Ivana Lola, master dari Rumah Sakit Siloam Purwakarta memberikan penjelasan mengenai penyakit migrain, dalam seminar kesehatan nan digelar Holywings Peduli.(ISTIMEWA)
KESADARAN masyarakat terhadap migrain sebagai gangguan neurologis nan dapat memengaruhi kualitas hidup tetap perlu ditingkatkan.
Dalam rangka memperingati Bulan Kesadaran Migrain Sedunia nan diperingati setiap Juni, ratusan penduduk Kelurahan Pasir Kaliki, Bandung, mengikuti seminar kesehatan dan pemeriksaan kesehatan cuma-cuma di Superhouse Paskal, Minggu (14/6).
Kegiatan nan digelar oleh Holywings Peduli tersebut mendapat sambutan antusias dari masyarakat. Sejak pagi, peserta dari beragam kalangan telah memadati letak aktivitas untuk mengikuti seminar bertema “Kenali Migrain, Kendalikan Gejalanya untuk Hidup Lebih Berkualitas”.
Dalam aktivitas ini, masyarakat bisa memanfaatkan jasa pemeriksaan kesehatan gratis. Adapun jasa kesehatan nan diberikan meliputi pemeriksaan tekanan darah, gula darah, kolesterol, masam urat, serta konsultasi langsung dengan tenaga medis.
Komisaris Utama Holywings Group nan juga Ketua Program CSR Holywings Peduli, Andrew Susanto, mengatakan edukasi kesehatan menjadi salah satu konsentrasi utama program sosial nan dijalankan perusahaan.
“Migrain seringkali dianggap sepele, padahal kondisi ini dapat mengganggu produktivitas dan aktivitas sehari-hari. Melalui aktivitas ini kami mau memberikan pemahaman nan betul kepada masyarakat sekaligus mendorong penemuan awal beragam aspek akibat kesehatan melalui pemeriksaan gratis,” ujarnya.
Pusing, migrain dan vertigo
Sementara itu, dalam sesi seminar, master pemateri dari Rumah Sakit Siloam Purwakarta, Ivana Lola, menjelaskan bahwa migrain berbeda dengan pusing biasa maupun vertigo nan kerap disalahartikan oleh masyarakat.
Menurutnya, pusing merupakan istilah umum nan digunakan untuk menggambarkan rasa tidak nyaman di kepala. Sementara migrain adalah jenis sakit kepala nan biasanya berdenyut, sering terjadi pada satu sisi kepala, dan dapat disertai mual, muntah, serta sensitivitas terhadap sinar maupun suara.
Adapun vertigo merupakan sensasi seolah-olah diri sendiri alias lingkungan sekitar sedang berputar akibat gangguan sistem keseimbangan.
“Jadi, tidak semua pusing adalah migrain, dan tidak semua migrain adalah vertigo,” jelasnya.
Ia menambahkan, migrain merupakan salah satu gangguan neurologis nan paling sering menyebabkan penurunan kualitas hidup penderitanya. Serangan migrain dapat berjalan selama beberapa jam hingga beberapa hari dan sering dipicu oleh stres, kurang tidur, perubahan hormon, maupun pola makan nan tidak teratur.
Pada golongan usia produktif, terutama mereka nan memasuki usia 40 tahun alias kepala empat, akibat migrain juga dapat meningkat akibat beragam faktor. Di antaranya perubahan hormon pada wanita menjelang masa perimenopause, tingginya tingkat stres pekerjaan dan keluarga, pola tidur nan tidak teratur, penyakit penyerta seperti hipertensi dan gangguan kecemasan, hingga kurangnya aktivitas fisik.
“Dengan menjaga pola tidur, mengelola stres, berolahraga secara rutin, dan menghindari aspek pemicu, akibat kekambuhan migrain dapat ditekan secara signifikan,” katanya.
