Waspadai Gejala Usus Buntu pada Anak, Biasanya Sulit Dideteksi!

Sedang Trending 52 menit yang lalu
Waspadai Gejala Usus Buntu pada Anak, Biasanya Sulit Dideteksi! Waspada terhadap indikasi usus buntu pada anak.(Dok. Magnific)

IKATAN Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan orang tua agar tidak menyepelekan keluhan sakit perut pada anak, lantaran bisa menjadi tanda apendisitis akut alias usus buntu. Kondisi ini sering kali susah dideteksi pada anak lantaran gejalanya menyerupai gangguan pencernaan biasa.

Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Gastrohepatologi IDAI, Dr. Himawan Aulia Rahman, Sp.A, Subsp.G.H.(K), menjelaskan bahwa tantangan terbesar pemeriksaan terletak pada anak mini nan belum bisa mendeskripsikan rasa sakitnya secara akurat. Hal ini disampaikan dalam seminar media daring berjudul “Mengenali Usus Buntu pada Anak”, Selasa (1/9/2026).

“Tantangan nan cukup sulit, terutama anak-anak nan belum bisa cerita. Ada banyak sekali kelainan nan mungkin mirip sakit perut dengan usus buntu lantaran anaknya sendiri tidak bisa mendeskripsikan,” ujar Himawan.

Gejala nan Perlu Diwaspadai

Berbeda dengan orang dewasa nan umumnya merasakan nyeri beranjak ke perut kanan bawah, indikasi klasik tersebut tidak selalu muncul pada anak. Himawan menekankan bahwa ketiadaan indikasi klasik bukan berfaedah anak terbebas dari akibat apendisitis.

Orang tua diminta waspada jika sakit perut disertai dengan:

  • Demam.
  • Nyeri nan intensitasnya semakin berat.
  • Rasa sakit bertambah saat anak bergerak alias melompat.
  • Perut terasa sangat sakit ketika disentuh.

Risiko Kebocoran dan Komplikasi

Apendisitis dipicu oleh sumbatan pada saluran usus buntu nan meningkatkan tekanan dan peradangan. Jika tidak segera ditangani, tembok usus buntu dapat mengalami kematian jaringan hingga pecah (perforasi).

“Pada tahap inilah usus buntu bisa mengalami perforasi. Jika pecah, isinya dapat menyebar ke rongga perut dan menyebabkan jangkitan nan lebih luas,” jelas Himawan. Kondisi ini bakal membikin prosedur operasi dan masa pemulihan menjadi jauh lebih kompleks bagi anak.

Diagnosis dan Penanganan

Untuk memastikan diagnosis, master biasanya menggunakan pemeriksaan radiologi seperti USG, CT scan, alias MRI. USG menjadi pilihan utama lantaran tanpa radiasi, sementara MRI mempunyai kecermatan tinggi meski ketersediaannya terbatas.

Terkait penanganan, master bakal menyesuaikan dengan tingkat keparahan. Kasus sederhana mungkin dapat dipertimbangkan dengan pemberian antibiotik, namun kasus berat memerlukan tindakan operasi, baik melalui teknik minimal invasif maupun metode bedah lainnya. IDAI menekankan pentingnya pemeriksaan awal ke akomodasi kesehatan untuk mencegah komplikasi fatal. (Z-10)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia