Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menargetkan persoalan penanganan darurat sampah dapat selesai paling lambat Mei 2028, termasuk Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi.
Ia apalagi mempersilakan masyarakat memprotes dirinya andaikan sasaran tersebut tidak tercapai. Hal itu disampaikan Zulhas saat menghadiri aktivitas Deklarasi Gerakan Pilah Sampah dan Pencanangan HUT ke-499 Jakarta di area Rasuna Said, Jakarta Selatan, Minggu (10/5).
“Tahun 2027 sasaran 50%, lampau Mei 2028 termasuk Bantargebang insya Allah bakal kita selesaikan. Kalau teman-teman enggak selesai, kelak boleh saya diprotes di bulan Mei 2028. Bantargebang ada dua,” ujarnya.
Zulhas menjelaskan penanganan tahap awal difokuskan untuk menyelesaikan kondisi darurat sampah di sejumlah wilayah besar, termasuk Jakarta, Bandung, dan Tangerang Selatan.
“Tetapi, itu nan kita selesaikan baru nan darurat. Darurat itu seperti Bantargebang, Bandung, Tangsel, dan lain-lain, nan jumlahnya kira-kira ada 71 kota nan kita gabung di dalam 22 aglomerasi. Itu pun baru 22,5%. Kita bakal selesaikan sampai Mei 2028 untuk nan darurat,” kata dia.
Ia menegaskan setelah sasaran tersebut tercapai, praktik open dumping atau pembuangan sampah terbuka tidak lagi diperbolehkan.
“Dan itu kelak tidak boleh open dumping lagi. Jadi jika ada open dumping, itu bisa diterapkan Undang-Undang Lingkungan nan kata Pak Jumhur tadi bisa terkena pidana. Jadi enggak boleh lagi,” tutur Zulhas.
Menurut dia, tantangan terbesar pengelolaan sampah berada di kota-kota besar dengan produksi sampah harian sangat tinggi, termasuk Jakarta nan disebut menghasilkan sekitar 9.000 ton sampah per hari.
“Nah, nan kedua, ada wilayah nan sampahnya 1.000 ton ke atas setiap hari. Jakarta ini 9.000 ton, Pak Gubernur. 9.000 ton Jakarta ini. Jadi jika insinerator, bisa butuh 9 sebetulnya untuk 9.000 ton nan baru per hari,” ujarnya.
Ia mengatakan persoalan sampah Jakarta tidak hanya berasal dari produksi harian, tetapi juga timbunan lama di Bantargebang nan volumenya sangat besar.
“Belum tumpukan nan lama, Bantargebang itu belum tentu kelar 20 tahun. nan numpuk itu sudah seperti gedung 16 lantai,” kata Zulhas.
Menurut dia, penggunaan teknologi Waste to Energy melalui insinerator baru bakal menyelesaikan sebagian mini persoalan sampah nasional.
“Nah, ini nan tadi Pak Jumhur mengatakan 2 tahun, itu baru insinerator Pak, yang Waste to Energy (diubah jadi listrik). Sampah kita ubah jadi listrik itu baru menyelesaikan 22,5%, tetap ada 77,5% lagi,” ujarnya.
Karena itu, pemerintah juga menyiapkan sejumlah teknologi pengolahan sampah lain nan dikembangkan di dalam negeri untuk mempercepat penyelesaian masalah sampah nasional.
“Nanti ada teknologi lokal nan sudah bisa. Ada nan kapabilitas 500 ton, ada nan RDF (Refuse Derived Fuel), ada nan gasifikasi, ada juga kelak kita pakai insinerator tapi buatan dalam negeri. Itu bisa menyelesaikan kira-kira sampai 40% lagi. Problem itu sampai 2029 bakal kita selesaikan,” kata Zulhas.
Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan optimistis persoalan sampah Jakarta dapat dituntaskan melalui kerja sama lintas kementerian dan pemerintah daerah.
“Saya meyakini dalam pengarahan dan juga kepemimpinan Bapak Menteri Lingkungan Hidup, mudah-mudahan persoalan pilah sampah ini berbareng dengan Pak Menko Pangan, kita lakukan dengan sungguh-sungguh dan serius menjadi aktivitas baru bagi Jakarta untuk memilah sampah ini. Dan angan saya adalah mudah-mudahan persoalan sampah di Jakarta nan dari waktu ke waktu tidak pernah terselesaikan bakal terselesaikan,” kata Pramono.
Ia juga mengungkap percakapan pribadinya dengan Zulhas mengenai tekad menyelesaikan persoalan Bantargebang.
“Saya tetap ingat kebetulan beliau berdua adalah sahabat saya lama, ketika Pak Menko Pangan (Zulhas) pertama kali berjumpa dengan saya urusan Bantar Gebang beliau membisikkan begini, jika panggil saya kan Mas, ‘Mas, masa sih Bantar Gebang tidak bisa kita selesaikan?’. Benar nggak Pak Menko? Saya bilang, ‘Bang, Bismillah kita selesain. Di era kita kudu selesai urusan Bantar Gebang,’” ujar Pramono.
Ia mengatakan Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat juga sejak awal menunjukkan perhatian besar terhadap penyelesaian persoalan sampah di Bantargebang.
“Demikian juga dengan Pak Menteri, waktu itu belum dilantik pun sudah pengin nyelesain Bantar Gebang, rupanya feeling-nya bagus banget ini. Dan kita bakal selesaikan dan saya percaya bakal terselesaikan,” kata dia.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·