Sutradara Wregas Bhanuteja mengangkat rumor penduduk melawan korporasi dalam karya terbarunya, Para Perasuk. Wregas mengungkap, movie ini tidak sekadar bicara soal roh, tetapi juga peka soal rumor sosial dan lingkungan.
Inspirasi ini rupanya datang dari pengalaman pribadi nan dialami oleh family Wregas sendiri di Yogyakarta. Wregas terinspirasi kisah pamannya, Om Dimas di area Bantul, nan berupaya menjaga mata air di lingkungannya dari sasaran korporasi.
"Om ku, di Jogja, itu punya rumah di samping mata air. Namanya Om Dimas, dia tinggal di wilayah Bantul. Mata air itu awalnya kotor, ada pelepah daun pisang ada rumput-rumput, akhirnya dia bersihkan mata air itu sehingga aliran air lebih lancar," kata Wregas di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, Selasa (14/4).
Namun ternyata, mata air nan selama ini dirawat dan dimanfaatkan penduduk berada di atas tanah milik orang lain, nan kemudian menjadi sasaran perusahaan air minum dalam kemasan.
"Mata air itu mau dibeli oleh sebuah perusahaan air minum dalam kemasan. Jadi diakuisisi, dijadikan pabrik dan segala macam. Dan penduduk sekitar tuh cemas jika ini dijadikan kelak takut sawah sekelilingnya kering gitu," tutur Wregas.
Warga sekitar pun bergerak. Wregas memandang gimana aktivitas akar rumput terbentuk demi mempertahankan kedaulatan air mereka agar tidak jatuh ke tangan korporasi.
"Dan akhirnya penduduk berupaya berbareng Om saya juga mengumpulkan biaya agar si pemilik mata air ini enggak menjual ke si perusahaan tersebut. Jadi patungan mereka, kayak bikin program, bikin kayak aktivitas syukuran di situ sampai akhirnya sekarang ya mungkin udah 70 persen dananya kekumpul," lanjut Wregas.
Kawinkan dengan Mitos
Wregas sadar, kejadian seperti di Bantul kerap terjadi di beragam pelosok Indonesia. Isu pengalihfungsian lahan produktif jadi area industri itu ancaman nyata bagi keberlangsungan hidup masyarakat budaya dan petani.
Menariknya, Wregas juga mengangkat bahwa masyarakat seringkali menggunakan mitos sebagai senjata terakhir untuk melindungi alam.
Cerita-cerita tentang keberadaan mahluk lembut di suatu tempat bukan sekadar takhayul, melainkan strategi tradisional nan cerdas.
"Banyak penduduk nan kemudian membikin suatu mitos tertentu gitu misalnya jika di mata air itu 'Oh di mata air itu ada peri' gitu jadi enggak boleh diganggu. 'Oh di rimba itu ada nan menunggu' jadi kudu kita jaga. Itu sebetulnya sebagai salah satu upaya untuk menyelamatkan alam gitu," ungkap Wregas.
Melalui Para Perasuk, Wregas mau menegaskan makna spiritualitas di tengah masyarakat. Baginya, ada hubungan erat antara manusia dengan roh di alam.
"Spiritualitas di sini berkoneksi dengan alam gitu. Kita kadang melihatnya itu sebagai misterius roh lembut tapi sebenarnya itu adalah ibu bumi kita sendiri gitu ya. Maksudnya di sini, roh-rohnya kenapa juga roh hewan ya lantaran ibu alam. Makanya itu nan kita angkat di sini," tutup Wregas.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·