Pemerintah Jepang berencana menggelontorkan support finansial sebesar USD 10 miliar alias setara dengan Rp 171,67 triliun dengan kurs Rp 17.167 per dolar AS, kepada negara-negara di Asia Tenggara. Tujuannya untuk meredam akibat lonjakan harga minyak mentah akibat bentrok di Timur Tengah.
Mengutip Bloomberg, Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, mengumumkan rencana tersebut usai menggelar pertemuan virtual dengan para pemimpin area pada hari ini, Rabu (15/4). Dia menegaskan, stabilitas daya di Asia menjadi kepentingan strategis bagi Jepang.
“Jepang sangat mengenai dengan negara-negara Asia lainnya melalui rantai pasokan dan langkah lain. Kekurangan bahan bakar dan gangguan rantai pasokan di Asia bakal menghalang pengadaan pasokan medis ini dari Asia ke Jepang, nan bakal berakibat negatif signifikan pada ekonomi dan masyarakat Jepang,” kata Takaichi dikutip dari Bloomberg, Rabu (15/4).
Takaichi mengungkapkan, pertemuan tersebut dihadiri sejumlah pemimpin kawasan, di antaranya Presiden Ferdinand Marcos Jr. dari Filipina, Perdana Menteri Anwar Ibrahim dari Malaysia, serta Perdana Menteri Le Minh Hung dari Vietnam.
Dalam forum tersebut, Jepang juga meluncurkan inisiatif kemitraan berjudul Power Asia nan bermaksud memperkuat ketahanan daya kawasan. Program ini bakal menyediakan pembiayaan untuk langkah darurat, termasuk pengadaan minyak mentah dan produk turunannya dan menjaga kelancaran rantai pasok.
Inisiatif ini juga bermaksud untuk memperpanjang masa penyimpanan minyak mentah dan mendiversifikasi sumber energi.
Sebelumnya, sejumlah negara di Asia Tenggara seperti Vietnam telah meminta support pasokan minyak dari Jepang dan Korea Selatan. Namun, Jepang menegaskan persediaan strategisnya digunakan untuk kebutuhan domestik.
Pemerintah Jepang memastikan kondisi pasokan daya dalam negeri tetap aman. Kementerian Perdagangan menyebut Jepang tetap dapat memenuhi kebutuhan minyak tahun ini melalui diversifikasi sumber pasokan di luar jalur Selat Hormuz serta pemanfaatan persediaan nan dimiliki.
“Kemitraan baru nan diumumkan kali ini tidak melibatkan transfer persediaan minyak mentah strategis Jepang, dan sama sekali tidak bakal berakibat jelek pada pasokan dan permintaan domestik,” kata Takaichi.
6 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·