Kementerian Kesehatan Tekankan Pendekatan Holistik untuk Haji 2026

Sedang Trending 1 jam yang lalu

, JAKARTA, – Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa pengelolaan ekspektasi dan pendekatan holistik sangat krusial untuk membantu jemaah haji melaksanakan ibadah dengan lebih tenang dan fokus. Imran Pambudi, Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan di kementerian, mengungkapkan bahwa Haji 2026 bakal menjadi salah satu pertemuan spiritual terbesar dengan lebih dari 1,8 juta jemaah dari seluruh dunia, termasuk sekitar 221.000 dari Indonesia. Dari jumlah tersebut, sekitar 11.000 merupakan jemaah lanjut usia nan menghadapi tantangan bentuk dan mental lebih besar.

“Haji adalah praktik keagamaan nan sangat krusial bagi umat Muslim. Namun, di kembali makna religiusnya nan mendalam, terdapat tantangan kesehatan mental nan signifikan,” katanya pada Rabu. Ia mencatat bahwa perubahan lingkungan, kerumunan besar, dan tekanan bentuk serta emosional dapat memicu stres, kecemasan, apalagi gangguan kesehatan mental.

Laporan Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa sekitar 10 hingga 15 persen jemaah memerlukan perhatian unik mengenai masalah kesehatan mental, sementara 30 hingga 40 persen mengalami gangguan tidur akibat ritme sirkadian nan terganggu dan aktivitas ibadah nan intens.

Data dari Pusat Kesehatan Haji Indonesia menunjukkan bahwa jemaah lanjut usia adalah golongan nan paling rentan, dengan sekitar 80 persen pasien nan dirawat lantaran gangguan mental menunjukkan indikasi demensia. Imran juga menyoroti bahwa suhu di Mekah saat ini berkisar antara 35 hingga 38 derajat Celsius dengan kelembaban rendah, kondisi nan dapat menyebabkan dehidrasi, kelelahan, dan masalah tidur.

Ia menambahkan bahwa izin ketat nan diberlakukan oleh pemerintah Arab Saudi mengenai visa, akses ke Mekah, dan penggunaan aplikasi digital Nusuk telah meningkatkan tekanan psikologis, terutama bagi jemaah nan tidak terbiasa dengan teknologi dan cemas terhadap potensi hukuman pelanggaran.

Pentingnya Persiapan Mental

Ritual seperti tawaf dan sa’i nan menuntut dapat berkontribusi pada kelelahan emosional, sementara fase kepulangan memerlukan penyesuaian kembali setelah pengalaman spiritual nan intens. Faktor lain seperti perbedaan budaya, akomodasi terbatas, dan hubungan dalam kerumunan besar juga dapat menimbulkan frustrasi dan emosi terisolasi.

“Semua ini menunjukkan bahwa persiapan mental dan pengelolaan ekspektasi sama pentingnya dengan persiapan fisik, sehingga jemaah dapat menjalani dinamika ibadah dengan tenang tanpa dibebani ekspektasi nan tidak realistis,” ujarnya.

Untuk mengatasi tantangan ini, dia menekankan pentingnya pendekatan holistik. Konseling pra-keberangkatan nan mencakup training manajemen stres, agenda ibadah nan seimbang dengan rehat nan cukup, serta perhatian pada hidrasi dan nutrisi merupakan strategi kunci. Praktik relaksasi, doa, dan dhikr dapat membantu menenangkan pikiran, sementara support sosial dari sesama jemaah menumbuhkan rasa kebersamaan dan mengurangi kecemasan.

“Petugas kesehatan haji sekarang dilengkapi dengan tim unik untuk merespons sigap masalah psikologis dan mencegahnya berkembang menjadi kondisi nan lebih serius,” tambahnya. Dengan persiapan mental nan tepat, ekspektasi realistis, kepatuhan terhadap regulasi, dan support kuat dari family dan komunitas, diharapkan ibadah haji 2026 dapat dilaksanakan dengan lebih tenang, fokus, dan penuh pemenuhan spiritual.

Konten ini diolah dengan support AI.

sumber : antara

Selengkapnya
Sumber Republika Nasional
Republika Nasional