Setiap tahun, buletin tentang pendaki nan ditemukan tak bernyawa di lereng gunung kembali mengisi kolom berita. Publik berduka, organisasi pendaki bersuara, lampau semuanya berlalu begitu saja hingga kejadian serupa terulang musim berikutnya. Kita terlalu sering menyalahkan cuaca buruk, medan nan berat, alias nasib. Namun jarang sekali kita jujur pada diri sendiri: banyak dari kematian itu sebenarnya bisa dicegah. Dan penyebabnya, lebih sering dari nan kita duga, adalah hipotermia.
Hipotermia bukan sekadar kondisi "kedinginan parah." Ia adalah kegagalan fisiologis sistemik, sebuah spiral ke bawah nan dimulai diam-diam, tanpa peringatan keras, tanpa rasa sakit nan mencolok. Paal et al. (2022) mendefinisikannya sebagai penurunan suhu inti tubuh di bawah 35°C, ketika sistem termoregulasi nan selama ini bekerja tanpa henti mulai kalah dari lingkungan. Ketika itu terjadi, jantung, otak, dan seluruh organ vital perlahan berakhir berfaedah optimal. Dan dalam kondisi ekstrem pegunungan, proses itu bisa berjalan jauh lebih sigap dari nan kita bayangkan.
Yang membikin hipotermia begitu rawan bukan semata-mata intensitasnya, melainkan langkah dia datang: perlahan, menipu, dan sering tidak dikenali apalagi oleh si penderita sendiri. Bjertnæs et al. (2022) mencatat bahwa salah satu tanda paling paradoks dari hipotermia sedang adalah berhentinya rasa menggigil nan kerap disalahartikan sebagai tanda membaik, padahal dia justru menandakan bahwa tubuh telah kehabisan persediaan daya untuk bertahan. Pada titik inilah banyak pendaki, dan apalagi rekan seperjalanan mereka, terlena. Mereka mengira nan terburuk sudah lewat. Padahal nan terburuk baru saja dimulai.
Kita perlu bicara jujur tentang siapa nan paling berisiko. Jawabannya mungkin mengejutkan: bukan hanya pendaki pemula. Fudge (2016) menemukan bahwa dalam survei terhadap para pendaki gunung, tiga penyebab utama cedera dingin adalah busana nan tidak sesuai, penggunaan peralatan nan keliru, dan kurangnya pengetahuan tentang persiapan menghadapi dingin. Ketiga aspek ini tidak eksklusif milik pemula. Pendaki berilmu pun kerap terjebak dalam ilusi bahwa pengalaman masa lampau cukup sebagai perlindungan. Padahal gunung tidak peduli seberapa sering Anda mendaki. Ia hanya tahu seberapa siap Anda hari ini.
Yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah gimana aspek akibat di pegunungan bekerja secara sinergis. Szymczak et al. (2022) lewat simulasi neraca panas di lingkungan Gunung Everest menunjukkan bahwa ketika seorang pendaki nan kelelahan terpaksa berakhir akibat cuaca nan memburuk mendadak, cedera, alias sekadar kehabisan tenaga, produksi panas metabolik tubuh ambruk drastis. Di ketinggian, keahlian tubuh mengkompensasi penurunan ini sangat terbatas. Inilah jebakan sesungguhnya: Anda tetap bisa berjalan, tetap bisa berbicara, lampau tiba-tiba tidak bisa lagi. Duong dan Patel (2024) mengingatkan bahwa pada hipotermia berat, disfungsi jantung dan sistem saraf dapat terjadi begitu sigap sehingga jendela waktu untuk intervensi menjadi sangat sempit.
Namun saya tidak menulis ini untuk menakut-nakuti. Saya menulis ini lantaran percaya bahwa kesadaran adalah obat terbaik nan kita miliki dan kita belum cukup menggunakannya. Paal et al. (2022) menegaskan bahwa pencegahan hipotermia jauh lebih mudah dan efektif daripada penanganannya di lapangan. Teknik layering, pemantauan kondisi cuaca secara aktif, kecukupan kalori dan hidrasi, serta keberanian untuk memutuskan turun gunung ketika situasi memburuk, semua itu bukan tanda kelemahan. Semua itu adalah tanda kebijaksanaan.
Ada satu perihal nan menurut saya paling mendesak untuk diubah: langkah kita memandang keputusan berbalik arah. Dalam kultur pendakian kita, terlalu sering keberhasilan diukur dari apakah seseorang sukses menapakkan kaki di puncak. Pendaki nan memilih turun demi keselamatan kerap dipandang sebelah mata, apalagi oleh dirinya sendiri. Padahal Van Veelen et al. (2025) dalam tinjauan medis mereka tentang penanganan darurat di pendakian ketinggian tinggi secara definitif menyebut bahwa penghentian pendakian nan tepat waktu dan keputusan turun saat kondisi memburuk adalah komponen krusial keselamatan nan tidak bisa diabaikan.
Gunung bakal selalu ada. Ia tidak ke mana-mana. Tapi nyawa manusia sekali lenyap tidak pernah kembali.
Maka sebelum Anda memasang tali di carrier, sebelum Anda mengecek perkiraan cuaca terakhir kali, tanyakan dulu pada dirimu sendiri: apakah saya betul-betul siap, bukan hanya untuk mendaki, tapi juga untuk pulang?
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·