Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera memastikan penyaluran support agunan hidup (jadup) dan support sosial lainnya bagi penyintas musibah terus melangkah dengan prinsip tepat sasaran, akuntabel, dan berbasis info lapangan.
Ketua Satgas PRR Muhammad Tito Karnavian menegaskan seluruh sistem penyaluran support dilakukan melalui pendekatan berbasis info dari pemerintah wilayah alias bottom-up, guna memastikan support betul-betul diterima oleh masyarakat nan berhak.
“Kecepatan untuk memberikan bantuan, baik rumah nan rusak, perorangan, perabotan, duit lauk-pauk, dan juga stimulan ekonomi, itu menggunakan sistem bottom-up dari pendataan pemerintah kabupaten/kota. Ada nan cepat, ada nan lambat,” ujar Tito di Jakarta, Rabu (25/3/2026).
Ia menjelaskan, perbedaan kecepatan penyaluran support di tiap wilayah bukan disebabkan oleh keterlambatan pemerintah pusat, melainkan lantaran ragam kecepatan pendataan dan pengajuan dari pemerintah daerah. Menurut Tito, info penerima support kudu melalui proses verifikasi berlapis, mulai dari pemerintah wilayah hingga unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), serta pengesahan lapangan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) untuk memastikan tidak terjadi kesalahan maupun info ganda.
“Kami menemukan ada info dobel di lapangan. Karena itu verifikasi sangat krusial agar support tepat sasaran,” tegasnya.
Data Satgas PRR pada 13 April 2026 mencatat penyaluran support sosial dari Kementerian Sosial berupa support agunan hidup, isi hunian, serta stimulan ekonomi terus disalurkan secara luas di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Di Provinsi Aceh, penyaluran support menjangkau beragam kabupaten/kota dengan nilai signifikan. Kabupaten Pidie Jaya tercatat menerima total support mencapai Rp123,66 miliar, diikuti Aceh Timur sebesar Rp37,68 miliar, serta Aceh Tengah sebesar Rp27,14 miliar. Sementara itu, sejumlah wilayah lain seperti Bener Meriah, Nagan Raya, dan Kota Subulussalam juga menerima support dengan nilai miliaran rupiah.
Di Sumatera Utara, support sosial turut disalurkan ke beragam wilayah seperti Tapanuli Selatan dengan total Rp14,61 miliar, Langkat sebesar Rp8,51 miliar, serta Humbang Hasundutan mencapai Rp3,62 miliar. Adapun di Sumatera Barat, penyaluran support antara lain tercatat di Kota Padang Panjang sebesar Rp81,81 miliar, Padang Pariaman Rp9,18 miliar, dan Lima Puluh Kota Rp6,75 miliar.
Di sisi lain, Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengatakan penyaluran support sosial dilakukan secara berkepanjangan tanpa henti selama info penerima telah tersedia dan tervalidasi.
“Bantuan sosial pasca-kebencanaan terus kami salurkan. Tidak ada libur, selama datanya sudah ada, langsung kami salurkan,” ujar Saifullah Yusuf saat penyaluran support tahap II di Kabupaten Aceh Tamiang, Kamis (10/4/20266).
Secara unik di Aceh Tamiang, total support sosial nan telah disalurkan mencapai Rp205,18 miliar, mencakup support agunan hidup, isi hunian, stimulan ekonomi, hingga santunan bagi korban meninggal dan luka berat. Pada tahap kedua, support nan disalurkan mencapai Rp76,68 miliar, dengan rincian support agunan hidup bagi 20.908 jiwa senilai Rp28,22 miliar, support isi kediaman untuk 5.941 kepala family sebesar Rp17,82 miliar, stimulan sosial ekonomi untuk 5.491 kepala family senilai Rp29,70 miliar, serta santunan korban luka berat untuk 187 jiwa sebesar Rp935 juta.
Saifullah menegaskan seluruh support disalurkan berasas info nan telah diverifikasi secara ketat oleh pemerintah wilayah berbareng unsur terkait, guna memastikan support tepat sasaran.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·