Memasuki Musim Kemarau, BMKG Wanti-Wanti Kebakaran Hutan di Riau hingga Sumsel

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Api membakar rimba dan lahan gambut di jalan Gubernur Syarkawi, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Selasa (15/10/2019). Foto: ANTARA FOTO/Bayu Pratama S

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengingatkan potensi kebakaran rimba dan lahan (karhutla) seiring datangnya musim tandus nan diprediksi mulai April hingga Juni 2026. Ia menyebut tandus tahun ini berpotensi lebih panjang dan lebih kering dibandingkan normalnya.

“Sehingga nantinya musim tandus di Indonesia datangnya sedikit lebih cepat, sehingga dia lebih panjang dan dibanding dengan rerata klimatologisnya selama 30 tahun terakhir, dia lebih kering,” ucap Faisal di DPR, Senin (13/4).

“Nah ini tadi nan kita coba untuk meningkatkan kesiapsiagaan kita semua, kita mitigasi agar pemerintah ya semuanya siap untuk dapat menghindari alias mengurangi terjadinya kekeringan, kemudian Karhutla, menjaga swasembada pangan, untuk menjaga efektivitas operasi waduk dan lain sebagainya,” tambahnya.

Faisal menjelaskan, musim tandus bakal dimulai berjenjang dari wilayah timur Indonesia sebelum meluas ke wilayah lain.

“Jadi berasas prediksi kami bahwa musim tandus itu bakal datang di Indonesia mulai bulan April, Mei hingga Juni ya, kelak banyak nan datangnya di bulan Mei. Dimulai dari wilayah timur Indonesia, Nusa Tenggara Barat—maaf, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, kemudian Pulau Jawa terutama pesisir, lampau Pulau Jawa nan di dataran tinggi hingga Sumatera bagian selatan,” ucap Faisal.

Ia menambahkan, pada semester kedua tahun ini Indonesia diperkirakan memasuki El Nino lemah hingga moderat nan bakal memperkuat kondisi kemarau.

“Kemudian nantinya di semester kedua tahun ini, ya kira-kira bulan Juli, sekarang kondisinya tetap netral ya, kelak kita bakal memasuki El Nino lemah hingga moderat. Ini perlu dicatat ya, kami menggunakan istilah untuk menjelaskan tentang El Nino nan bertindak umum di seluruh bumi ialah El Nino kita lemah hingga moderat nan dimulai semester dua tahun 2026 hingga berhujung nanti,” jelas Faisal.

“Sehingga nantinya puncak dari musim tandus itu di bulan Agustus, ya dominan nan paling banyak wilayah di Indonesia itu puncaknya di Agustus,” tambahnya.

Menurutnya, wilayah selatan khatulistiwa menjadi wilayah nan paling berpotensi terdampak, termasuk peningkatan akibat karhutla di sejumlah provinsi.

“Ya, jadi tentunya nan paling banyak terpengaruh adalah utamanya kira-kira ya di bagian selatan Khatulistiwa. Bagian selatan Khatulistiwa. Jadi kelak untuk Karhutla sendiri ada enam provinsi nan paling terpengaruh mulai dari Riau, Jambi, Sumatera Selatan, kemudian Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah hingga Kalimantan Selatan. Nah ini enam provinsi,” ujar Faisal.

Ia menegaskan, meski memasuki musim kemarau, hujan tetap dapat terjadi di sejumlah wilayah, namun dengan intensitas lebih rendah.

“Jadi apakah musim tandus bakal ada hujan? Ya, hujan kemungkinan juga bakal ada gitu, tapi tidak lebih dari 150 milimeter per bulan. Itu nan disebut dia dalam kondisi musim kemarau,” jelas Faisal.

Faisal juga menyebut nyaris separuh area musim di Indonesia diprediksi memasuki tandus lebih sigap tahun ini.

“Tergantung daerahnya. Sebagian sudah masuk musim kemarau, sebagian baru memulai alias ada nan sedikit terlambat. Tapi secara umum nyaris 50 persen dari area musim di Indonesia itu memasuki tandus lebih sigap ya, lebih sigap di bulan April kira-kira,” pungkas Faisal.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan