Dengan bunyi bergetar dan emosi nan tak tertahan, Clara Shinta mengungkapkan luka terdalam nan dia rasakan setelah mengetahui dugaan perselingkuhan suaminya.
“Istri mana sih nan bisa sanggup… memandang ada wanita lain bertelanjang di depan suami saya?” ucap Clara, menahan tangis di hadapan awak media, Selasa (14/4).
Pernyataan itu menjadi gambaran sungguh besar guncangan emosional nan dia alami. Clara mengaku mengetahui kejadian tersebut dari tangkapan layar nan ditemukan di ponsel suaminya, sebuah momen nan langsung mengubah hidupnya.
Menurut Clara, reaksi spontan nan kemudian membuatnya mempublikasikan kejadian itu ke media sosial terjadi di luar kendali dirinya. Ia mengakui perihal tersebut sebagai kesalahan, namun juga menegaskan bahwa kondisi mentalnya saat itu sedang tidak stabil.
“Saya sedih, saya marah, saya sakit sekali. Tidak ada nan normal setelah kejadian itu,” ujar Clara nan didampingi kuasa norma Sunan Kalijaga.
Lebih dari sekadar bentrok pasangan, Clara menyebut akibat emosional ini menjalar ke seluruh aspek kehidupannya. Ia mengaku kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari, apalagi ibadah pun tak lepas dari bayang-bayang kejadian tersebut.
Yang paling berat, menurut Clara, adalah dampaknya terhadap anak-anak.
“Mereka tidak mengerti apa-apa, tapi mereka pasti merasakan. Mereka tanya, ‘Papa di mana?’” katanya.
Meski telah memberikan maaf, Clara mengakui bahwa kepercayaan nan hancur tidak mudah untuk diperbaiki. Luka nan dia rasakan bukan hanya soal pengkhianatan, tetapi juga runtuhnya fondasi family nan selama ini dia jaga.
Ironi Clara Shinta: Psikis Terganggu, Malah Kena Somasi Miliaran
Di tengah kondisi mental nan tetap terguncang, Clara Shinta justru menghadapi tekanan baru. Ia menerima surat gugatan dengan tuntutan tukar rugi mencapai Rp10,7 miliar dari seorang wanita berjulukan Indah.
Somasi tersebut dikirim melalui kuasa norma dan menyebut adanya kerugian psikis serta akibat terhadap pekerjaan pihak pelapor akibat unggahan Clara di media sosial.
Situasi ini disebut kuasa norma Clara, Sunan Kalijaga, sebagai corak ketidakadilan.
“Kalau bicara kerugian, pengguna kami justru nan paling dirugikan. Rumah tangganya hancur, anak-anak terdampak, psikis terganggu, apalagi pekerjaannya ikut terkena imbas,” jelas Sunan.
Clara sendiri mengaku terkejut dengan tuntutan tersebut. Ia merasa apa nan dilakukannya adalah reaksi spontan dari kondisi emosional nan tidak stabil, bukan upaya untuk mencari untung alias popularitas.
“Saya tidak butuh viral dari kasus ini,” tegasnya.
Ironinya, di saat dia mencoba menenangkan diri dan memilih tidak mengambil pekerjaan demi menjaga empati terhadap situasi, justru muncul tuntutan norma dengan nilai fantastis.
Kuasa norma Clara memastikan bakal menanggapi gugatan tersebut secara resmi, sekaligus mempertimbangkan langkah norma balik. Menurut Sunan, jika perkara ini bersambung ke ranah hukum, semua pihak nan terlibat berpotensi menghadapi akibat nan sama.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·