PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mencatatkan membukukan laba sebesar Rp 15,4 triliun sepanjang kuartal I 2026, meningkat 16,6 persen secara tahunan alias year on year (yoy).
Direktur Utama Bank Mandiri, Riduan, mengatakan tingkat pengembalian ekuitas perseroan berada di level 22,1 persen, sementara rasio kecukupan modal tercatat sebesar 19,7 persen.
“Posisi ini memberikan ruang nan kuat bagi Bank Mandiri untuk melanjutkan pertumbuhan upaya secara berkepanjangan sekaligus menjaga ketahanan menghadapi potensi gejolak pasar ke depan,” kata Riduan dalam keterangannya, Selasa (21/4).
Penyaluran Kredit Capai Rp 1.530 Triliun
Dari sisi intermediasi, Bank Mandiri mencatatkan pertumbuhan nan konsisten melampaui rata-rata industri. Penyaluran angsuran hingga Maret 2026 mencapai Rp 1.530 triliun alias tumbuh 17,4 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan industri sebesar 9,37 persen. Sementara itu, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) secara bank only mencapai Rp 1.675 triliun, meningkat 21,1 persen secara tahunan, melampaui rata-rata industri nan tumbuh 13,2 persen.
Struktur pendanaan juga semakin solid, terlihat dari pertumbuhan Current Account Saving Account (CASA) nan mencapai Rp 1.201 triliun alias naik 12,7 persen yoy. Di sisi efisiensi, rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) membaik ke level 58,0 persen alias turun 3,48 persen secara tahunan.
“Sementara itu, produktivitas operasional semakin baik, tercermin dari perbaikan rasio BOPO ke level 58,0 persen alias membaik 3,48 persen yoy,” lanjut Riduan.
Kualitas aset turut terjaga dengan baik, tercermin dari rasio angsuran bermasalah (NPL) gross nan berada di level 0,98 persen alias membaik 3 pedoman poin dibandingkan tahun sebelumnya, jauh di bawah rata-rata industri sebesar 2,17 persen. Hal ini didukung oleh pencadangan nan memadai dengan NPL Coverage Ratio mencapai 245 persen.
Bank Mandiri juga aktif mendukung beragam program prioritas nasional, seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR), Program 3 Juta Rumah, Makan Bergizi Gratis (MBG), serta pengembangan Koperasi Desa Merah Putih. Hingga kuartal I 2026, realisasi penyaluran KUR mencapai Rp 11 triliun dengan menjangkau lebih dari 87 ribu pelaku UMKM. Dalam program MBG, sekitar 6.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah memanfaatkan jasa Virtual Account Bank Mandiri.
Di sektor perumahan, Bank Mandiri turut menyalurkan pembiayaan untuk sekitar 2.300 unit kediaman melalui skema FLPP. Sementara itu, support terhadap ekonomi desa dilakukan melalui fasilitasi sekitar 80 ribu koperasi desa dan kelurahan.
“Bank Mandiri secara aktif berkedudukan sebagai mitra strategis pemerintah dalam memastikan beragam program nasional melangkah efektif dan memberikan akibat langsung kepada sektor riil serta masyarakat luas,” tutur Riduan.
Transformasi digital juga terus diperkuat. Aplikasi Livin’ by Mandiri sekarang telah digunakan oleh sekitar 39 juta pengguna alias tumbuh 27 persen secara tahunan, dengan gelombang transaksi mencapai 1,24 miliar alias naik 13 persen yoy. Perseroan juga menghadirkan jasa Livin’ Call sebagai call center bebas pulsa nan terintegrasi di aplikasi dan dapat diakses selama 24 jam, termasuk dari luar negeri.
Pada segmen bisnis, platform Kopra by Mandiri telah melayani sekitar 335 ribu pengguna, dengan 85 persen di antaranya merupakan pelaku UMKM. Frekuensi transaksi pada platform ini tercatat mencapai 395 juta alias tumbuh 13 persen yoy. Sementara itu, Livin’ Merchant telah digunakan oleh 3,3 juta merchant, meningkat 28 persen secara tahunan, dengan kebanyakan pengguna berasal dari wilayah non-urban.
“Seluruh kapabilitas digital Bank Mandiri sejatinya merupakan sarana untuk Bank Mandiri dapat menjangkau pengguna dengan efektif dan efisien secara operasional, apalagi hingga ke pulau-pulau terluar, mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat nan inklusif,” jelasnya.
Di sisi pembiayaan berkelanjutan, portofolio sustainable banking Bank Mandiri mencapai Rp 320 triliun per Maret 2026 alias tumbuh 8,8 persen yoy. Dari jumlah tersebut, pembiayaan hijau mencapai Rp 167 triliun alias naik 12,6 persen, sementara pembiayaan sosial sebesar Rp 153 triliun tumbuh 5,1 persen secara tahunan.
Pada periode ini, Bank Mandiri juga menyalurkan pembiayaan baru sebesar Rp 3,6 triliun untuk sektor green building serta Rp 5,2 triliun di sektor pengelolaan sumber daya alam hayati.
Selain itu, seluruh biaya hasil publikasi Green Bond Tahap II senilai Rp 5 triliun telah dialokasikan, dengan porsi 72 persen untuk sektor pengelolaan SDA hayati dan 28 persen untuk transportasi ramah lingkungan, sejalan dengan komitmen perseroan dalam mendukung finansial berkelanjutan.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·