Gish Gallop dan Terdistorsinya Cara Masyarakat Menilai Kebenaran di Media Sosial

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Ilustrasi penggunaan media sosial. Foto: Pixabay

Bayangkan Anda sedang menggulir media sosial, lampau menemukan sebuah unggahan opini nan tampak sangat meyakinkan seperti sebuah kebenaran ilmiah. Di kolom komentarnya, seseorang menuliskan argumen panjang dengan banyak poin tersusun rapi, komplit dengan istilah nan terkesan ilmiah dan klaim nan terdengar kredibel.

Namun, semakin dibaca, semakin susah untuk betul-betul memeriksa satu per satu kebenaran dari setiap klaim tersebut. Pada akhirnya, argumen tersebut terasa masuk akal, bukan lantaran sudah terbukti benar, melainkan lantaran jumlahnya nan banyak membuatnya susah diverifikasi secara menyeluruh, sehingga menciptakan kesan seolah didukung oleh dasar nan kuat.

Fenomena nan marak terjadi di media sosial ini bukan sekadar soal debat nan ramai alias perbedaan pendapat biasa. Dalam kajian argumentasi, kejadian seperti ini dikenal sebagai Gish Gallop, ialah praktik membanjiri obrolan dengan banyak argumen dalam waktu singkat, sehingga pihak lain tidak mempunyai cukup waktu untuk mengevaluasi setiap klaim secara kritis.

Ditambah lagi, tekanan dan perhatian dari para netizen nan ikut meminta penjelasan dengan sigap membikin pihak nan disudutkan terpaksa untuk segera menjawab tanpa berpikir lebih dalam. Alih-alih memperkuat kebenaran, praktik ini justru menciptakan ketimpangan antara produksi argumen dan keahlian untuk memverifikasinya.

Banjir Argumen dan Ketimpangan Verifikasi

Ketimpangan inilah nan menjadi inti masalah. Menghasilkan banyak klaim memang relatif mudah, tetapi memeriksa kebenarannya memerlukan waktu, usaha, dan pengetahuan.

Ilustrasi verifikasi. Foto: Shutterstock

Dalam konteks ini, proses verifikasi menjadi tidak sebanding dengan daya nan dibutuhkan untuk menyusun argumen tersebut. Akibatnya, obrolan tidak lagi melangkah sebagai proses pencarian kebenaran, tetapi berubah menjadi arena “adu jumlah” argumen.

Dalam praktiknya, kejadian ini sering terlihat pada utas panjang di media sosial nan memuat puluhan poin klaim dari satu alias banyak sumber nan tidak bisa dipertanggungjawabkan keilmiahannya. Sekilas, daftar tersebut tampak komprehensif lantaran panjang dan terstruktur, padahal banyak di antaranya hanya mengulang alias memvariasikan info nan belum tentu terverifikasi.

Media Sosial sebagai Ruang nan Mempercepat Distorsi

Di media sosial, kondisi ini menjadi semakin kompleks. Platform seperti X alias IG memungkinkan siapa saja untuk menyampaikan banyak klaim sekaligus, sering kali dalam satu utas panjang alias serangkaian komentar.

Tidak jarang ditemukan pengguna nan menuliskan puluhan “fakta” dalam satu thread (utas), misalnya mengenai rumor kesehatan alias persekongkolan tertentu. Sekilas, daftar tersebut tampak meyakinkan lantaran panjang dan sistematis. Namun, ketika ditelusuri lebih dalam, sebagian klaim tersebut rupanya berasal dari info nan dipilih secara selektif, interpretasi nan keliru, alias apalagi tanpa dasar nan jelas.

Situasi serupa juga sering muncul dalam kolom komentar. Seseorang dapat dengan mudah melontarkan beragam tuduhan alias pernyataan terhadap satu pihak dalam satu waktu. Pihak nan mau menanggapi dihadapkan pada beban nan tidak seimbang: untuk menjawab secara memadai, setiap poin perlu dianalisis dan diverifikasi.

Ilustrasi waktu. Foto: Haikal Pasya/kumparan

Namun, keterbatasan waktu dan perhatian membikin respons nan komprehensif menjadi susah dilakukan. Akibatnya, argumen nan banyak tersebut tampak “unggul”, bukan lantaran kualitasnya, melainkan lantaran jumlahnya.

Ketika Kuantitas Menggantikan Kualitas

Dalam kondisi seperti ini, keahlian kognitif manusia juga memainkan peran penting. Ketika dihadapkan pada terlalu banyak info sekaligus, perseorangan condong mengalami beban mental nan berlebihan saat memproses informasi.

Ketika beban ini meningkat, keahlian untuk berpikir secara sistematis dan kritis menurun. Bukannya mengevaluasi setiap klaim secara mendalam, perseorangan lebih mungkin menggunakan penilaian sigap berbasis kesan umum—apakah suatu argumen terlihat lengkap, runtut, dan meyakinkan.

Di titik inilah kecenderungan psikologis seperti illusory truth effect mulai berperan. Ketika suatu pendapat disampaikan berulang alias dalam jumlah banyak, pendapat tersebut condong terasa lebih benar, meskipun belum tentu mempunyai dasar nan kuat.

Dalam konteks Gish Gallop, banyaknya argumen dapat menciptakan kesan bahwa suatu posisi mempunyai legitimasi nan tinggi, padahal nan terjadi sebenarnya adalah pengulangan alias ragam dari klaim nan lemah.

Ilustrasi argumentasi. Foto: Shutterstock

Akibatnya, nan terdampak bukan hanya kualitas debat, melainkan juga langkah masyarakat menilai kebenaran itu sendiri. Kebenaran tidak lagi diukur berasas kekuatan bukti alias ketepatan penalaran, tetapi dari seberapa banyak klaim nan dapat diajukan alias seberapa dominan suatu narasi dalam percakapan. Pergeseran ini menunjukkan bahwa standar penilaian kebenaran tidak lagi sepenuhnya bertumpu pada kualitas bukti, tetapi juga pada dinamika penyampaian informasi.

Namun, krusial untuk dicatat bahwa Gish Gallop bukan satu-satunya aspek nan menyebabkan distorsi ini. Media sosial sebagai lingkungan komunikasi juga mempercepat penyebaran info dan memperpendek rentang perhatian pengguna.

Dalam ruang seperti ini, argumen nan sigap dan banyak sering kali lebih “menang” dibandingkan kajian nan mendalam tetapi memerlukan waktu. Dengan demikian, Gish Gallop dapat dipahami sebagai praktik nan mengeksploitasi kondisi tersebut, bukan sebagai penyebab tunggal.

Dalam menghadapi banjir info di media sosial, mungkin nan perlu dipertanyakan bukan hanya "Apa nan kita baca?" melainkan juga "Bagaimana kita menilainya?"

Apakah kita betul-betul mengevaluasi kebenaran sebuah klaim, alias sekadar terpengaruh oleh banyaknya argumen nan disajikan? Kesadaran atas langkah kita berpikir menjadi langkah awal untuk tidak terjebak dalam ilusi kebenaran nan diciptakan oleh jumlah semata.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan