Keputusanmu menyingkir ke Malang bukan tanpa alasan, kau mau mengambil jarak atas fase kehidupan nan selama ini sebagian besar kau habiskan di Bandung, tentu juga kadang-kadang di Subang, kotamu.
Jarak antara Bandung dengan Malang cukup jauh namun nuansanya tetap tetap sama. Kedua kota itu selalu diglorifikasi sebagai kota kenangan. Perantau nan datang bakal jatuh hati acapkali dan mustahil lepas dari pelukannya.
Sesampai di Malang, saya mau mengirimimu beberapa potongan puisi, tentu dari para pujangga favoritmu. Ada dua nan tak mungkin luput, WS Rendra dan Sapardi Djoko Damono, kadang-kadang kau juga terhanyut dalam diksi-diksi Widji Tukul.
Aku sedang menikmati kumpulan puisi WS Rendra Blues, untuk Bonnie. Segera kuketik potongan puisi dan kukirimkan via pesan whatsapp;
Sambil menyeberangi sepi
kupanggil namamu, wanitaku.
Apakah kau tak mendengarku?
Di Malang, kau memilih area kampus UMM sebagai tempat tinggal. Kau tidak pernah mau jauh dari suasana kampus lantaran menurutmu, lingkungan kampus selalu punya langkah tersendiri merawat idealisme kaum muda.
Kau semakin progresif dengan pemikiran nan melampaui apa nan saya bayangkan sebelumnya. Kau mengirimkan link tulisanmu tentang hasil diskursus nan kau tekuni kemudian memintaku untuk merespons.
Ada nan kusepakati namun sebagian betul-betul membuatku terpengarah, kau telah menjadi Kirana nan betul-betul berbeda dari seorang gadis polos nan kutemui di dalam kelas.
Akhirnya saya merespons permintaanmu dan kau membikin sebuah website nan memungkinkan saya membikin tulisan jawaban atas setiap perspektifmu, tentang apapun.
Kau menamakan laman itu dengan titel besar "(Bukan) Surat-Surat Cinta."
Entahlah, mungkin kau menafsirkan bahwa kita saling berkirim surat namun bukan tentang surat cinta, namun menarik juga membaca hasil reflektifmu tentang pertanyaan eksistensial nan kau artikulasikan secara frontal.
Pada beberapa bagian, saya merasa sedikit kewalahan untuk merespons tulisanmu sehingga memaksaku untuk membuka beberapa kitab referensi lama untuk menguatkan apa nan kudu kusampaikan.
Kita mulai pada surat pertama tentang kegundahanmu menyaksikan setiap indikasi sosial, namun tentu apa nan kutulis kembali di sini tidak seutuhnya, lantaran kau menulis sangat panjang.
"Jika Tuhan Ada, Kenapa para pejabat korup tidak pernah kena musibah sementara golongan termarjinalkan terhempas bertubi-tubi?"
Sekian puluh kali saya mendengar pertanyaan nan serupa sejak dua puluh tahun silam ketika tetap kuliah namun satu perihal nan kupahami bahwa jawaban dari pertanyaan itu buka kata-kata tetapi perjalanan hidup.
Itulah kenapa saya tidak berupaya terlalu keras untuk membalas pertanyaanmu dengan jawaban retoris. Aku menyadari bahwa fase kehidupan nan sedang kau jalani mengharuskanmu untuk bertanya seperti itu.
Jawabannya bakal kau temukan di setiap perjalanan hidupmu sepanjang niatanmu memang mencari kebenaran.
Kau tahu, prinsip nan saya pegang dan mungkin terdengar konvensional ialah ketika niatmu baik dan tulus dalam suatu perihal maka sigap alias lambat, kau bakal dipertemukan dengan semua tanya di kepalamu.
Aku percaya itu, hanya saja kita manusia seringkali tidak otentik dalam hidup. Kita terkadang mengikuti arus sementara masing-masing manusia mempunyai keunikannya.
Ada nan menemukan kebenaran melalui hati, pun ada nan jalannya kudu logis maka perihal pertama nan kudu kau pastikan bahwa apa nan kau jalani sekarang adalah memang betul-betul otentik dari dalam dirimu.
Serius, ini bukan omong kosong nan saya sampaikan tetapi refleksi mendalam atas apa nan kujalani selama ini. Aku merasa sudah cukup tua, tentu lantaran tidak lama lagi, saya bakal mencapai separuh abad jika semesta mengijinkan.
Setelah topik tentang eksistensi Tuhan, kau tidak mengirimkan lagi suratmu dalam waktu lama. Mungkin suratku tidak sampai alias kau merasa tidak ada gunanya obrolan denganku masalah hal-hal ontologi, tentang prinsip sesuatu.
Hanya satu pesanku bahwa hidup itu adalah masalah, jadi jika tidak mau mau ada masalah dalam hidupmu maka berangkatlah menuju kematian.
Baca bagian sebelumnya dari series tentang Kirana: Braga Kehilangan Kirana (5)
13 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·