WHO Desak Pencabutan Pembatasan Perjalanan Akibat Ebola

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
WHO Desak Pencabutan Pembatasan Perjalanan Akibat Ebola Direktur WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus berbincang di Washington DC, Amerika Serikat pada aktivitas IMF, April 2024( Mandel NGAN / AFP)

DIREKTUR Jenderal Badan Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus, mendesak negara-negara mencabut pembatasan perjalanan menyusul epidemi Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Uganda.

Dalam konvensi pers di Jenewa pada Rabu (3/6/2026), Tedros menegaskan bahwa larangan perjalanan tersebut justru menjadi penghambat besar dalam upaya penanganan wabah. Menurutnya, kebijakan isolasi wilayah secara total mengganggu rantai pasok medis dan menyulitkan pengiriman support ke area terdampak.

Pernyataan WHO: "Pembatasan perjalanan menyeluruh mengganggu rantai pasok dan menghalang upaya penanganan. WHO merekomendasikan pemeriksaan ketat saat keberangkatan di bandara, pelabuhan, dan perbatasan sebagai pengganti pencegahan penyebaran."

Eskalasi Penutupan Perbatasan

Situasi di lapangan menunjukkan tren pengetatan akses nan signifikan. Pada akhir Mei, Kementerian Kesehatan Uganda telah memutuskan untuk menutup perbatasan dengan DRC. Langkah ini diambil menyusul penetapan status keadaan darurat kesehatan masyarakat nan menjadi perhatian internasional oleh WHO pada 15 Mei lalu.

Ketegangan kebijakan juga terjadi di Kenya. Pengadilan Tinggi Kenya pada 29 Mei mengeluarkan larangan sementara bagi masuknya perseorangan nan terinfeksi virus Ebola ke negara tersebut. Hal ini merespons laporan mengenai rencana Amerika Serikat untuk mengirimkan penduduk negaranya nan terinfeksi Ebola ke Kenya guna menjalani perawatan.

Risiko Fatalitas Tinggi

Ebola tetap menjadi salah satu ancaman kesehatan paling mematikan di dunia. Virus ini ditularkan dari hewan liar seperti kelelawar dan primata ke manusia, kemudian menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh penderita alias barang nan terkontaminasi.

Data PBB menunjukkan tingkat kematian rata-rata penyakit ini mencapai 50 persen. Namun, dalam beberapa kasus pandemi sebelumnya, tingkat fatalitas tercatat bisa melonjak hingga 90 persen. WHO beranggapan bahwa mitigasi terbaik adalah melalui skrining ketat di titik keberangkatan, bukan dengan memutus jalur logistik nan sangat dibutuhkan untuk menekan nomor kematian tersebut. (Ant/H-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia