IDAI merespons kasus balita nan mengalami hipotermia saat diajak orang tuanya naik gunung di Gunung Ungaran, Jawa Tengah, pada Sabtu (11/4) lalu.
Ketua Unit Kerja Koordinasi Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI Dr. Yogi Prawira, Sp.A, Subs. ETIA (K), mengingatkan bahwa daya tahan tubuh anak tetap berkembang, kemampuannya sangat berbeda dengan orang dewasa.
“Anak itu bukan dewasa kecil, jangan asumsikan anak sama daya tahannya dengan orang dewasa. Apalagi jika membawa anak ke gunung lantaran anak sangat mudah kehilangan cairan tubuh,” kata dr Yogi dikutip dari Antara.
Yogi mengatakan bahwa salah satu penyebab anak, khususnya pada bayi di bawah tiga tahun (batita) mudah mengalami hipotermia adalah busana nan basah akibat cuaca dalam waktu nan lama.
Penanganan pertama nan dapat diberikan adalah dengan membuka baju anak dan keringkan tubuhnya. Pakaian nan basah bakal mempermudah anak kehilangan panas nan berupaya dipertahankan oleh tubuh.
Berikutnya, segera tempelkan tubuh anak dan orang tua dari kulit ke kulit (skin to skin), untuk menghangatkan anak secara perlahan. Menurutnya, suhu tubuh orang dewasa bakal lebih tinggi sekitar 37 derajat celcius.
“Kita lakukan dalam kondisi tubuh sama-sama kering ya. Teknik ini mirip dengan teknik Kangoroo Mother Care (KMC) nan banyak dikerjakan di negara-negara Afrika ya, jika di Indonesia pada bayi-bayi prematur,” ujar Yogi.
Orang tua kemudian dianjurkan untuk menutup bagian luar tubuh anak menggunakan kain nan kering. Adapun penggunaan alumunium foil juga diperbolehkan, namun langkah itu ditujukan untuk mencegah anak kehilangan panas lebih lanjut.
Hal lain nan perlu diperhatikan oleh orang tua saat anak mengalami hipotermia adalah memastikan anak tidak mengalami dehidrasi.
Bagi orang tua nan baru mau mulai memperkenalkan anak ke alam di area gunung, dia mengimbau agar mulai melakukan latihan secara perlahan dan intensitas karah nan kondusif dan mudah diakses andaikan perlu dievakuasi.
“Jangan mulai dari naik gunung nan tinggi. Hiking dulu, pelan-pelan. Mungkin lihat keahlian si anak tiap minggu dan sebagainya,” kata dia.
Di sisi lain Ketua Pengurus Pusat IDAI DR. Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp. Kardio (K) menyayangkan terjadinya kasus hipotermia nan menimpa anak usia 1,5 tahun di Semarang, Jawa Tengah.
Ketua Pengurus Pusat IDAI DR. Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp. Kardio (K) saat menyampaikan pentingnya memberikan pertolongan darurat pada anak dalam jumpa media di Jakarta, Senin (13/4/2026).
Piprim menekankan orang tua kudu menyadari dan mengutamakan keselamatan anak dalam setiap aktivitas. Banyak pertimbangan nan kudu dipikirkan sebelum membujuk batita berkegiatan di alam luas lantaran pada usia itu terbilang rawan penyakit alias kondisi tubuh melemah.
Misalnya, seperti mempersiapkan busana nan nyaman dipakai anak maupun mencermati medan letak nan dituju.
“Tapi menurut saya tidak direkomendasikan membawa batita naik gunung dengan potensi nan kehujanan, basah, kuyup, alias kepanasan,” tambahnya.
Sebelumnya, bayi wanita berumur 1,5 tahun dikabarkan mengalami hipotermia ketika dibawa oleh orang tuanya untuk ikut mendaki Gunung Ungaran di Semarang, Jawa Tengah pada Sabtu (11/4).
Diduga hipotermia terjadi akibat cuaca di area pendakian tiba-tiba berubah menjadi ekstrem.
Dalam video nan diunggah melalui Youtube @basarnasofficial pada Minggu (12/4), tim pemindahan melaporkan bahwa suhu tubuh bayi saat ditemukan dalam keadaan turun drastis dan kritis. Bayi terus menangis dan menunjukkan tanda kedinginan nan parah.
Setelah dievakuasi dan mendapatkan penanganan dari tim SAR, kondisi bayi tersebut kembali normal secara perlahan.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·