Vivi menjabarkan, selain pada Agustus dengan 90 persen wilayah mengalami puncak kemarau, sebagian mini wilayah (8 persen) mencapai puncak pada Juli dan dua persen pada September.
"Hanya dua persen wilayah nan mempunyai karakter musim berbeda, mencakup Kota Bogor, Bogor tengah, dan sebagian mini Sukabumi utara," terang dia.
Menyikapi kondisi tersebut, lanjut Vivi, BMKG Jawa Barat mendesak pemerintah wilayah dan masyarakat untuk segera melakukan langkah mitigasi guna menghindari krisis air bersih nan lebih luas.
"Wilayah di Jawa Barat diprediksi mengalami lama musim tandus lebih panjang alias lebih lama dari biasanya," kata dia.
"Warga diimbau untuk mulai menghemat penggunaan air bersih. Sementara itu otoritas mengenai diminta mengoptimalisasi operasi waduk, bendungan, serta merehabilitasi embung sebagai persediaan air darurat," sambung Vivi.
Di sektor pertanian, lanjut dia, BMKG meminta para petani untuk menyesuaikan almanak tanam dengan menghindari puncak musim tandus serta beranjak ke varietas tanaman nan tahan kekeringan dan berumur pendek.
"Untuk sektor kebencanaan, dimohon kesiapsiagaan terhadap potensi kekeringan dan kejadian kebakaran rimba dan lokal," tandas Vivi Indhira.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·