Bank Indonesia (BI) mengungkap strategi dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan dunia nan meningkat, terutama akibat ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. Di kembali pergerakan rupiah, bank sentral terus memantau pasar dunia hingga domestik untuk memastikan keseimbangan suplai dan permintaan kurs asing tetap terjaga.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan, menjelaskan pendekatan nan dilakukan tidak hanya berkarakter kebijakan makro, tetapi juga masuk ke level operasional harian. BI, kata dia, berupaya memastikan sistem pasar tetap melangkah efektif di tengah volatilitas.
“Jadi intinya nan kami lakukan adalah kami mencoba mendorong agar sistem pasar itu terus melangkah secara efektif. Kemudian dalam konteks volatilitas nan meningkat di luar toleransi kita kami tentu bakal memberikan guidance kepada pasar agar supply dan demand itu dapat berjumpa pada titik keseimbangan,” kata Erwin dalam Central Banking Forum 1026, Senin (13/4).
Untuk menjaga keseimbangan tersebut, BI aktif melakukan intervensi baik di pasar dunia maupun domestik. Instrumen nan digunakan mencakup transaksi di pasar spot hingga derivatif seperti Non-Deliverable Forward (NDF), nan menjadi referensi krusial sebelum pasar domestik dibuka.
Pergerakan NDF, khususnya nan terjadi di pasar New York, menjadi perhatian utama lantaran bakal mempengaruhi ekspektasi pelaku pasar di dalam negeri. BI apalagi memantau dinamika ini secara terus-menerus lintas waktu dan wilayah.
“Kami terus memonitor around the globe dan around the clock mengenai dengan pergerakan NDF,” kata Erwin.
Tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari volatilitas pasar global, tetapi juga dari arus keluar modal asing (outflow) nan meningkat sejak bentrok di Iran pada akhir Februari lalu. Kondisi ini memperbesar permintaan dolar AS, baik dari penanammodal maupun korporasi nan mempunyai tanggungjawab pembayaran impor dan utang luar negeri.
Erwin menyebut, meski tekanan outflow sempat besar, saat ini mulai menunjukkan tanda mereda. Namun, BI tetap perlu menjaga keseimbangan dengan mendorong masuknya aliran biaya asing (inflow) ke pasar domestik.
Salah satu instrumen nan diandalkan adalah Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), nan terus dikalibrasi tingkat imbal hasilnya untuk menarik minat investor. BI juga mengawasi bahwa aliran masuk mulai terlihat meski tetap berjalan secara bertahap.
Di sisi lain, BI juga memastikan likuiditas rupiah tetap memadai agar aktivitas ekonomi tidak terganggu. Langkah ini dilakukan melalui beragam instrumen moneter, seperti repo, swap, hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Upaya ini krusial untuk menjaga perputaran ekonomi di tengah tekanan eksternal. BI berupaya memastikan kebutuhan likuiditas, baik dari perbankan maupun korporasi, tetap terpenuhi.
Selain intervensi pasar dan pengelolaan likuiditas, BI juga menekankan pentingnya esensial ekonomi, terutama neraca perdagangan. Erwin menjelaskan, pergerakan nilai tukar pada dasarnya sangat dipengaruhi oleh kondisi tersebut.
“Kalau kita surplus, ya, nilai tukar bakal sederhana membuat. Ini perihal nan sifatnya memang otomatik di dalam ekonomi mana pun,” ujarnya.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·