Yang Perlu Dipertimbangkan Sebelum Upload Foto Anak di Hari Pertama Sekolah

Sedang Trending 2 minggu yang lalu
Ilustrasi anak laki-laki dan wanita sekolah. Foto: Shutterstock

Hari pertama masuk sekolah selalu menjadi momen nan membahagiakan. Seragam baru, tas nan tetap rapi, hingga ekspresi antusias alias gugup anak sering kali diabadikan dalam corak foto maupun video. Tak hanya orang tua, banyak sekolah juga membagikan pengarsipan aktivitas siswa di media sosial sebagai corak info sekaligus promosi.

Namun, di kembali unggahan nan terlihat sederhana, ada satu perihal nan perlu diperhatikan: jejak digital anak.

Di era media sosial, setiap foto dan video nan diunggah berpotensi tersimpan dalam waktu nan sangat lama dan dapat diakses oleh banyak orang. Karena itu, orang tua maupun pihak sekolah perlu lebih bijak sebelum membagikan konten nan menampilkan identitas anak.

Kenapa Perlu Berhati-hati?

Ilustrasi Orang Tua Berbicara dengan Guru Anak di Sekolah. Foto: Shutterstock

Beberapa sekolah mungkin saja meminta siswa baru membikin video perkenalan nan kemudian diunggah ke media sosial. Biasanya, anak diminta menyebut nama lengkap, usia, kelas, nama sekolah, hingga kegemaran alias cita-cita.

Sekilas aktivitas ini tampak menyenangkan dan menjadi langkah untuk menyambut tahun aliran baru. Namun, ketika dipublikasikan di akun media sosial nan terbuka, info tersebut dapat menjadi bagian dari identitas digital anak nan bisa diakses siapa saja.

Selain video perkenalan, foto hari pertama sekolah juga kerap tanpa disadari memperlihatkan info pribadi, seperti papan nama sekolah, kelas, nama komplit siswa, hingga letak sekolah. Informasi-informasi tersebut dapat dimanfaatkan oleh pihak nan tidak bertanggung jawab.

Anak juga belum sepenuhnya memahami akibat dari jejak digital nan dibangun sejak dini. Karena itu, orang dewasa mempunyai tanggung jawab untuk melindungi kewenangan privasi mereka.

Bukan Berarti Tidak Boleh Mengunggah Konten Anak

Ilustrasi foto anak di media sosial. Foto: Shutterstock

Mendokumentasikan momen tumbuh kembang anak tentu bukan sesuatu nan salah. Justru, foto dan video bisa menjadi kenangan berbobot bagi family maupun sekolah.

Namun, ada beberapa perihal nan sebaiknya diperhatikan sebelum mengunggahnya ke media sosial, seperti:

  • Hindari membagikan info pribadi seperti nama lengkap, tanggal lahir, alamat rumah, nomor induk siswa, alias info lain nan dapat mengidentifikasi anak secara langsung.

  • Perhatikan apakah foto alias video memperlihatkan papan nama sekolah, kelas, alias letak nan terlalu spesifik.

  • Matikan fitur letak (geotag) jika tidak diperlukan.

  • Untuk pihak sekolah, pastikan telah memperoleh persetujuan dari orang tua sebelum mempublikasikan foto alias video siswa.

  • Hormati andaikan ada orang tua nan memilih agar anaknya tidak ditampilkan di media sosial sekolah.

  • Jika memungkinkan, pilih pengarsipan nan berfokus pada suasana aktivitas belajar tanpa mengekspos identitas pribadi anak secara berlebihan.

Semakin sedikit info pribadi nan tersebar di internet, semakin mini pula akibat penyalahgunaan info maupun gangguan terhadap privasi anak.

Sejalan dengan Semangat PP Tunas

Ilustrasi anak bersiap ke sekolah. Foto: Shutter Stock

Kehati-hatian dalam membagikan konten anak juga sejalan dengan semangat Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP Tunas).

Regulasi ini menegaskan bahwa anak mempunyai kewenangan untuk memperoleh perlindungan di ruang digital. Salah satu prinsip utamanya adalah memastikan kepentingan terbaik anak menjadi pertimbangan dalam setiap aktivitas nan melibatkan mereka di bumi digital, termasuk pengelolaan info pribadi maupun penyebaran konten.

Artinya, perlindungan anak di internet bukan hanya menjadi tanggung jawab platform digital, tetapi juga memerlukan peran aktif orang tua, sekolah, dan seluruh pihak nan berinteraksi dengan anak di ruang digital.

Sebelum mengunggah foto alias video anak, ada baiknya kita bertanya terlebih dahulu: Apakah unggahan ini betul-betul diperlukan? Apakah info pribadi anak sudah diminimalkan? Dan apakah suatu hari kelak anak bakal merasa nyaman jika konten tersebut tetap dapat ditemukan di internet?

Hari pertama sekolah memang hanya datang setahun sekali. Namun, jejak digital nan ditinggalkan hari ini bisa memperkuat jauh lebih lama. Karena itu, mengabadikan momen boleh saja, selama tetap mengutamakan keamanan, privasi, dan kewenangan anak.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan