Zendaya Dikecam karena Kenakan Anting Artefak dari Iran di Tur Film The Odyssey

Sedang Trending 2 hari yang lalu
Zendaya Dikecam lantaran Kenakan Anting Artefak dari Iran di Tur Film The Odyssey. Foto: IG @theodysseymovie

Setiap kali menghadiri tur promosi film, penampilan Zendaya nyaris selalu menjadi perbincangan. Bersama stylist kepercayaannya, Law Roach, aktris berumur 29 tahun itu dikenal konsisten menerapkan konsep method dressing, ialah memilih busana nan terinspirasi dari karakter alias tema movie nan sedang dipromosikan.

Hal serupa kembali terlihat saat Zendaya menghadiri pemutaran perdana The Odyssey karya Christopher Nolan di London pada Minggu (5/7). Ia tampil elegan dalam bebatan busana putih rancangan Jacquemus nan dipadukan dengan sandal Christian Louboutin. Penampilannya mengingatkan banyak orang pada sosok dewi Yunani, selaras dengan kisah epik nan diangkat dalam movie tersebut.

Namun, bukan gaunnya nan menjadi pusat perhatian. Sorotan justru mengarah pada sepasang anting emas nan dikenakannya. Belakangan diketahui, anting tersebut bukan sekadar perhiasan mewah, melainkan dibuat dari lencana emas antik Iran nan diperkirakan berumur sekitar 3.000 tahun. Perhiasan itu merupakan bagian dari koleksi Ziwiye Hoard, sekumpulan artefak nan diyakini berasal dari wilayah Iran barat dan diperkirakan dibuat antara abad ke-7 hingga awal milenium pertama sebelum Masehi.

Anting artefak berumur sekitar 3.000 tahun nan diperkirakan berasal dari wilayah Iran Barat. Foto: IG @glennspirojewels

Anting tersebut merupakan hasil karya desainer perhiasan London, Glenn Spiro. Ia memasang lencana antik itu menggunakan teknik claw setting, sehingga artefak tetap utuh tanpa kudu dibor alias dimodifikasi secara permanen. Setelah dipasang ulang, perhiasan tersebut menjadi bagian dari koleksi Barron London, rumah perhiasan nan dikenal mengkurasi artefak berhistoris menjadi aksesori modern.

Tak butuh waktu lama, penampilan Zendaya langsung memicu perdebatan di media sosial. Banyak arkeolog, sejarawan, hingga pemerhati budaya mempertanyakan etika penggunaan barang berhistoris sebagai aksesori fesyen. Menurut mereka, artefak dengan nilai sejarah tinggi semestinya dipelajari dan dipamerkan di museum, bukan dikenakan di karpet merah sebagai pelengkap penampilan.

Kontroversi semakin berkembang lantaran artefak tersebut berasal dari Iran. Sejumlah akademisi menilai penggunaan barang budaya dari area nan mempunyai sejarah panjang penjarahan artefak tidak bisa dilepaskan dari rumor kepemilikan dan asal-usul koleksi tersebut.

Associate Professor bagian Sejarah dan Arkeologi di Macquarie University, Peter Edwell, mengatakan bahwa info mengenai asal-usul artefak tersebut tetap belum jelas. Menurutnya, keterangan seperti “undisclosed origin” alias asal nan tidak diungkapkan sering menjadi tanda bahwa sebuah barang mungkin pernah keluar dari negara asalnya melalui jalur nan tidak terdokumentasi dengan baik, apalagi berpotensi berangkaian dengan penjarahan alias perdagangan ilegal.

Ia menilai kondisi seperti ini membikin penggunaan artefak sebagai aksesori menjadi sangat bermasalah dari perspektif pandang pelestarian warisan budaya.

Meski demikian, tidak semua pihak mempunyai pandangan nan sama. Ada pula nan beranggapan bahwa selama artefak tidak mengalami kerusakan permanen dan kepemilikannya sah, penggunaan barang berhistoris dalam corak perhiasan justru dapat memperkenalkan sejarah kepada audiens nan lebih luas. Teknik pemasangan nan digunakan Glenn Spiro juga disebut tidak mengubah corak original lencana sehingga artefak tetap dapat dilepas dan dikembalikan seperti semula.

Hingga kini, Zendaya maupun Law Roach belum memberikan tanggapan mengenai kontroversi tersebut. Namun, perdebatan nan muncul menunjukkan bahwa di kembali sebuah penampilan fesyen, ada obrolan nan lebih besar mengenai pemisah antara apresiasi budaya, kepemilikan artefak, dan tanggung jawab dalam menjaga warisan sejarah dunia.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan