Capung Asiagomphus melaenops Punya Mata "Inframerah" untuk Mengenali Pasangan

Sedang Trending 6 hari yang lalu
Ilustrasi mata capung, Sumber: Gemini AI

Pernahkah Anda membayangkan gimana bumi terlihat di mata seekor capung? Selama ini kita tahu capung adalah predator udara nan hebat, namun penelitian terbaru mengungkap bahwa mereka mempunyai keahlian penglihatan nan jauh lebih canggih ialah keahlian untuk memandang hingga spektrum inframerah dekat.

​Rahasia di Balik Mata Merah

Warna warni bumi nan kita lihat ditentukan oleh protein di mata berjulukan opsin. Peneliti dari Osaka Metropolitan University menemukan bahwa capung jenis Asiagomphus melaenops memiliki opsin unik berjulukan RhLWA2 nan sangat sensitif terhadap sinar merah. Jika manusia hanya bisa memandang warna merah hingga pemisah tertentu, capung ini bisa menangkap gelombang sinar nan lebih panjang, mencapai area inframerah dekat (near-infrared).

​Temuan nan dipublikasikan dalam jurnal Cellular and Molecular Life Sciences ini menunjukkan bahwa opsin Am_RhLWA2 milik capung tersebut adalah opsin merah paling sensitif nan pernah ditemukan pada hewan sejauh ini.

​Evolusi nan Berjalan Beriringan

Menariknya, sistem kimia nan membikin mata capung ini sangat sensitif terhadap warna merah rupanya sangat mirip dengan sistem nan ada pada manusia dan mamalia lainnya. Peneliti menemukan adanya kesamaan posisi masam amino (posisi 292) nan bertanggung jawab atas pergeseran warna ini. Ini adalah contoh luar biasa dari "evolusi paralel", di mana alam menemukan solusi nan sama untuk dua jenis makhluk hidup nan sangat berbeda.

​"Kami menemukan bahwa substitusi masam amino pada posisi tertentu meningkatkan sensitivitas merah capung hingga mencapai wilayah inframerah dekat," jelas tim peneliti dalam laporannya.

​Mengapa Harus Melihat "Inframerah"?

Pertanyaan besarnya adalah: untuk apa keahlian ini? Peneliti menduga bahwa sensitivitas ekstrem terhadap sinar merah ini memberikan untung besar bagi capung dalam mengenali pasangan alias musuh jenis melalui pantulan warna tubuh mereka. Di tengah rimbunnya rimba alias pantulan air, keahlian membedakan spektrum warna merah nan lembut membantu mereka memperkuat hidup dan bereproduksi.

​Selain mengungkap rahasia alam, penemuan ini juga membuka kesempatan besar di bagian teknologi medis. Karena sinar inframerah dapat menembus jaringan tubuh manusia lebih dalam dibandingkan sinar biasa, opsin dari capung ini bisa dimodifikasi menjadi perangkat "optogenetik" teknologi nan menggunakan sinar untuk mengontrol aktivitas sel di dalam tubuh tanpa pembedahan.

Referensi

Sato, R., Terakita, A. & Koyanagi, M. Dragonfly red opsins share a common tuning mechanism with mammalian red opsins and further enhancement of near-infrared sensitivity. 2026. Cell. Mol. Life Sci. 83, 66. doi: 10.1007/s00018-025-06017-9.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan