Yang Paling Penting Petaninya, Cerita Muliadi Widodo di Balik Secangkir Kopi

Sedang Trending 2 minggu yang lalu
Barista Muliadi Widodo menerangkan slide nan tersaji di antara hidangan kopi nan dia seduh dalam rangkaian omakase di rumahnya di area Serpong, Tangerang Selatan, beberapa waktu lalu. Foto: ESP

Bagi banyak orang, kopi berakhir di cangkir. Rasanya lezat alias tidak, pahit alias asam, lampau selesai. Namun bagi Muliadi Widodo pendiri RDX Hobby di Serpong, Tangerang, perjalanan kopi justru dimulai jauh sebelum air panas menyentuh serbuk kopi.

Di sela omakase kopi nan berjalan nyaris empat jam di rumahnya di Serpong, Minggu (10/5/2026), Muliadi acapkali mengembalikan percakapan ke satu perihal nan menurutnya paling menentukan kualitas kopi: petani.

“Yang paling krusial itu petaninya sebenarnya,” kata Muliadi.

Pandangan itu lahir bukan dari teori semata. Muliadi mengaku kerap mendatangi langsung kebun kopi di beragam daerah. Ia tidur di lahan kopi milik petani, mendatangi desa-desa pegunungan, hingga belajar memahami gimana kopi dipanen dan diproses sejak tetap berupa buah.

“Saya suka alam, saya suka naik gunung. Jadi di kopi itulah saya sekalian menyalurkan kegemaran saya naik gunung,” ujarnya.

kumparan post embed

Ia menyebut pernah mendatangi petani di Temanggung, Sarongge, hingga area Masurai di Jambi. Dari perjalanan-perjalanan itu, dia justru menemukan bahwa banyak petani Indonesia sebenarnya menghasilkan kopi berkualitas, tetapi tidak mempunyai akses edukasi nan cukup soal pengolahan pascapanen.

Salah satu cerita nan paling membekas baginya adalah ketika berjumpa petani kopi nan apalagi tidak pernah mencicipi hasil kebunnya sendiri.

Menurut Muliadi, sebagian petani terbiasa menjual seluruh kopi terbaik mereka, sementara untuk konsumsi sehari-hari justru meminum kopi saset murah.

“Mereka mempunyai biji bagus, tapi mereka kopinya itu kopi saset,” katanya.

Ia kemudian mulai menjelaskan gimana kualitas kopi sebenarnya bisa rusak sejak tahap panen. Salah satu persoalan nan sering dia temui adalah kebiasaan mencampur buah kopi matang dan separuh matang dalam satu karung.

Menurutnya, banyak petani kudu melangkah jauh menuju kebun sehingga buah kopi nan dipetik disimpan berhari-hari sebelum diproses. Tanpa disadari, fermentasi sudah terjadi di dalam karung dan memengaruhi rasa kopi.

“Fermentasi kopi sudah terjadi, buahnya sudah membusuk,” ujarnya.

Muliadi Widodo memproses kopi untuk disajikan kepada peserta omakase di rumahnya. Foto: ESP

Menurut Muliadi, persoalan kopi Indonesia sering kali bukan terletak pada tanah alias varietasnya, melainkan pada minimnya pendampingan dan edukasi.

Ia mencontohkan gimana sebagian petani tetap mencampur robusta dan arabika demi mengejar jumlah produksi. Ada pula nan memalsukan asal usul dan lain lain, untuk meraup keuntungan. Padahal menurutnya, praktik-praktik seperti itu justru merusak karakter original kopi.

“Kalau roasternya sudah enggak benar, kacau,” katanya.

Bagi Muliadi, roasting bukan sekadar membakar biji kopi hingga berubah warna cokelat. Ia menyebut roasting mempunyai banyak profiling: suhu, waktu, hingga karakter rasa apa nan mau dimunculkan.

“Lu mau keluarin apa? Manisnya, asemnya, cleannya, kompleksitasnya, body-nya,” ujarnya ketika menjelaskan proses roasting.

Ia apalagi percaya roasting nan baik bisa “menyelamatkan” kopi nan kualitas dasarnya kurang baik. Namun sebaliknya, roasting nan jelek dapat merusak kopi berbobot tinggi.

Muliadi Widodo di rumah petani kopi. Foto: ESP

Meski begitu, dia tetap menilai petani memegang peranan terbesar. Karena itu, Muliadi mengaku lebih senang menghabiskan waktu berbincang dengan petani dibanding sekadar mengikuti tren coffee shop.

Baginya, kopi nan baik lahir dari rantai panjang nan dimulai dari gunung, petani, proses panen, fermentasi, hingga roasting. Dan jika salah satu bagian rusak, rasa kopi di cangkir pun ikut berubah.

“Indonesia itu sebenarnya enggak kalah,” katanya.

Di tengah maraknya budaya ngopi dan menjamurnya coffee shop, Muliadi justru memandang tantangan terbesar bumi kopi Indonesia hari ini bukan pada gimana menjual kopi, melainkan gimana membikin petani lebih dihargai dan lebih memahami kualitas kopi nan mereka tanam sendiri.

Karena bagi Muliadi, secangkir kopi nan baik sebenarnya dimulai jauh sebelum kopi diseduh.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan