Ketika Mereka Mulai Menulis, Saya Menemukan Makna Mengajar

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Semua ini berasal dari perihal nan sederhana: saya mulai membaca tulisan-tulisan teman-teman pembimbing saya nan terbit di media nan membikin saya merasa senang. Ada gagasan, ada pengalaman, ada refleksi nan hidup di dalamnya. Tetapi kebahagiaan itu menjadi lebih besar ketika saya mulai membaca tulisan anak-anak didik saya. Di sana saya menemukan kejujuran, keberanian, dan cerita hidup nan nyata. Dari situlah saya tersadar bahwa ada sesuatu nan sedang tumbuh. Dan pengalaman itulah nan mendorong saya untuk membagikan kisah ini sebagai sebuah sukacita.

Berawal dari Kritik Guruku

Pengalaman saya dalam menulis tidak lahir dari sebuah kebiasaan nan sejak awal terbangun secara sadar, melainkan dari sebuah proses nan diwarnai oleh ketidaksiapan, penolakan, apalagi kritik nan cukup tajam. Pada masa sekolah menengah atas, saya termasuk siswa dengan capaian akademik nan tergolong baik. Nilai-nilai saya berada di atas rata-rata, dan secara umum saya tidak mengalami kesulitan dalam mengikuti pembelajaran.

Namun demikian, terdapat satu aspek krusial nan justru saya abaikan, ialah menulis. Saya tidak pernah berperan-serta dalam penulisan tulisan untuk majalah sekolah nan secara rutin diterbitkan dua kali dalam setahun. Bukan lantaran tidak mampu, tetapi lantaran tidak mempunyai dorongan untuk melakukannya.

Dalam konteks inilah, seorang pembimbing senior pernah menyampaikan kritik nan hingga sekarang tetap saya ingat: “Kamu pintar, tetapi sombong lantaran tidak mau menulis.” Pernyataan ini pada awalnya terasa mengganggu, tetapi di kemudian hari saya menyadari bahwa kritik tersebut menyentuh persoalan nan mendasar: adanya jarak antara keahlian intelektual dan keberanian untuk mengekspresikannya secara tertulis.

Perubahan mulai terjadi ketika sekolah menetapkan kebijakan bahwa seluruh siswa tingkat akhir wajib menulis. Tanpa tulisan, nilai tidak bakal diberikan. Dalam situasi tersebut, menulis bukan lagi pilihan, melainkan keharusan akademik. Saya mulai menulis dalam kondisi nan dapat dikatakan sebagai “keterpaksaan nan produktif.”

Menariknya, tulisan pertama saya justru mendapatkan apresiasi dari pembimbing nan sebelumnya mengkritik saya. Pengalaman ini menjadi titik kembali nan signifikan. Saya mulai memahami bahwa menulis bukan sekadar aktivitas teknis, tetapi sebuah proses intelektual nan memungkinkan pendapat menjadi terstruktur, terkomunikasikan, dan mempunyai daya jangkau nan lebih luas.

Menulis adalah Bagian Integral Pertumbuhkembangan Manusia (Dok Pribadi, 2025)

Perjalanan ini kemudian bersambung ketika saya memasuki bumi perguruan tinggi, khususnya dalam studi filsafat. Dalam konteks akademik filsafat, menulis tidak dapat dipisahkan dari proses berpikir itu sendiri. Gagasan tidak cukup hanya dipahami secara internal, tetapi kudu diartikulasikan secara logis, argumentatif, dan sistematis. Di sinilah saya mulai mengalami perkembangan nan lebih serius dalam menulis.

Saya mulai produktif menghasilkan tulisan, baik dalam corak tulisan ilmiah maupun refleksi. Bahkan, saya memperoleh kesempatan untuk menulis renungan harian, baik pada tingkat lokal maupun nasional. Beberapa tulisan saya juga diterima dalam media gerejawi apalagi Surat Kabar. Pengalaman ini memperkuat kepercayaan saya bahwa menulis bukan sekadar keahlian tambahan, melainkan bagian integral dari pembentukan intelektual dan spiritual seseorang.

Namun demikian, perlu saya akui bahwa proses ini tidak pernah selesai. Ketika saya memasuki bumi kerja sebagai pendidik sekaligus pengelola sekolah, tantangan baru muncul. Beban kerja nan tinggi, tanggung jawab administratif, serta dinamika pengelolaan pendidikan sering kali membikin aktivitas menulis tidak lagi menjadi prioritas utama. Menulis tetap menjadi kebutuhan, tetapi tidak selalu mendapat ruang nan memadai.

Kesadaran baru muncul ketika saya mengikuti studi banding ke sebuah yayasan pendidikan nan menjadi referensi pengembangan lembaga kami. Dalam pengalaman tersebut, saya memandang gimana budaya menulis dibangun secara sistematis. Tulisan tidak hanya dipandang sebagai produk akademik, tetapi sebagai instrumen strategis dalam pendidikan.

Studi Banding Yayasan Joseph Esa Ene ke Perkumpulan Strada nan Menginspirasi dalam perihal Menulis (Dok Pribadi, Feb 2026)

Tulisan menjadi sarana untuk mendidik, membangun wacana, serta melawan beragam corak “kematian” dalam bumi pendidikan—baik dalam makna rendahnya literasi, terbatasnya ruang refleksi, maupun kekuasaan info nan tidak mendidik. Dalam konteks ini, menulis dapat dipahami sebagai corak intervensi kultural nan mempunyai akibat jangka panjang.

Menulis: Ungkapan Eksistensi Manusia

Jika ditarik lebih jauh, kesadaran ini mempunyai dasar historis dan antropologis nan kuat. Dalam Sapiens: A Brief History of Humankind (2011), Yuval Noah Harari menjelaskan bahwa keahlian manusia untuk menciptakan dan menggunakan simbol merupakan fondasi utama perkembangan peradaban. Sebelum mengenal sistem abjad seperti sekarang, manusia telah menggunakan beragam simbol untuk menandai pengalaman, menyampaikan pesan, dan membangun makna kolektif. Tulisan, dalam pengertian ini, bukan sekadar perangkat komunikasi, tetapi juga sarana pewarisan makna. Ia memungkinkan manusia melampaui keterbatasan ruang dan waktu. Ia menjadi medium di mana pengalaman perseorangan dapat diolah menjadi pengetahuan bersama.

Dalam perspektif makulat eksistensialisme, perihal ini memperoleh dimensi nan lebih dalam. Jean-Paul Sartre (1905-1980) menegaskan bahwa manusia adalah makhluk nan membentuk dirinya melalui tindakan. Dalam beragam esainya, termasuk nan berangkaian dengan refleksi eksistensial seperti dalam tradisi Essays Saint-Solange, Sartre menunjukkan bahwa ekspresi—termasuk melalui tulisan—merupakan corak konkret dari keterlibatan manusia dalam dunia. Dalam perihal ini, buahpikiran dasar Sartre merujuk pada konsepnya tentang makulat eksistensialisme, yakni, “existence precedes essence”— eksistensi mendahului esensi. Artinya, manusia tidak dilahirkan dengan makna nan sudah jadi; manusia kudu menciptakan makna itu melalui pilihan dan tindakannya. Menulis, dalam konteks ini, adalah salah satu tindakan paling konkret untuk menegaskan eksistensi itu.

Demikianlah menulis merupakan tindakan eksistensial. Melalui tulisan, seseorang tidak hanya menyampaikan gagasan, tetapi juga menegaskan keberadaannya sebagai subjek nan berpikir, merefleksikan, dan memberi makna.

Mendorong Budaya Menulis

Berangkat dari pemahaman tersebut, saya mulai mengembangkan inisiatif untuk mendorong budaya menulis di lingkungan sekolah. Saya tidak hanya melanjutkan praktik menulis secara pribadi, tetapi juga membujuk rekan-rekan pembimbing dan peserta didik untuk terlibat dalam proses ini. Salah satu langkah konkret nan dilakukan adalah membuka ruang publikasi, termasuk melalui media seperti Kumparan, sebagai wadah aktualisasi gagasan.

Dampak dari inisiatif ini sangat signifikan. Guru-guru mulai menulis tentang pengalaman ahli mereka: dinamika pembelajaran, tantangan pedagogis, serta refleksi atas panggilan sebagai pendidik. Sementara itu, para siswa mulai mengekspresikan pengalaman hidup mereka secara lebih terbuka—tentang pergulatan dalam belajar, relasi dalam keluarga, serta pencarian jati diri di tengah beragam tantangan.

Tulisan-tulisan tersebut memperlihatkan bahwa menulis bukan hanya aktivitas akademik, tetapi juga proses pembentukan diri. Dalam tulisan, saya memandang gimana perseorangan berupaya memahami dirinya, mengolah pengalaman, dan mengartikulasikan makna hidupnya.

Pada titik inilah saya menemukan kebahagiaan nan tidak saya duga sebelumnya. Bukan semata-mata lantaran saya bisa menulis, tetapi lantaran saya memandang orang lain mulai menulis. Inspirasi nan pada awalnya berkarakter personal, rupanya dapat beralih bentuk menjadi aktivitas kolektif.

Sebagai pendidik, pengalaman ini membawa saya pada pemahaman nan lebih dalam tentang makna mengajar. Mengajar tidak hanya berangkaian dengan penyampaian materi, tetapi juga dengan pembuatan ruang bagi peserta didik untuk menjadi subjek nan aktif, reflektif, dan ekspresif.

Menulis menjadi salah satu medium krusial dalam proses tersebut. Melalui menulis, peserta didik tidak hanya menerima pengetahuan, tetapi juga memproduksi makna. Mereka tidak hanya belajar tentang dunia, tetapi juga belajar menempatkan diri mereka di dalam bumi itu.

Dengan demikian, pengembangan budaya menulis di lingkungan pendidikan bukan sekadar program tambahan, melainkan bagian esensial dari proses pendidikan itu sendiri. Menulis membantu membentuk manusia nan tidak hanya pandai secara kognitif, tetapi juga bisa merefleksikan dirinya dan memberi kontribusi nyata melalui gagasan.

Pada akhirnya, ketika rekan pembimbing dan siswa mulai menulis, saya menyadari bahwa di situlah letak makna terdalam dari tugas saya sebagai pendidik. Sebab melalui tulisan, mereka tidak hanya belajar, tetapi juga menyatakan dirinya—bahwa mereka ada, berpikir, dan mempunyai makna. (SP, 2026)

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan