Bagi sebagian visitor Muslim, Jepang kerap dianggap sebagai destinasi nan menantang dalam perihal ibadah. Namun, pengalaman seorang traveler Indonesia, Lia, justru menunjukkan perihal sebaliknya.
Sudah lima kali mengunjungi Jepang, terakhir pada Januari lalu, dia merasa semakin nyaman, termasuk dalam menjalankan ibadah selama perjalanan. Meskipun saat ini, ribuan penduduk Jepang turun ke jalan di Kota Fujisawa, Prefektur Kanagawa, Jepang, tengah memprotes rencana pembangunan masjid besar di wilayah tersebut.
"Jepang itu punya pesona sendiri," cerita Lia kepada kumparan, ketika ditanya argumen memilih Jepang.
Meski biaya transportasi tergolong mahal, kenyamanan nan ditawarkan membuatnya selalu mau kembali. Hal-hal sederhana seperti duduk santuy di taman sembari menikmati makanan dari minimarket justru memberinya rasa tenang dan "recharge" energi.
Ditambah lagi, kuliner Jepang nan cocok di lidah, serta keramahan penduduk lokal, nan tetap membantu meski kudu berkomunikasi lewat aplikasi translator menjadi nilai lebih tersendiri.
Selama perjalanannya, Lia telah menjelajahi beragam kota di Jepang, seperti Tokyo, Osaka, Kyoto, Kobe, Kanazawa, Toyama, hingga Shirakawa-go. Masing-masing kota memberikan pengalaman berbeda. Tokyo dengan nuansa metropolitan modern, Kyoto nan kaya budaya, hingga Shirakawa-go nan memikat dengan suasana musim dingin.
Menariknya, soal ibadah bukanlah perihal nan susah bagi Lia. Ia mengandalkan aplikasi Halal Gourmet Japan untuk mencari restoran halal, sekaligus memeriksa kehalalan makanan dengan memindai barcode.
"Aplikasi itu ngebantu banget, jadi saya bisa tahu mana makanan nan kondusif dan juga nemuin restoran legal terdekat," ujarnya.
Di kota-kota besar seperti Tokyo, Osaka, dan Kobe, akomodasi untuk Muslim tergolong memadai. Banyak restoran legal nan apalagi menyediakan ruang ibadah, sehingga dia bisa langsung menunaikan salat tanpa kudu mencari tempat lain.
Namun, tantangan tetap ada, terutama saat berada di kota, seperti Kanazawa dan Toyama nan pilihan restoran halalnya tetap terbatas.
Meski begitu, keterbatasan tersebut tidak menjadi penghalang. Lia punya langkah sendiri untuk tetap beribadah.
"Kalau lagi susah, saya biasanya cari perspektif stasiun alias taman, terus tayamum dan salat sembari duduk," kata Lia.
Fleksibilitas dan niat nan kuat membuatnya tetap bisa menjalankan tanggungjawab di mana pun berada.
Hal lain nan dia rasakan adalah lingkungan Jepang nan cukup ramah bagi visitor Muslim. Selama beberapa kali kunjungan, Lia mengaku tidak pernah mengalami diskriminasi.
"Saya memegang prinsip sederhana nan didapat dari sesama traveler, ialah membawa daya positif bakal menarik hal-hal positif di sekitar," ungkap tenaga kerja swasta ini.
Pengalamannya menunjukkan bahwa Jepang sekarang semakin terbuka dan mendukung kebutuhan visitor Muslim, terutama di kota-kota besar. Dengan persiapan nan tepat, mulai dari aplikasi pendukung hingga perencanaan perjalanan ibadah tetap bisa dilakukan dengan nyaman.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·