Ilustrasi(Magnific)
MINECRAFT, Roblox, dan Fortnite sekarang menjadi bumi bermain baru bagi generasi Alpha (kelahiran 2010–2024). Data menunjukkan 79% dari generasi ini bermain game setiap minggu. Sayangnya, ruang digital nan menyenangkan ini juga dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan untuk mengincar anak-anak.
Laporan dari organisasi nirlaba Thorn mengungkapkan seperempat remaja di bawah 18 tahun pernah mengalami pelecehan alias rayuan seksual online demi mendapatkan sesuatu nan berbobot di platform game.
"Sayangnya, kami memandang ancaman ini terjadi di sebagian besar platform," kata Melissa Stroebel, Vice President Research & Insights di Thorn kepada CNN. "Ini adalah ruang sosial; pelaku kejahatan menyasarnya untuk terhubung dengan anak muda." Meski platform seperti Roblox telah memperbarui kontrol orang tua, Stroebel menegaskan tetap banyak pekerjaan rumah nan kudu diselesaikan.
Risiko Nyata di Balik Fitur Chat
Semua platform nan menyediakan fitur pesan langsung (DM) alias obrolan publik seperti Roblox, Minecraft, Fortnite, Discord, dan Twitch membawa akibat tersendiri. Terlebih, banyak anak bermain dengan orang asing nan hanya mereka kenal secara online.
Menurut Titania Jordan, Chief Parent Officer di Bark Technologies, kreator game tidak bisa menjamin lingkungan nan 100% aman. "Ini lantaran percakapan berjalan sangat sigap dan bisa beranjak ke platform lain seperti Snapchat alias SMS," ujarnya.
Selain ancaman predator, Ron Kerbs, CEO Kidas, mengingatkan akibat lain seperti kecanduan, paparan konten tidak pantas, penipuan (phishing), dan pelanggaran privasi.
Strategi Orangtua Menjaga Keamanan Anak
Membatasi anak secara total bukanlah solusi terbaik lantaran game juga mempunyai faedah sosial dan kognitif. Orangtua dapat mengambil langkah proaktif berikut:
- Gunakan Alat Keamanan: Pasang aplikasi kontrol orangtua untuk memantau percakapan teks dan bunyi di dalam game.
- Bahas Risiko Secara Terbuka: Tanyakan skenario seperti, "Apa nan bakal Anda lakukan jika orang asing di Roblox menawarkan Robux cuma-cuma sebagai hadiah foto dirimu?"
- Jadilah Ruang Aman bagi Anak: Pastikan anak tahu mereka tidak bakal dimarahi jika melaporkan masalah. "Jika anak tahu orangtuanya tidak bakal marah, mereka jauh lebih mungkin menjelaskan saat berada dalam bahaya," tutur Jordan.
- Main Bersama Anak: Luangkan waktu bermain berbareng untuk memahami lingkungan game dan memantau pesan dari orang asing secara natural.
- Atur Kontrol Orangtua Bersama: Libatkan anak saat mengatur privasi akun agar mereka memahami tujuannya untuk perlindungan, bukan sekadar pembatasan.
Mengenali Gejala Anak Menghadapi Masalah
Menurut konselor family Catherine Atkinson-Greenhaw, orangtua kudu waspada jika anak menunjukkan perubahan perilaku drastis seperti:
- Perubahan suasana hati nan ekstrem, cemas, alias menarik diri setelah bermain.
- Mendapatkan duit alias peralatan mahal secara tiba-tiba dari sumber tidak jelas.
- Ketakutan alias tidak nyaman di sekitar orang dewasa.
Jika tanda-tanda ini muncul, dokumentasikan bukti seperti tangkapan layar (screenshot), batasi kontak dengan pelaku, dan laporkan kepada pihak berkuasa jika diperlukan. Dengan pengawasan nan tepat, game tetap bisa menjadi sarana belajar dan bersosialisasi nan sehat bagi anak. (Parents/Z-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·