Kita Terlalu Cepat Percaya, Padahal Belum Tentu Benar

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Ilustrasi kebiasaan mengonsumsi info dari media sosial tanpa verifikasi.Sumber:Unsplash / Pexels

Pernah nggak sih Anda langsung percaya sama sebuah info hanya lantaran sering muncul di timeline? Atau mungkin lantaran banyak nan share, jadi terasa pasti benar? Tanpa sadar, kebiasaan seperti ini makin sering terjadi di era sekarang.

Kita hidup di era di mana info datang tanpa henti. Bangun tidur, buka HP, langsung disambut berita, opini, sampai potongan video nan kadang apalagi belum jelas sumbernya. Semuanya terasa cepat, instan, dan mudah dipercaya.

Masalahnya, tidak semua info itu benar.

Sering kali kita tidak betul-betul membaca, hanya sekadar memandang titel lampau langsung menyimpulkan. Bahkan, ada juga nan langsung membagikan tanpa memastikan kebenarannya terlebih dahulu. Akhirnya, info nan belum tentu sah ikut menyebar begitu saja.

Di titik ini, sebenarnya nan kita butuhkan bukan sekadar akses informasi, tapi keahlian untuk berpikir. Bukan berpikir nan rumit, tapi cukup dengan bertanya: ini masuk logika nggak? sumbernya jelas alias tidak?

Sayangnya, kebiasaan seperti ini justru mulai jarang dilakukan. Kita lebih terbiasa dengan nan sigap daripada nan benar. Selama terlihat meyakinkan, kita condong menerima tanpa banyak pertanyaan.

Padahal, jika dipikir-pikir, dampaknya cukup besar. Salah memahami info bisa bikin kita salah mengambil keputusan. Bahkan dalam skala nan lebih luas, bisa memicu kesalahpahaman di masyarakat.

Bukan berfaedah kita kudu jadi terlalu berprasangka terhadap semua hal. Tapi setidaknya, ada jarak sebelum percaya. Ada upaya mini untuk memastikan. Karena di tengah banyaknya info seperti sekarang, keahlian untuk memilah itu jadi penting.

Mungkin kita nggak bisa mengontrol semua info nan datang. Tapi kita tetap bisa mengontrol gimana langkah kita meresponsnya.

Dan dari situ, semuanya sebenarnya mulai.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan