Ilustrasi(Dok. Istimewa/Universitas muhammadiyah Surabaya)
Fenomena anak nan mengalami pubertas lebih sigap dari usia normal sekarang menjadi perhatian serius para tenaga kesehatan. Kondisi nan dikenal sebagai pubertas awal ini tidak hanya memengaruhi fisik, tetapi juga membawa akibat signifikan pada kesehatan mental dan perkembangan jangka panjang anak.
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya, Muhammad Anas, menjelaskan bahwa pubertas awal terjadi ketika tubuh anak memulai proses transisi menuju masa remaja jauh lebih awal dari agenda seharusnya. Secara medis, kondisi ini dikategorikan terjadi jika tanda-tanda pubertas muncul sebelum usia 8 tahun pada anak wanita dan sebelum usia 9 tahun pada anak laki-laki.
"Pubertas awal dipicu oleh hormon gonadotropin (GnRH) nan merangsang produksi hormon reproduksi, ialah estrogen pada wanita dan testosteron pada laki-laki," ujar Anas dalam keterangannya, Minggu (21/6/2026).
Mengenali Gejala pada Anak
Orang tua perlu jeli memperhatikan perubahan bentuk nan tidak lazim pada usia dini. Berikut adalah beberapa tanda nan perlu diwaspadai:
- Anak Perempuan: Pertumbuhan tetek dan datangnya menstruasi pertama (menarche) sebelum usia 8 tahun.
- Anak Laki-laki: Perubahan bunyi menjadi lebih berat, munculnya kumis, serta pembesaran testis dan penis sebelum usia 9 tahun.
- Gejala Umum: Munculnya jerawat, pertumbuhan tinggi badan nan sangat pesat secara mendadak, hingga perubahan aroma badan menyerupai orang dewasa.
Faktor Risiko: Obesitas menjadi salah satu pemicu utama nan paling sering dikaitkan dengan peningkatan kasus pubertas dini. Selain itu, aspek genetik, paparan hormon eksternal (melalui krim/salep), serta riwayat radioterapi pada area kepala juga turut berpengaruh.
Dampak Terhadap Tinggi Badan dan Psikologis
Anas menekankan bahwa pubertas awal mempunyai akibat bentuk nan paradoks. Meski awalnya anak terlihat lebih tinggi dibandingkan kawan sebayanya lantaran pertumbuhan pesat, proses pematangan tulang nan terlalu sigap justru membikin masa pertumbuhan berakhir lebih awal. Akibatnya, tinggi badan akhir saat dewasa berpotensi lebih pendek dari potensi maksimalnya.
Dari sisi psikologis, anak sering kali merasa terasing alias malu lantaran perbedaan bentuk nan mencolok. Kondisi ini meningkatkan akibat stres, krisis kepercayaan diri, hingga gangguan kekhawatiran dan depresi jika tidak ditangani dengan pendampingan nan tepat.
Langkah Penanganan
Jika ditemukan tanda-tanda tersebut, orang tua disarankan segera melakukan konsultasi medis. Dokter biasanya bakal melakukan serangkaian pertimbangan mendalam, meliputi:
| Tes Darah & Urine | Mengukur kadar hormon reproduksi dalam tubuh. |
| Stimulasi GnRH | Memastikan jenis dan penyebab spesifik pubertas dini. |
| Pemeriksaan Fisik | Mengevaluasi tahap perkembangan organ reproduksi. |
Deteksi awal sangat krusial untuk memastikan apakah perubahan tersebut merupakan ragam normal alias indikasi gangguan hormonal nan memerlukan intervensi medis unik guna mencegah akibat jangka panjang bagi masa depan anak. (Sumber: Universitas Muhammadiyah Surabaya)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·