Waspada Risiko Overtraining HIIT dan Dampak Hormon Kortisol bagi Tubuh

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Waspada Risiko Overtraining HIIT dan Dampak Hormon Kortisol bagi Tubuh Olahraga intensitas tinggi seperti HIIT dapat memicu hormon kortisol berlebih.(Dok. Magnific)

OLAHRAGA intensitas tinggi seperti High Intensity Interval Training (HIIT) sekarang menjadi tren untuk menjaga kebugaran, namun aktivitas tanpa kontrol tepat berisiko memicu stres bentuk berlebih. Berdasarkan info nan dihimpun pada Senin (22/6), latihan nan terlalu diforsir dapat meningkatkan hormon kortisol secara signifikan dan menyebabkan sindrom overtraining.

HIIT dikenal efektif dalam meningkatkan metabolisme dan sensitivitas insulin melalui kombinasi aktivitas intens dan jarak singkat. Meski bermanfaat, aktivitas ini memicu otak mengaktifkan sistem saraf simpatik alias respons "lawan alias lari" (fight or flight). Dalam kondisi ini, tubuh melepaskan daya sigap dengan meningkatkan kadar gula darah dan menekan sistem imun untuk konsentrasi pada aktivitas bentuk utama.

Namun, jika intensitas tinggi dilakukan terlalu sering tanpa pemulihan nan cukup, kadar kortisol dalam aliran darah bakal tetap tinggi. Kondisi ini berpotensi menimbulkan beragam masalah kesehatan serius bagi individu.

Gejala Sindrom Overtraining:

  • Kelelahan berkepanjangan dan penurunan performa fisik.
  • Gangguan suasana hati (mood) dan hilangnya motivasi.
  • Gangguan tidur dan kecemasan.
  • Daya tahan tubuh melemah sehingga mudah terserang penyakit.

Para mahir menekankan bahwa kunci utama dalam latihan intensitas tinggi bukan hanya pada beban latihan, melainkan pada kualitas pemulihan. Sistem saraf parasimpatik memerlukan waktu untuk mengembalikan tubuh ke kondisi tenang, memperbaiki jaringan, dan memulihkan persediaan energi.

Untuk menghindari akibat stres fisik, HIIT idealnya dilakukan hanya dua hingga tiga kali per minggu dengan jarak rehat nan cukup di antara sesi. Langkah pemulihan lain nan disarankan meliputi tidur nan cukup, menjaga asupan nutrisi dan cairan, serta melakukan relaksasi seperti meditasi alias latihan pernapasan.

Keseimbangan antara latihan berat dan rehat menjadi aspek krusial agar faedah kebugaran nan diharapkan tidak berbalik menjadi beban mental dan bentuk bagi tubuh. Masyarakat diimbau untuk lebih bijak dalam mengatur pola latihan demi menjaga kesehatan jangka panjang. (Z-10)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia