Di Antara Cilok dan Buku: Raja Sinaga Nyalakan Literasi di Taman Cikapayang

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Buku nan dijajakan di lapak baca kitab cuma-cuma milik Raja Sinaga di Taman Cikapayang Dago, Kota Bandung, Selasa (14/4/2026). Foto: Abisatya Ramdhani/kumparan

Malam perlahan turun di Taman Cikapayang Dago, Bandung. Di tengah hiruk-pikuk kendaraan dan lampu kota nan temaram, seorang laki-laki tampak sibuk melayani pembeli cilok. Namun, ada nan berbeda dari lapaknya, di samping gerobak sederhana itu, tersusun rapi kitab nan bebas dibaca siapa saja.

Dia adalah Raja Saud Martua Sinaga, alias berkawan disapa Raja Sinaga. Pria berumur 26 tahun ini bukan sekadar penjual cilok biasa. Sembari jualan, dia juga membuka lapak baca kitab cuma-cuma nan sekarang menarik perhatian banyak orang.

Raja bukan orang original Bandung. Ia lahir dan besar di Majalengka dari family berdarah Batak. Sudah dua tahun terakhir dia merantau ke Kota Kembang, sekaligus memulai usahanya sebagai pedagang cilok.

“Di Bandung udah dua lebaran, ya sekitar dua tahunan,” ujarnya saat ditemui, Selasa (14/4).

Raja Sinaga, penjual cilok nan juga membuka lapak baca kitab cuma-cuma untuk pelanggannya di Taman Cikapayang Dago, Kota Bandung, Selasa (14/4/2026). Foto: Abisatya Ramdhani/kumparan

Awalnya, dia hanya berdagang seperti biasa, beranjak dari satu titik ke titik lain. Namun kebiasaan mini mengubah segalanya. Raja doyan membaca, apalagi saat berjualan. Buku selalu menemaninya di sela waktu menunggu pembeli.

“Setiap jualan saya suka bawa buku. Kalau lagi sunyi ya baca. Tapi orang-orang malah sering nanya, ‘Aa kuliah ya?’ alias ‘Aa sembari kuliah?’,” ucapnya sembari tersenyum.

Dari situ, dia menangkap adanya persepsi bahwa membaca kitab identik dengan kalangan tertentu. “Seolah-olah nan baca kitab itu punya tingkatan,” tutur Raja.

Pertanyaan-pertanyaan itu membikin Raja berpikir. Ia merasa ada jarak tak kasat mata antara kitab dan masyarakat. Dari situlah buahpikiran sederhana muncul: membuka akses membaca bagi siapa saja, tanpa sekat.

Raja Sinaga, penjual cilok nan juga membuka lapak baca kitab cuma-cuma untuk pelanggannya di Taman Cikapayang Dago, Kota Bandung, Selasa (14/4/2026). Foto: Abisatya Ramdhani/kumparan

Ide itu akhirnya direalisasikan. Lapak baca lampau mulai dia buka saat Ramadan tahun lalu. Bersamaan itu, Raja memutuskan tidak lagi berkeliling dan memilih menetap di satu letak hingga malam.

"Daripada nunggu sampai subuh hanya main HP, ya mending bawa buku. Kayaknya kitab nan di kontrakan menarik buat dibawa,” ungkap dia.

Awalnya hanya koleksi pribadi. Namun perlahan, buku-buku mulai bertambah dari bantuan teman-temannya. Meski begitu, Raja tak sembarangan menerima sumbangan.

“Yang mau bantuan itu banyak, tapi banyak juga nan saya tolak. Saya enggak mau ini jadi aji mumpung lantaran lagi ramai,” katanya.

Ia juga tetap membeli kitab baru dengan duit dari koceknya sendiri.

“Saya baru kemarin beli empat buku. Jadi tetap ada upaya dari saya juga,” ujar dia.

Lapak baca Raja buka setiap malam, sekitar pukul 19.00 hingga tengah malam, kemudian menutup lapak kitab dan bergeser ke letak selanjutnya di dekat sebuah klub malam. Sebelum itu, dia tetap berdagang cilok di beberapa titik.

Kini, aktivitasnya lebih terfokus di area Dago.

“Dulu saya punya empat titik jualan, sekarang jadi dua. Jadi seumpama penghasilan saya itu tetap tidak terganggu, makanya saya tetap bisa ngelapak buku,” jelasnya.

Raja Sinaga, penjual cilok nan juga membuka lapak baca kitab cuma-cuma untuk pelanggannya di Taman Cikapayang Dago, Kota Bandung, Selasa (14/4/2026). Foto: Abisatya Ramdhani/kumparan

Soal penghasilan, Raja mengaku tidak menentu. Namun dia berterima kasih hasil jualan cilok tetap mencukupi kebutuhan sehari-hari.

“Kalau dibilang cukup, ya cukup. Nggak rame banget, nggak sunyi banget. Buat makan ya alhamdulillah,” ungkap Raja.

Di sisi lain, lapak mini ini mulai memberi dampak. Umar Fajar (17), siswa SMA nan datang lantaran memandang video di media sosial, mengaku langsung tertarik.

“Jarang banget lihat tukang cilok sembari buka lapak buku. Ini pertama kali saya lihat,” kata Umar.

Umar Fajar, pengguna nan membeli cilok dan membaca kitab di lapak baca kitab cuma-cuma milik Raja Sinaga di Taman Cikapayang Dago, Kota Bandung, Selasa (14/4/2026). Foto: Abisatya Ramdhani/kumparan

Ia datang berbareng temannya setelah memandang video nan beredar di media sosial. “Saya tahu dari reels, terus langsung pengen ke sini,” ungkapnya.

Malam itu, Umar tampak enak-enak membaca kitab berjudul 'Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat'. Ia menilai koleksi kitab di lapak tersebut cukup menarik.

“Bukunya bagus-bagus, banyak nan tentang sosial, politik, sejarah. Itu nan saya suka,” ujarnya.

Penjual cilok nan juga membuka lapak baca kitab cuma-cuma untuk pelanggannya di Taman Cikapayang Dago, Kota Bandung, Selasa (14/4/2026). Foto: Abisatya Ramdhani/kumparan

Meski jumlah kitab belum terlalu banyak, kualitasnya dinilai cukup baik oleh para pengunjung. Lapak ini pun menjadi ruang pengganti bagi anak muda untuk membaca di tengah suasana kota.

Kini, di antara asap cilok nan mengepul dan bunyi kendaraan nan berlalu lalang, lembar demi lembar kitab terus dibuka. Raja Sinaga mungkin hanya seorang pedagang kaki lima. Namun dari lapak kecilnya, dia menyampaikan pesan sederhana, bahwa membaca kitab bukan hanya untuk kalangan tertentu melainkan untuk siapa saja.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan