Dirut Bulog Pastikan Harga Beras Tak Naik Meski Harga Plastik Kemasan Naik

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Petugas menata karung beras di Gudang Bulog Tambak Aji, Semarang, Jawa Tengah, Senin (6/4/2026). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO

Perum Bulog memastikan nilai beras tidak bakal mengalami kenaikan meski terjadi kelangkaan dan lonjakan nilai plastik bungkusan di pasaran akibat pasokan bahan baku plastik tersendat perang AS-Israel dengan Iran.

Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan sesuai pengarahan Presiden Prabowo Subianto dalam rapat nan digelar beberapa waktu lalu, pemerintah tidak bakal mengerek nilai beras.

“Tidak ada kenaikan nilai pangan, termasuk nilai beras. Jadi tidak ada kenaikan nilai pangan maupun nilai beras,” kata Rizal di Kantor Perum Bulog, Senin (13/4).

Menurut Rizal, posisi persediaan beras nan dikantongi Bulog saat ini dalam keadaan cukup dengan posisi di 4,7 juta ton. Dengan persediaan nan kuat, Rizal optimistis dapat menjaga stabilitas nilai beras di tengah beragam tekanan biaya produksi.

“Jadi kami yakinkan tidak ada kenaikan nilai pangan khususnya beras untuk masyarakat Indonesia,” jelasnya.

Rizal mengakui rumor kelangkaan plastik bungkusan menjadi tantangan, khususnya bagi produk-produk pangan nan memerlukan pengemasan, seperti beras SPHP dan support pangan. Menurut dia, kondisi ini turut berakibat pada biaya operasional Bulog.

kumparan post embed

Bulog telah menggelar rapat dewan untuk menyikapi kenaikan nilai bahan baku plastik. Dalam rapat tersebut, Bulog mengambil sejumlah kebijakan, termasuk memberikan elastisitas penyesuaian di wilayah agar tetap mengikuti kondisi pasar nan berlaku.

Selain itu, Bulog juga telah berkoordinasi dengan Kementerian Perindustrian guna mendapatkan keringanan nilai bahan kemasan.

“Namun kami juga sudah berkoordinasi juga kepada Kementerian Perindustrian agar kami juga memberikan keringanan lantaran nan kita kemas ini kan banyak produk-produk untuk masyarakat, bantuan-bantuan pangan, beras SPHP dan lain sebagainya,” jelasnya.

Dia berambisi Bulog bisa mendapatkan nilai terbaik nan paling rendah, namun tidak menurunkan kualitas dari bungkusan nan dibuat.

Dia mengakui kenaikan nilai plastik sempat meningkatkan biaya produksi. Namun, Bulog telah melakukan penyesuaian Harga Perkiraan Sendiri (HPS) dengan tetap menekan biaya seminimal mungkin agar tidak membebani nilai jual.

“Jadi kami kemarin sudah rapat direksi. Jadi HPS-nya disesuaikan dengan kondisi seperti itu. Namun dengan nilai nan betul-betul, nan seminimal mungkin untuk menekan agar cost-nya tidak terlalu tinggi,” tutupnya.

RI Mau Ekspor Beras ke Malaysia 200 Ribu Ton

petugas Bulog memperlihatkan beras SPHP bungkusan lima kilogram di Gudang Bulog Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Minggu (1/2/2026). Foto: Jessica Wuysang/ANTARA FOTO

Dengan posisi persediaan saat ini, Rizal menyebut Indonesia juga tengah dalam penjajakan untuk mengekspor beras ke Malaysia.

Dia menyebut salah satu anak buahnya telah berangkat ke Malaysia dalam upaya penjajakan ekspor beras sebanyak 200 ribu ton.

"Bahkan kemarin salah satu kepala kami juga diminta berangkat ke Malaysia lantaran Malaysia ada permintaan impor beras tidak kurang dari 200 ribu ton, ini cukup besar jumlahnya. Nah, sekarang sedang dijajaki," imbuh Rizal.

Dia berharap, Indonesia bisa menjajaki ekspor beras ke negara-negara tetangga selain dengan Malaysia.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan