Cerita Jemaah Asal Kudus yang Sudah 12 Kali Haji soal Pelayanan Haji

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Jemaah haji asal Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Ahmad Hamdani. Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

Pelayanan haji bagi jemaah Indonesia setiap tahunnya selalu mengalami perubahan. Berbagai hambatan nan dialami jemaah setiap tahunnya diperbaiki oleh pemerintah.

Salah satunya disampaikan oleh Ahmad Hamdani (59 tahun). Jemaah asal Kudus ini mengaku sudah 12 kali berhaji. Tepatnya pada 1990 hingga 1998. Lalu, bersambung di 2006, 2009, dan 2012.

"Di tahun 1990 sampai 1998 itu saya kuliah S1 dan S2 di Arab Saudi dan Pakistan. Sehingga saya bisa berhaji setiap tahun. Kemudian berhaji lagi di tahun 2006, 2009, dan 2012," katanya saat ditemui kumparan, Selasa (14/4).

Ia mengambil S1 bidang syariah di Universitas Islam Madinah, Arab Saudi. Kemudian melanjutkan studi S2 di International Islamic University Islamabad Pakistan.

Selama 12 kali berhaji itu, dia merasakan beragam dinamika pelayanan ibadah haji. Salah satunya kejadian di terowongan Mina pada 1990. Ia menjelaskan, saat itu terowongan Mina hanya ada satu. Sehingga arah masuk Mina dan keluar Mina berjubel di satu titik.

"Makanya ada berita kan di tahun 1990 itu ada kejadian nan disebut peristiwa Mina. Banyak jemaah nan wafat lantaran berdempetan di terowongan," terangnya.

Semenjak ada tragedi itu, terowongan Mina diperbanyak menjadi dua, ialah terowongan bagi jemaah masuk ke Mina dan terowongan bagi jemaah keluar.

Suasana di terowongan Mina nan dilalui jemaah haji sebelum melempar jumrah, Jumat (6/6). Foto: Moh Fajri/kumparan

Pelaksanaan haji di 1990 daftar tunggunya tidak terlalu lama. Pemberangkatan haji tak lebih dari tiga bulan masa tunggunya terhitung sejak daftar haji.

"Calon jemaah haji daftar, tiga bulan berikutnya bisa berangkat. Artinya daftar di tahun ini ya berangkat di tahun ini. Kalau sekarang semakin lama daftar tunggunya," terangnya.

Sepengetahuannya, daftar jemaah haji baru muncul pada 2008. Saat itu, daftar tunggunya tetap dua tahun. Seiring berjalannya waktu daftar tunggu semakin lama.

Menurutnya, persoalan haji nan paling sering muncul di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), ialah ketika puncak rangkaian ibadah haji di Arab Saudi. Permasalahan nan muncul berupa sulitnya transportasi, ukuran tenda nan mini dan kesiapan makanan.

Hal terbaru nan sering diperbincangkan, ialah syarikah haji alias pihak swasta nan memberikan akomodasi bagi jemaah sering menyulitkan. Sebab, jemaah dalam satu kloter rupanya bisa beda syarikah. Sehingga jemaah dalam satu kloter bisa beda rombongan ketika sudah berada di tanah suci.

"Ini kan menyulitkan, misalnya jemaah lansia berangkat dengan anaknya satu kloter. Ternyata mereka di tanah suci beda syarikah. Imbasnya mereka terpisah selama melaksanakan ibadah haji," ucapnya.

Bus nan mengangkut jemaah haji nan lakukan murur di Muzdalifah. Foto: Moh Fajri/kumparan

Ia mengapresiasi langkah pemerintah nan mencoba untuk melakukan perbaikan setiap tahunnya. Salah satu contohnya mengenai transportasi bus nan sudah teragendakan per gelombang sekali angkut. Selain itu hanya armada bus nan sudah berizin saja nan diperbolehkan masuk ke area Makkah, Mina, Musdalifah, dan Arafah.

"Ketersediaan toilet dan katering juga ada perubahan ke arah nan lebih baik. Walaupun saat ini jumlah toilet belum meng-cover banyak jemaah. Antrean panjang tetap kerap ditemui," ujarnya.

Ahmad Hamdani berambisi penyelenggaraan ibadah haji di tahun 2026 semakin baik. Sehingga memudahkan jemaah haji.

"Harapan kami jemaah haji lebih dimudahkan ibadah hajinya di tahun 2026 ini," imbuhnya.

