanan bilateral antara Amerika Serikat dan Indonesia guna menjaga perdamaian dan stabilitas di area Indo-Pasifik.
“Kunjungan Anda menunjukkan pentingnya nan diberikan Departemen Perang terhadap hubungan keamanan kita nan terus berkembang — dan memang aktif serta semakin kuat — dengan Indonesia,” kata Hegseth kepada Sjafrie dilansir dari situs resmi Kemenhan AS, Selasa (14/4)/
Ia juga mencatat bahwa kedua negara melaksanakan lebih dari 170 latihan militer berbareng setiap tahun.
“Kemitraan ini menandakan kekuatan dan potensi hubungan keamanan kita … memperkuat daya tangkal kawasan, serta memajukan komitmen berbareng kita terhadap perdamaian melalui kekuatan,” tambah Hegseth.
Dalam pernyataan singkatnya, Sjafrie menegaskan pandangan Hegseth mengenai kuatnya hubungan AS-Indonesia.
“Hari ini, kami datang sebagai delegasi Indonesia … dengan antusiasme nan sangat besar untuk terus mengembangkan hubungan pertahanan kita, nan semestinya berkepanjangan bagi generasi mendatang di Indonesia dan Amerika Serikat,” kata Sjafrie.
“Kami bekerja atas dasar saling menghormati dan saling menguntungkan untuk meningkatkan nilai kepentingan nasional kita," lanjutnya.
Perjanjian kerja sama baru ini mempunyai tiga “pilar utama” nan didasarkan pada kedaulatan nasional masing-masing negara dan saling menghormati, yaitu: organisasi militer dan pembangunan kapasitas; training dan pendidikan militer profesional; serta latihan dan kerja sama operasional.
Dalam kerangka perjanjian tersebut, kedua negara bakal menjajaki inisiatif mutakhir, termasuk pengembangan berbareng keahlian asimetris canggih, perintisan teknologi pertahanan generasi berikutnya di bagian maritim, bawah laut, dan sistem otonom, serta kerja sama dalam pemeliharaan, perbaikan, dan overhaul untuk meningkatkan kesiapan operasional.
Pernyataan itu juga menjelaskan bahwa AS dan Indonesia sepakat meningkatkan training campuran pasukan khusus, nan diharapkan dapat mempererat hubungan kedua militer.
Selain itu, Hegseth mencatat bahwa Indonesia telah membantu AS dalam pemulihan jenazah prajurit nan gugur.
“Saya menghargai support berkepanjangan Anda dalam membantu Amerika Serikat menemukan, memulangkan, dan melindungi jenazah prajurit kami nan bertempur berbareng orang Indonesia selama Perang Dunia II,” kata Hegseth.
Ia menambahkan bahwa penandatanganan nota kesepahaman ini bakal memungkinkan lembaga Defense POW/MIA Accounting Agency untuk memulihkan jenazah para prajurit tersebut di Indonesia.
Baik Hegseth maupun Sjafrie menggambarkan kerja sama pertahanan ini sebagai “line of departure” — istilah militer untuk memulai misi baru — bagi kedua negara.
“Jadi, ini untuk bab berikutnya dan misi baru kita berbareng bagi negara-negara besar kita,” ujar Hegseth.
AS dan Indonesia telah menjalin hubungan diplomatik umum selama lebih dari 75 tahun, sejak 1949, tak lama setelah Indonesia memenangkan perang kemerdekaan dari Belanda.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·