
Ilustrasi kekerasan online. (Foto: dok Magnific)
JAKARTA - Tahukah Moms bahwa satu dari tiga pengguna internet di seluruh bumi adalah anak-anak? Internet memang membuka banyak kesempatan luar biasa untuk belajar dan berkreasi. Namun, di kembali layar perangkat nan menyala, ada ancaman nyata nan sedang mengintai.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah merilis pedoman krusial mengenai kekerasan online terhadap anak. Yuk simak temuan utamanya agar orang tua bisa lebih waspada!
Kenali Bentuk-bentuk Kekerasan Online
Menurut WHO, kekerasan di bumi maya bukan sekadar kejadian saling ejek di media sosial. Ada beberapa corak ancaman serius nan kudu kita pahami:
- Manipulasi online (Grooming): Orang dewasa alias pelaku kejahatan menggunakan teknologi untuk membangun kepercayaan dan hubungan emosional dengan anak. Tujuannya adalah untuk memanipulasi dan akhirnya melakukan pemanfaatan seksual.
- Produksi dan penyebaran konten seksual: Menyebarkan foto alias video anak tanpa busana, sering kali tanpa izin. Hal ini bisa berakibat fatal, apalagi jika konten tersebut awalnya dibuat secara sukarela oleh korban.
- Eksploitasi seksual lewat siaran langsung (Live-streaming): Menggunakan fitur video online untuk menyiarkan tindak pelecehan seksual terhadap anak secara langsung kepada penonton tertentu.
- Perundungan siber (Cyberbullying): Tindakan permusuhan nan berulang, seperti ancaman, ujaran kebencian, hingga penyebaran rumor tiruan oleh kawan sebaya.
- Pemerasan seksual (Sextortion): Menggunakan foto alias video intim nan didapat melalui paksaan untuk memeras korban, baik demi duit maupun untung seksual lainnya.
Apa Dampaknya?
Kekerasan online sering kali hanya dianggap sebagai masalah norma alias urusan pendidikan di sekolah. Padahal, WHO menegaskan bahwa ini adalah masalah kesehatan masyarakat nan sangat serius. Dampaknya betul-betul nyata:
- Kesehatan Mental: Anak nan menjadi korban sangat rentan mengalami trauma berlebih (PTSD), depresi, kecemasan, peningkatan penggunaan unsur terlarang, hingga munculnya kemauan untuk mengakhiri hidup. Bagi korban penyebaran foto intim, mereka kudu hidup dalam bayang-bayang ketakutan bahwa foto tersebut bakal muncul kembali suatu hari nanti.
- Kesehatan Fisik: Stres akibat perundungan siber bisa memicu beragam masalah fisik, seperti gangguan tidur, sakit kepala kronis, hingga masalah pencernaan.
Apa nan Bisa Dilakukan?
WHO sangat menekankan peran tenaga kesehatan dalam mengatasi masalah ini. Karena sering berasosiasi langsung dengan anak dan keluarga, tenaga kesehatan (seperti master anak, psikolog, alias perawat) bisa menjadi garda terdepan untuk melakukan hal-hal berikut:
- Merespons secara Tanggap: Mengenali tanda-tanda kekerasan sedini mungkin, memberikan support medis dan psikososial, serta memastikan anak berada di lingkungan nan aman.
- Mengedukasi: Meningkatkan kesadaran orang tua dan masyarakat tentang ancaman serta akibat jangka panjang kekerasan online.
- Mengumpulkan Data: Membantu memetakan skala masalah melalui survei kesehatan agar program nan dibuat pemerintah lebih tepat sasaran.
- Mencegah: Terlibat aktif dalam program pengasuhan anak (parenting) dan memberikan pedoman tentang langkah membangun hubungan sosial nan sehat di era digital.
- Berkolaborasi: Bekerja sama secara erat dengan sektor pendidikan, kepolisian, dan jasa perlindungan anak. Masalah sebesar ini tidak bisa diselesaikan sendirian.
Dunia maya hanyalah perpanjangan dari bumi nyata. Bahaya di internet sama nyatanya dengan ancaman di jalanan. Mari lebih peduli, mendampingi anak saat mereka menggunakan teknologi, dan tidak ragu untuk mencari support ahli jika memandang ada tanda-tanda nan mencurigakan.
(Agustina Wulandari )
Women Okezone menyajikan buletin terbaru dan terpercaya seputar bumi perempuan. Dapatkan info terkini tentang style hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk pembaruan buletin terbaru setiap hari
Follow
Berita Terkait
Telusuri buletin women lainnya
2 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·