Harga emas spot bumi (XAU) tercatat menguat pada perdagangan Senin (13/4). Mengutip Bloomberg, nilai emas naik sebesar 26,79 poin alias sekitar 0,57 persen dibandingkan posisi sebelumnya ke level USD 4.767,10 per ons pada perdagangan 13 April 2026 pukul 20.35 EDT, alias pukul 07.35 WIB Selasa (14/4).
Harga emas menguat tipis usai mengalami penurunan selama dua hari berturut-turut didorong oleh optimisme nan kembali muncul bakal adanya penyelesaian perang AS-Iran melalui negosiasi meredakan kekhawatiran inflasi.
Harga emas batangan sekitar USD 4.760 per ons, sedikit pulih dari penurunan sekitar 0,6 persen dalam dua sesi sebelumnya. Di tengah situasi tersebut, Presiden Donald Trump menyebut pejabat Iran telah mendekati pemerintahannya untuk membahas kemungkinan kesepakatan, meskipun AS mulai melakukan blokade di Selat Hormuz.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyatakan negaranya siap melanjutkan pembicaraan tenteram sesuai norma internasional.
Di sisi lain, nilai minyak turun ke bawah USD 100 per barel, pasar saham menguat, dan indeks dolar AS melemah sekitar 0,2 persen pada perdagangan Senin (13/4). Kondisi ini ikut mendukung nilai emas lantaran logam mulia tersebut dihargai dalam dolar AS.
Turunnya nilai daya juga mengurangi tekanan inflasi nan sebelumnya membebani emas sejak bentrok dimulai lebih dari enam minggu lalu. Situasi ini sempat membikin pelaku pasar memperkirakan bank sentral bakal mempertahankan suku kembang tinggi lebih lama, apalagi berpotensi menaikkannya.
Meski begitu, akibat gangguan pasokan daya dan tekanan ekonomi tetap membayangi, terutama setelah blokade AS di Selat Hormuz meningkatkan tekanan terhadap Iran. Langkah ini dilakukan untuk membatasi akses pelayaran ke dan dari wilayah Iran.
Dengan ketegangan nan tetap tinggi, pasar memperkirakan kesempatan Federal Reserve memangkas suku kembang pada Desember tetap kecil, kurang dari 20 persen.
“Emas tetap diperdagangkan sebagai kegunaan dari ekspektasi suku bunga, bukan sebagai lindung nilai geopolitik, sehingga diuntungkan berbareng dengan saham lantaran angan de-eskalasi dalam semalam,” kata mahir strategi investasi di Global X ETFs Australia, Justin Lin, dikutip dari Bloomberg, Selasa (14/4).
Meski tekanan inflasi tetap membebani dalam jangka pendek, nilai daya nan tinggi dalam waktu lama bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi, nan secara historis justru berakibat positif bagi emas.
Secara keseluruhan, nilai emas tetap turun sekitar 10 persen sejak awal bentrok pada akhir Februari. Pada awal perang, banyak penanammodal menjual emas untuk menutup kerugian di aset lain akibat krisis likuiditas.
Pada perdagangan terbaru, nilai emas spot naik sekitar 0,5 persen ke level USD 4.764,30 per ons. Perak naik tipis 0,2 persen ke USD 75,73 per ons, sementara platinum dan paladium juga ikut menguat. Indeks dolar AS juga tercatat melemah tipis sekitar 0,1 persen.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·