Ilustrasi virus ebola dan marburg.(Dok. Magnific)
ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi merilis pedoman komprehensif terbaru mengenai penanganan penyakit nan disebabkan oleh Filovirus, golongan virus mematikan nan mencakup virus Ebola dan virus Marburg. Langkah ini diambil untuk memperkuat kesiapsiagaan dunia dalam menghadapi pandemi nan mempunyai tingkat fatalitas kasus (CFR) sangat tinggi, nan dalam beberapa kasus dapat mencapai 90%.
Pedoman ini dirancang sebagai standar emas bagi tenaga medis, otoritas kesehatan masyarakat, dan pengambil kebijakan di seluruh dunia. Fokus utamanya adalah pada penemuan dini, perawatan klinis nan dioptimalkan, serta pengendalian jangkitan nan ketat untuk memutus rantai penularan di organisasi maupun akomodasi kesehatan.
Mengenal Filovirus: Ancaman Ebola dan Marburg
Filovirus adalah family virus nan menyebabkan demam berdarah virus nan parah. Dua personil paling terkenal dari family ini adalah:
- Virus Ebola (EVD): Pertama kali diidentifikasi pada tahun 1976, virus ini menyebar melalui kontak langsung dengan darah alias cairan tubuh penderita.
- Virus Marburg (MVD): Memiliki karakter klinis nan serupa dengan Ebola, sering kali ditularkan ke manusia dari kelelawar buah (Rousettus aegyptiacus).
Poin Utama dalam Pedoman Komprehensif WHO
Dalam arsip terbaru ini, WHO menekankan beberapa pilar strategis dalam manajemen penyakit Filovirus:
1. Perawatan Klinis dan Terapi Suportif
WHO merekomendasikan pemberian perawatan suportif awal nan agresif, termasuk rehidrasi (oral alias intravena) dan pemantauan ketat terhadap kegunaan organ. Penggunaan terapi antibodi monoklonal nan telah disetujui untuk Ebola (seperti mAb114 dan REGN-EB3) sekarang menjadi standar perawatan di wilayah nan mempunyai akses terhadap obat-obatan tersebut.
2. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI)
Mengingat tingginya akibat penularan di akomodasi kesehatan, pedoman ini memperketat protokol penggunaan Alat Pelindung Diri (APD). WHO menekankan pentingnya triase pasien nan sigap dan isolasi segera bagi perseorangan nan menunjukkan indikasi demam berdarah virus.
3. Keterlibatan Komunitas dan Mobilisasi Sosial
Belajar dari pandemi di Afrika Barat dan Republik Demokratik Kongo, WHO menegaskan bahwa keberhasilan penanganan pandemi sangat berjuntai pada kepercayaan masyarakat. Pedoman ini mencakup prosedur pemakaman nan kondusif dan terhormat serta edukasi mengenai akibat penularan tanpa menimbulkan stigma.
Hingga saat ini, vaksin untuk Ebola (Ervebo) telah tersedia dan terbukti efektif, sementara vaksin untuk virus Marburg tetap dalam tahap pengembangan dan uji klinis.
Perbandingan Ebola vs Marburg
| Inang Alami | Kelelawar buah (diduga) | Kelelawar buah (Rousettus) |
| Gejala Awal | Demam, nyeri otot, sakit kepala | Demam tinggi mendadak, malaise |
| Vaksinasi | Tersedia (rVSV-ZEBOV) | Dalam tahap riset |
Langkah Kesiapsiagaan Nasional
Bagi negara-negara di luar wilayah endemik, WHO menyarankan penguatan kapabilitas laboratorium untuk penemuan molekuler (PCR) dan training bagi petugas pintu masuk negara (bandara dan pelabuhan). Deteksi awal adalah kunci untuk mencegah penyebaran lintas pemisah nan dapat memicu pandemi baru. (H-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·