Hal senada diutarakan oleh jemaah lainnya, Zulfa Kurniawan (50). Ia berangkat berhaji pada 2023 silam dan tergabung di kloter 86 embarkasi Solo.

Ada beberapa pelayanan nan menurutnya perlu ditingkatkan. Salah satunya ukuran tenda di Mina nan lebih mini dibandingkan dengan ukuran tenda bagi jemaah haji saat berada di Arafah.

"Akhirnya beberapa jemaah ada nan tidur di luar tenda lantaran tendanya tidak muat," kata Zulfa.

Jemaah haji asal Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Zulfa Kurniawan menunjukkan foto dirinya berbareng istri saat menunaikan ibadah haji di tahun 2023. Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

Keluhan lainnya menurutnya petugas haji Indonesia terkadang baru pertama kali berhaji. Sehingga kurang menguasai kondisi di lapangan. Kendalanya berupa komunikasi bahasa ketika berkoordinasi dengan petugas haji di Arab Saudi.

Kloternya juga merasakan molornya agenda penjemputan bus selama dua jam. Seharusnya, Zulfa Kurniawan berbareng rombongan beranjak dari Musdalifah ke Mina pukul 03.00 waktu setempat. Namun, bus baru menjemput selepas salat Subuh dikarenakan adanya kepadatan.

Selebihnya, menurutnya pelayanan haji sudah baik. Ketersediaan makanan juga dilayani tiga kali dalam sehari. Selain itu hotel nan disediakan untuk jemaah haji nyaman untuk beristirahat.

"Semoga di 2026 ini pelayanan haji semakin baik," imbuhnya.

Jemaah haji lain, Mohamad Rif'an, juga mempunyai pengalaman selama menjalani haji di 2011 dan 2025. Rif'an di 2011 tergabung berbareng kloter 80, sedangkan di 2025 tergabung di kloter 47 embarkasi Solo.

Umat Islam memadati Jabal Rahmah saat melaksanakan Wukuf di Arafah, Makkah, Arab Saudi, Kamis (5/6/2025). Foto: Khaled Abdullah/REUTERS

Pada saat berhaji di 2011, menurutnya tenda bagi jemaah haji di Arafah belum layak lantaran rawan tumbang ketika tertiup angin. Kemudian, persoalan makanan seperti katering di 2025 sudah semakin baik.

"Pemberian makanan bagi jemaah haji di 2011 menggunakan sistem prasmanan sehingga rentan rebutan. Berbeda dengan 2025 nan pemberian makanan sudah per porsi sehingga lebih adil," kata Rif'an.

Menurutnya perlu ada pembenahan bagi petugas haji. Ia beranggapan petugas haji kloter banyak nan belum memahami kondisi lapangan. Mereka nan belum mengerti kondisi lapangan kebanyakan petugas haji nan baru pertama kali bertugas. Sehingga kerap miskomunikasi ketika mengkoordinasikan para jemaah.

"Contohnya, petugas kloter tidak memahami agenda keberangkatan jemaah haji ke Arafah. Padahal, agenda jemaah ke Arafah itu berbeda-beda. Seharusnya jemaah diberi tahu agenda keberangkatan ke Arafah sejak awal agar jemaah tidak tergesa-gesa," terangnya.

Hal lain nan menurut dia perlu dibenahi ialah persoalan syarikah haji nan menyulitkan jemaah. Sebab, beberapa jemaah kudu terpisah dengan kloternya ketika sudah berada di tanah suci lantaran sudah berbeda syarikah.

Jamaah haji melangkah usai melempar jamrah hari kedua di Jamarat, Mina, Arab Saudi, Kamis (29/6/2023). Foto: ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

Selebihnya, menurut Rif'an pelayanan bagi jemaah haji sudah bagus. Ketersediaan armada bus untuk jemaah nan selesai melaksanakan lempar jamrah telah tersedia. Kondisi ini menurutnya berbeda dengan tahun sebelumnya, pengaturan jasa bus ketika belum tertata dengan baik menyebabkan suasana penuh sesak.

Hotel tempat menginap bagi para jemaah haji juga sudah representatif. Ketersediaan air mineral untuk satu jemaah dirasa cukup untuk kebutuhan satu bulan.

"Pelayanan untuk jemaah haji disabilitas dan lansia juga bagus. Layanan kesehatan juga disediakan. Termasuk posko kesehatan juga disediakan di hotel," imbuhnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan