Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-un menilai Semenanjung Korea berada di periode perang nuklir akibat meningkatnya modernisasi militer Amerika Serikat (AS) dan Korea Selatan (Korsel).
Karena itu, Pyongyang berjanji bakal mempercepat penguatan keahlian pertahanan dan nuklirnya.
Pernyataan tersebut disampaikan Kim saat memimpin rapat tiga hari Partai Buruh Korea nan berhujung pada Senin (22/6), menurut instansi buletin resmi KCNA, dikutip dari AFP.
Kim Jong-un menuding Washington dan Seoul terus memperkuat kekuatan militer di kawasan, termasuk mendorong Korsel mempunyai kapal selam berkekuatan nuklir.
Ia menyebut langkah tersebut membikin ketegangan keamanan semakin meningkat.
Menurut KCNA, Kim mengatakan perkembangan itu telah mendorong situasi di Semenanjung Korea ke periode perang nuklir.
Sebagai respons, Korea Utara menegaskan bakal terus memperluas dan memperkuat keahlian pencegahan militernya.
KCNA menyebut pengembangan kekuatan penangkal perang berbasis teknologi nuklir bakal dilakukan dengan kecepatan nan lebih tinggi.
"Memperluas dan memperkuat kekuatan nuklir secara berkepanjangan adalah langkah nan paling tepat untuk menghadapi situasi militer dan politik internasional nan tidak menentu," tulis KCNA mengenai hasil rapat tersebut.
Korut selama ini berulang kali menegaskan tidak bakal melepaskan senjata nuklirnya.
Awal bulan ini, Kim Yo-jong, adik Kim Jong-un, apalagi menyebut kebijakan nuklir Pyongyang sebagai "garis tanpa jalan mundur".
Pernyataan Kim Jong-un muncul ketika Presiden Korsel Lee Jae-myung pada Jumat (19/6) mengungkap bahwa Presiden AS Donald Trump sepakat rumor Korut perlu kembali menjadi perhatian utama.
Lee juga mengatakan kepada Trump bahwa hukuman terhadap Pyongyang selama ini tidak efektif.
17 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·