Ada Ekspresi Anak di depan Omprengan MBG

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Beberapa anak sedang menikmati makan siang dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). (Sumber: Copilot)

Ada satu ruang nan nyaris tidak pernah dijamah oleh para perancang kebijakan, oleh para wartawan nan sibuk menghitung anggaran, maupun oleh para akademisi nan tekun membedah nilai gizi: Ruang jiwa seorang anak ketika dia duduk di depan omprengan MBG-nya di sekolah.

Di ruang itulah sesungguhnya program Makan Bergizi Gratis (MBG) sedang diadili. Setiap hari. Bahkan di saat libur. Bukan oleh personil dewan, bukan oleh Badan Gizi Nasional, bukan oleh master nutrisi, dan bukan pula oleh konsultan. Melainkan oleh juri-juri mini berumur enam hingga dua belas tahun untuk level Sekolah Dasar (SD) nan tidak bisa mendusta kepada lidah mereka sendiri.

Kita terlalu sibuk berbincang tentang MBG dari perspektif pandang orang dewasa. Kita berdebat soal anggaran nan mencapai ratusan triliun rupiah di tengah gelombang efisiensi nan dipaksakan ke seluruh lini pemerintahan. Kita mempersoalkan higienitas dapur penyedia, kesegaran bahan baku, dan ketepatan kandungan kalori.

Semua itu penting. Tetapi kita lupa bertanya kepada mereka nan paling berkepentingan: Anak-anak itu sendiri. Dan ketika kita lupa bertanya, anak-anak tidak lantas berteriak. Mereka hanya diam. Dan dalam tak bersuara itulah tersimpan cerita nan jauh lebih dalam dari sekadar lezat alias tidak enak.

Makan demi Kesopanan

Mulailah dari tekanan nan paling tak terlihat namun paling nyata: rasa malu. Ketika seorang anak tidak menyukai menu nan tersaji, dia tidak selalu punya pilihan untuk berterus terang. Di depan guru, di depan teman-temannya, di depan kamera televisi nan selalu datang meliput keberhasilan program ini, anak-anak belajar sesuatu nan tidak tercantum dalam kurikulum mana pun, ialah mereka diajarkan untuk berpura-pura jika ditanya. Mereka mengaduk-aduk nasi, memindahkan lauk ke pinggir omprengan MBG, alias menelan dengan wajah datar demi terlihat bersyukur.

Tidak ada nan pernah menulis tentang ini: Sebuah program negara, tanpa disengaja, sedang mengajarkan anak-anak untuk menekan kejujuran mereka demi kesopanan nan dikonstruksi dari atas. Ini bukan soal sopan santun. Ini soal anak nan kehilangan kewenangan paling dasarnya, ialah kewenangan untuk berbicara dan menunjukkan ekspresi jujur tentang apa nan dia rasakan.

Strata Baru di Antara Teman Sebaya

Di luar tekanan jiwa itu, ada dinamika sosial baru nan tumbuh diam-diam di antara bangku-bangku sekolah. MBG, tanpa disadari, telah menciptakan jenjang baru di antara anak-anak. Mereka nan ibunya tetap menyiapkan bekal dari rumah, lantaran sang ibu mengenal betul bahwa anaknya tidak bakal menyentuh terong alias tidak tahan memandang ikan berbau, tanpa sadar membawa sinyal tertentu kepada teman-temannya.

Bekal dari rumah bisa dibaca sebagai tanda bahwa aku lebih diperhatikan, sementara anak penerima MBG nan duduk di sebelahnya bisa merasa bahwa dirinya sekadar bagian dari daftar penerima faedah nan anonim.

Anak-anak SD sedang menikmati makan siang di sekolah. (Sumber: Copilot)

Sebaliknya, bisa pula terjadi kebalikannya: Anak nan membawa bekal merasa kikuk lantaran berbeda dari nan lain. Dinamika ini sangat halus, nyaris tidak kasat mata bagi orang dewasa nan sedang rapat membahas pengedaran katering. Tetapi dia sangat nyata, sangat terasa, dan sangat membentuk dalam bumi pergaulan anak nan sesungguhnya.

Memori Rasa adalah Memori Politik

Di kembali seluruh dinamika sosial itu, ada sesuatu nan lebih dalam dan lebih berjangka panjang nan tengah terjadi, sesuatu nan belum pernah dipikirkan oleh siapa pun nan merancang program ini.

Makanan MBG, bagi jutaan anak Indonesia hari ini, adalah kemungkinan kontak pertama mereka nan paling langsung dan paling bentuk dengan produk dari negara. Bukan pidato presiden. Bukan upacara bendera. Bukan kitab teks. Melainkan sepiring nasi dengan lauk nan datang dari dapur nan jauh, dibungkus rapi, diantar ke sekolah mereka setiap hari.

Rasa makanan itu, apakah dia bakal tetap hangat alias sudah dingin, apakah dia lezat alias hambar, apakah dia terasa dibuat dengan sungguh-sungguh alias sekadar memenuhi target, bakal mengendap dalam ingatan mereka sebagai kesan bawah sadar tentang apa artinya diurus oleh pemerintah.

Generasi ini sedang membangun memori rasa tentang negara mereka, dan nyaris tidak ada nan menyadarinya. Para pemimpin perlu sadar: omprengan MBG mini itu bukan sekadar urusan gizi. Ia adalah wajah negara di mata anak-anak.

Tangan Kecil nan Menyimpan Makanan

Ada satu kejadian lain nan nyaris pasti terjadi di banyak sekolah, tetapi belum pernah satu pun kamera meliputnya, belum pernah satu pun laporan resmi mencatatnya. Beberapa anak, diam-diam, membungkus sebagian makanan MBG mereka untuk dibawa pulang.

Bukan lantaran nakal, bukan lantaran melanggar aturan. Melainkan lantaran di rumah ada adik nan belum makan, ada ibu nan melewatkan makan siang demi menghemat, ada kondisi nan membikin sepiring nasi menjadi sesuatu nan terlalu berbobot untuk disisakan begitu saja.

Mereka tidak bercerita. Mereka hanya melipat plastik dengan hati-hati, menyembunyikannya di dalam tas, dan melangkah pulang dengan langkah nan lebih ringan lantaran merasa telah melakukan sesuatu nan benar.

Sebenarnya beginilah potret kemiskinan nan paling jujur dan paling menyayat hati, bukan nan tampil dalam diagram BPS, melainkan nan tersembunyi di dalam tas sekolah seorang anak. Potret ini tersembunyi justru di kembali program nan semestinya menjadi solusi.

Membandingkan dan Menilai dalam Diam

Anak-anak nan tumbuh di rumah dengan ibu nan memasak dengan penuh perhatian, menggunakan bahan segar dari pasar pagi, tanpa penyedap rasa berlebihan, dengan cinta nan terasa nyata di setiap sendoknya, secara naluriah bakal membandingkan.

Mereka tidak mengatakannya keras-keras. Mereka tidak memprotes. Tetapi dalam tak bersuara nan panjang di antara suapan demi suapan, mereka sedang belajar sesuatu nan sangat kompleks dan sangat dewasa: Ada perbedaan nan tak terbantahkan antara makanan nan dibuat dengan cinta dan makanan nan dibuat untuk memenuhi kuota.

Perbedaan itu tidak bisa diukur dengan tabel nilai gizi mana pun. Rasa itu hanya terasa di lidah, dan kemudian mengendap di suatu tempat dalam diri seorang anak, ialah membentuk caranya memahami kepedulian, membentuk caranya kelak menilai apakah sebuah kebijakan sungguh-sungguh datang untuk dirinya alias sekadar datang untuk terlihat hadir.

Ketika Bergizi Hanya Bergizi di Atas Kertas

Inilah paradoks terbesar nan belum berani diucapkan oleh siapa pun: gimana jika untuk sebagian anak, makanan nan mereka terima sebelum program MBG justru lebih baik?

Anak-anak dari family nan terbiasa memasak dengan bahan lokal segar, tanpa pengawet, tanpa proses pemanasan ulang nan berulang, sekarang menerima makanan nan diproduksi secara massal dengan standar nan kudu memenuhi skala jutaan porsi sekaligus.

Ini bukan soal kaya alias miskin. Ini soal kewenangan nan paling fundamental: Hak setiap anak atas makanan nan sungguh-sungguh bergizi, bukan sekadar bergizi di atas kertas perencanaan anggaran.

Ketika seorang anak menyingkirkan lauk di pinggir omprengan MBG-nya bukan lantaran manja, tetapi lantaran tubuhnya menolak, maka ada pertanyaan serius nan kudu dijawab oleh seluruh pemangku kebijakan program ini.

Anak-anak tidaklah berdemo. Mereka tidak menulis petisi. Mereka tidak pernah diminta bicara alias diundang dalam talk-show. Mereka tidak datang dalam rapat koordinasi lintas kementerian. Tetapi mereka datang setiap hari di depan omprengan MBG mereka masing-masing, membawa serta seluruh kejujuran nan hanya dimiliki oleh mereka nan belum belajar berpura-pura di hadapan kekuasaan.

Jika para pemimpin sungguh-sungguh mau tahu apakah program senilai ratusan triliun rupiah ini berhasil, mungkin sudah saatnya mereka berakhir membaca laporan dan mulai duduk berbareng anak-anak itu. Menyediakan waktu mendengarkan bukan hanya apa nan mereka katakan, tetapi juga apa nan mereka sembunyikan dalam diam.

Sesungguhnya di depan omprengan MBG seorang anak sekolah dasar, sedang berjalan penilaian nan paling jujur terhadap niat sebuah bangsa kepada generasi penerusnya. Mereka memandang wajah negara di omprengan MBG.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan