Warga Khawatir Tanggul Lumpur Lapindo Jebol Lagi, Kementerian PU Beri Penjelasan

Sedang Trending 2 jam yang lalu
Warga Khawatir Tanggul Lumpur Lapindo Jebol Lagi, Kementerian PU Beri Penjelasan lumpur Lapindo(MI/Hery Susetyo)

WARGA di sekitar area peluapan lumpur Lapindo kembali diselimuti rasa cemas menyusul munculnya rembesan air di sekitar area tanggul. Kekhawatiran ini didasari oleh trauma masa lampau atas tragedi jebolnya tanggul lumpur nan pernah terjadi beberapa tahun silam.

​Nico, salah seorang penduduk setempat, mengungkapkan bahwa rembesan ini dinilai menakut-nakuti beberapa wilayah desa terdekat.

​"Tentu kami cemas Mas, berkaca pada tragedi beberapa tahun nan lalu. Rembesan ini menakut-nakuti wilayah Desa Gempolsari, Glagaharum, dan nan paling dekat dari sini adalah Kali Tengah. Kami berambisi rembesan ini bisa segera ditanggulangi oleh pihak mengenai agar tidak terjadi tanggul jebol lagi," ujar Nico saat diwawancarai di lokasi, Senin sore (22/6).

​Menanggapi keluhan warga, Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Nalvian, memberikan klarifikasi. Ia menjelaskan bahwa kejadian rembesan di titik tersebut sebenarnya bukan perihal baru dan sudah pernah ditangani sebelum tahun 2024.

​"Sebelum tahun 2024 memang sempat ada rembesan, lampau pada tahun 2024 sudah kami tanggulangi. Kami membangun outflow untuk mengarahkan aliran rembesan tersebut dan membuangnya ke wilayah Jetty (kanal pembuangan)," terang Nalvian.

​Namun, Nalvian tidak menampik bahwa saat ini kembali terjadi perubahan kondisi alam di letak tersebut. Kondisi tanah nan labil dan ambles (subsidence) menyebabkan material lumpur menyumbat saluran pipa pembuangan nan telah dibangun, sehingga air kembali meluap.

​"Tanah di letak ini mengalami subsidence alias penurunan, nan kemudian mengakibatkan pipa pembuangan tersumbat material lumpur. Karena tersumbat, airnya meluap lagi. Tapi pada dasarnya, ini sudah kami petakan dan saat ini sedang dalam proses perbaikan serta pengarahan kembali aliran airnya," tambahnya.

​Nalvian juga menjelaskan bahwa elevasi tanggul di titik rembesan tersebut memang tercatat lebih rendah dibandingkan area lain. 

"Elevasi di titik nan kemarin sempat luap itu sekitar 8,9. Sementara di sisi lainnya sudah mencapai 10,3. Jadi, titik itu memang termasuk nan elevasinya rendah, makanya saat ini kami prioritaskan untuk peninggian dan pengamanan tanggul," ujar Nalvian.

​Terkait kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem alias hujan deras nan kerap memicu banjir di wilayah Sidoarjo dan Surabaya, Kementerian PU menegaskan telah mempunyai sistem pemantauan parameter air nan ketat di setiap prasarana penampung air alias waduk.

​"Kami mempunyai parameter dan parameter nan jelas untuk memantau volume air; mulai dari pemisah level Normal, Waspada, Siaga, hingga level nan dinilai Membahayakan. Kementerian PU terus mengendalikan dan memastikan agar kondisi elevasi air tetap berada pada pemisah normal dan aman," tegas Nalvian.

​Di akhir wawancara, pihak Kementerian PU mengimbau masyarakat, khususnya nan tinggal di sekitar aliran tanggul, untuk tetap tenang dan tidak panik dalam menyerap info nan beredar. Kementerian PU memastikan penanganan di lapangan terus melangkah guna menjamin keamanan warga. (HS)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia