Siang itu, udara Lembang tetap sejuk ketika mesin bus berbasis Mercedes-Benz dinyalakan. Tidak ada nan betul-betul berbeda dari tampilan luarnya kursi, kabin, hingga bunyi mesin terdengar familiar. Tapi hari itu, perjalanan nan ditempuh bukan sekadar lintasan Lembang–Cirebon. Ini adalah uji rasa, uji mesin, sekaligus uji keyakinan: gimana bahan bakar biodiesel 50 persen (B50) bekerja di jalan nyata.
Perjalanan dimulai dari Lembang menuju Cirebon. Empat jam pertama terasa seperti perjalanan antarkota biasa melewati Pasteur, masuk tol Cikampek, hingga keluar di jalur pantura menuju Cirebon. Namun di kembali laju roda, ada sesuatu nan diuji ialah campuran biodiesel 50 persen nan mulai diproyeksikan menjadi standar nasional.
Di kembali kemudi, Atang, pengemudi bus nan sudah tiga bulan menjajal B50, berbagi kesannya. Ia tidak bicara dalam angka-angka teknis. Tidak ada diagram konsumsi alias komparasi liter per kilometer. nan ada adalah pengalaman langsung di jalan mulai dari tarikan mesin, respons pedal, dan rasa kendaraan saat menanjak alias melaju di tol panjang.
“Kalau masalah tarikan enak,” kata Atang.
Bus terus melaju, stabil, tanpa indikasi tersendat. Bagi Atang, nan sudah terbiasa dengan beragam jenis bahan bakar biodiesel sebelumnya, perbedaan justru terasa sebagai perbaikan bertahap.
“Dari nan B30 ke B50 ini jauh lebih ringan, lebih ringan. Jadi tiap tahap itu lebih bagus. Lebih enak,” ungkapnya.
Perjalanan mencapai Cirebon setelah sekitar empat jam. Di sini, bus berakhir bukan sekadar untuk istirahat, tapi juga mengisi bahan bakar. Momen ini menjadi bagian krusial dari uji coba: gimana pengisian, gimana respons mesin setelah perjalanan panjang.
Tak lama setelah itu, perjalanan berbalik arah. Empat jam berikutnya membawa rombongan kembali ke Lembang, melewati rute nan sama, kembali menembus jalur Subang dengan tanjakan nan menguji performa mesin.
Di sepanjang perjalanan, Atang menegaskan bahwa dari sisi operasional, dia tidak merasakan perbedaan signifikan dibanding bahan bakar sebelumnya, setidaknya dalam perihal keandalan mesin.
“Saya bilang bagus, enak, itu nggak ada sama sekali endapan selama saya pakai ini. Normal-normal aja,” kata dia.
Di level kebijakan, pengalaman di jalan itu menjadi bagian mini dari pengetesan besar nan sedang dilakukan pemerintah. Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menjelaskan bahwa uji coba B50 tidak hanya dilakukan pada bus, tetapi lintas sektor dan lintas jenis kendaraan.
“Sembilan (kendaraan) diuji coba. Dan kali ini pabrikannya bukan hanya pabrikan Jepang, pabrikan Eropa juga ikut,” kata Eniya.
Uji coba ini mencakup kendaraan penumpang hingga kendaraan berat, apalagi merambah sektor lain seperti pertanian, tambang, hingga maritim.
Tak hanya jumlah kendaraan, kualitas bahan bakar juga menjadi perhatian. Menurut Eniya, hasil uji sementara menunjukkan performa nan tetap sesuai dengan klaim pabrikan.
“Jadi jika klaimnya 11 ini tadi 11,04 gitu. Jadi angkanya malah berubah hanya di dua digit terakhir. Jadi sesuai klaim pabrikan malahan,” ungkapnya.
Target besar dari seluruh pengetesan ini adalah penerapan nasional pada 1 Juli 2026. “Insyaallah sesuai dengan iya sesuai dengan pengarahan bisa 1 Juli,” tuturnya.
Lebih jauh, program B50 juga diarahkan untuk menekan ketergantungan impor energi. Dengan sebagian kebutuhan bahan bakar digantikan oleh biodiesel berbasis sawit, pemerintah memandang kesempatan penghematan devisa sekaligus penguatan ketahanan energi. Hingga April 2026, penyaluran biodiesel sudah mencapai sekitar 3,90 juta kiloliter alias 24,9 persen dari alokasi tahunan.
Jika penerapan B50 melangkah penuh mulai Juli, penghematan devisa diproyeksikan meningkat menjadi Rp 157,28 triliun pada 2026. Di saat nan sama, program ini juga diperkirakan menyerap lebih dari 2,2 juta tenaga kerja serta menurunkan emisi hingga 46,72 juta ton CO₂.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·