Ivana juga mengingatkan pentingnya mengenali makanan nan berpotensi memicu migrain. Beberapa jenis makanan nan perlu diwaspadai antara lain makanan olahan dengan kandungan MSG berlebihan, daging olahan seperti sosis dan kornet, keju fermentasi, cokelat pada sebagian orang, minuman berkafein berlebihan, minuman beralkohol, serta makanan alias minuman nan mengandung pemanis buatan tertentu.
Sebaliknya, konsumsi sayur dan buah segar, ikan kaya omega-3 seperti salmon dan tuna, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, serta mencukupi kebutuhan air putih dapat membantu menjaga kesehatan dan menurunkan akibat kekambuhan migrain.
Selain jenis makanan, pola makan nan teratur juga krusial lantaran telat makan merupakan salah satu pemicu migrain nan cukup sering ditemukan.
Saat serangan migrain muncul, beberapa langkah pertolongan pertama nan dapat dilakukan adalah beristirahat di ruangan nan tenang dan minim cahaya, mengurangi paparan bunyi keras maupun layar gawai, memperbanyak minum air putih, melakukan kompres dingin pada dahi alias belakang leher, serta mengonsumsi obat pereda nyeri sesuai rekomendasi dokter.
Dokter Ivana menjelaskan bahwa pijatan ringan pada area kepala, leher, alias bahu juga dapat membantu mengurangi ketegangan otot nan sering menyertai migrain, meskipun bukan merupakan terapi utama.
Ia mengimbau masyarakat segera berkonsultasi ke master andaikan migrain terjadi semakin sering alias semakin berat, tidak membaik dengan pengobatan biasa, disertai gangguan penglihatan berkepanjangan, kelemahan personil tubuh, bicara pelo, wajah mencong, demam tinggi, kaku kuduk, alias muncul secara mendadak dengan intensitas sangat hebat.
“Pesan pentingnya, migrain bukan sekadar sakit kepala biasa. Dengan mengenali pemicu, menjaga pola hidup sehat, dan mendapatkan penanganan nan tepat, gelombang serta keparahan migrain dapat dikendalikan sehingga kualitas hidup penderita tetap terjaga,” ujarnya.
Pengetahuan baru
Secara global, migrain menjadi salah satu masalah kesehatan nan banyak dialami masyarakat. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan gangguan sakit kepala memengaruhi sekitar 40% populasi dunia. Sementara migrain menjadi salah satu penyebab utama disabilitas neurologis.
Di Indonesia, prevalensi migrain diperkirakan mencapai sekitar 11% hingga 12% populasi. Angka kejadian juga diketahui lebih tinggi pada wanita dibandingkan laki-laki. Selain itu banyak dialami golongan usia produktif 25 hingga 55 tahun sehingga berpotensi memengaruhi produktivitas kerja dan aktivitas sehari-hari.
Salah seorang peserta seminar, Wati, 39, mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru mengenai migrain nan selama ini sering dialaminya.
“Saya baru mengetahui bahwa kurang tidur dan stres bisa menjadi pemicu utama migrain. Materi nan disampaikan sangat mudah dipahami. Pemeriksaan kesehatan cuma-cuma ini juga sangat membantu masyarakat untuk lebih peduli terhadap kondisi kesehatannya,” tambah dia.
Selain aktivitas edukasi dan pelayanan kesehatan, aktivitas juga diisi beragam perlombaan bertema pesta rakyat hasil kerjasama Holywings Peduli berbareng Superhouse dan Tembak Langit Paskal. Beragam permainan interaktif seperti ketangkasan melempar bola berhadiah ponsel dan sembako, estafet gelas, hingga lomba karaoke turut memeriahkan aktivitas sekaligus mempererat kebersamaan penduduk Kelurahan Pasir Kaliki.
Melalui aktivitas tersebut, Holywings Peduli berambisi masyarakat semakin memahami pentingnya menjaga kesehatan saraf serta menerapkan style hidup sehat untuk mencegah beragam gangguan kesehatan, termasuk migrain. Program edukasi dan pelayanan kesehatan masyarakat bakal terus menjadi bagian dari kontribusi berkepanjangan perusahaan dalam mendukung peningkatan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·