Warga AS Bisa "Hukum" Trump, Ada Potensi Bisa Lengser

Sedang Trending 5 hari yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemilihan paruh waktu (midterm election) Amerika Serikat (AS) pada 3 November menjadi ujian besar bagi Presiden Donald Trump. Jika Partai Demokrat sukses merebut kebanyakan di DPR dan Senat, posisi politik Trump berpotensi tertekan hingga membuka jalan bagi upaya pemakzulan (impeachment).

Tingkat ketidakpopuleran Trump nan tetap tinggi menjadi sirine bagi Partai Republik menjelang pemilu. Menurut analis Senat dari Cook Political Report, Jessica Taylor, pemilu paruh waktu pada dasarnya menjadi arena bagi pemilih untuk memberikan penilaian terhadap presiden nan sedang berkuasa.

"Jika Anda mau menyuarakan ketidakpuasan terhadap presiden, satu-satunya langkah untuk melakukannya dalam pemilihan paruh waktu adalah dengan tidak memilih partainya," ujarnya, seperti dikutip Reuters, Selasa (8/9/2026).

Survei Reuters/Ipsos menunjukkan tingkat kepuasan publik terhadap keahlian Trump berada di titik terendah, dengan rumor ekonomi dan perang di Iran menjadi sumber utama ketidakpuasan. Tingkat ketidaksetujuan bersih terhadap Trump juga tercatat jauh lebih jelek dibandingkan periode nan sama pada 2018, ketika Demokrat sukses merebut 40 bangku DPR.

Jika Demokrat mengambil alih DPR, mereka dapat menggunakan kekuasaan kebanyakan untuk membuka beragam penyelidikan terhadap pemerintahan Trump. Para pemimpin Demokrat sebelumnya telah berjanji mengusut dugaan praktik korupsi nan mereka kaitkan dengan Trump.

Dengan kebanyakan di DPR, proses menuju pemakzulan juga secara politik bakal jauh lebih mudah disetujui.

Situasinya bakal menjadi lebih serius jika Demokrat sekaligus menguasai Senat. Dalam sistem AS, DPR mempunyai kewenangan mengusulkan pasal-pasal pemakzulan, sementara Senat menggelar persidangan untuk menentukan apakah presiden kudu diberhentikan.

Artinya, kendali Demokrat atas kedua bilik Kongres bakal membikin ancaman terhadap kelangsungan pemerintahan Trump jauh lebih nyata, meski pemberhentian tetap memerlukan support dua pertiga senator dalam persidangan impeachment.

Trump sendiri pernah menghadapi upaya pemakzulan pada masa kedudukan pertamanya. DPR nan ketika itu dikuasai Demokrat menyetujui pasal impeachment pada 2019, tetapi Trump akhirnya dibebaskan oleh Senat pada 2020 lantaran kebanyakan senator Republik menolak menjatuhkannya.

Upaya kedua pemakzulan juga terjadi pada 2021 setelah kerusuhan Capitol, namun kembali mentok di Senat lantaran support Republik tidak mencukupi untuk mencapai periode dua pertiga suara.

Persaingan untuk menguasai Kongres kali ini dipengaruhi sejumlah faktor. Di DPR, Partai Republik hanya unggul tipis 218-214 kursi, sementara seluruh 435 bangku bakal diperebutkan. Di Senat, sekitar sepertiga dari 100 bangku dipertarungkan, dengan sejumlah negara bagian nan sebelumnya menjadi pedoman Trump justru masuk dalam persaingan ketat.

Bagi Trump, delapan pekan menuju hari pemungutan bunyi menjadi periode krusial: jika pemilih menggunakan pemilu paruh waktu untuk menghukum pemerintahannya dan Demokrat merebut kedua bilik Kongres, dua tahun terakhir masa kedudukan Trump dapat berubah menjadi pertarungan politik besar nan apalagi kembali mengarah ke pemakzulan.

(tfa/tfa) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News