Wamensos Sebut SKB Jadi Opsi Pengentasan Kemiskinan lewat Pendidikan

Sedang Trending 57 menit yang lalu

Jakarta -

Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono mengungkapkan pendidikan menjadi salah satu jalan krusial untuk memutus mata rantai kemiskinan antargenerasi. Karena itu, pemerintah terus membuka akses pendidikan bagi anak-anak nan terkendala aspek ekonomi, termasuk melalui Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) nan diselenggarakan melalui kerjasama Kementerian Sosial dengan pemerintah daerah.

Pesan tersebut dia sampaikan saat memberikan sambutan secara daring dalam aktivitas Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) SKB Sentra Margo Laras Pati, Jumat (18/9). Agus mengikuti aktivitas dari kediamannya di Jakarta Timur, sementara aktivitas MPLS berjalan secara luring di Sentra Margo Laras Pati.

Agus mengatakan keberadaan SKB kudu dipandang lebih dari sekadar penyelenggaraan pendidikan. Program tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah memastikan anak-anak nan sebelumnya tidak memperoleh akses pendidikan dapat kembali belajar dan mempunyai kesempatan untuk meraih cita-cita dan angan mereka.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sekolah Rakyat, SKB, kita tempatkan sekarang ini sebagai jalan pengentasan kemiskinan melalui jalur pendidikan. Supaya jika orang tua nan miskin, anaknya tidak ikut miskin. Negara kudu datang untuk menjemput, mendampingi, dan mengantarkan anak-anak kita untuk bisa mewujudkan angan mereka," ujar Agus Jabo dalam keterangan tertulis, Jumat (18/9/2026).

Ia menjelaskan berasas info nan disampaikannya dalam aktivitas tersebut, tetap terdapat sekitar 4,1 juta anak nan tidak sekolah, putus sekolah, alias belum sekolah. Lebih dari 76 persen di antaranya menyebut aspek ekonomi sebagai argumen tidak dapat melanjutkan pendidikan.

Di sisi lain, dia menyebut 74,51 persen masyarakat miskin mempunyai tingkat pendidikan SD ke bawah. Kondisi tersebut menunjukkan keterkaitan erat antara pendidikan dan kondisi sosial-ekonomi masyarakat.

"Pentingnya negara datang untuk memutus transmisi kemiskinan antargenerasi melalui jalur pendidikan. Kalau orang tuanya miskin, anaknya di hari depan tidak ikut miskin lantaran negara hadir," imbuhnya.

Menurut Agus, anak-anak nan belum dapat mengikuti Sekolah Rakyat tetap kudu mendapatkan ruang untuk belajar. SKB menjadi salah satu corak fasilitasi pemerintah melalui sinergi Kementerian Sosial dengan Dinas Pendidikan dan pemerintah daerah.

Karena itu, dia meminta jejeran Kementerian Sosial, Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, para pendamping, pekerja sosial, guru, serta seluruh pihak mengenai untuk tidak bekerja sendiri-sendiri.

"Sudah bukan waktunya kita kerja sendiri-sendiri. Saatnya kita melakukan kerjasama dan sinergi untuk melaksanakan dan menyukseskan program pengentasan kemiskinan," tegas Agus Jabo.

Kolaborasi tersebut, lanjutnya, diperlukan agar anak-anak nan sebelumnya tidak sekolah dapat kembali memperoleh pendidikan, pendampingan, dan kesempatan untuk meraih masa depan nan lebih baik.

Ia juga mengingatkan jejeran Sentra Kemensos agar memaksimalkan peran Sentra sebagai pusat pelayanan sosial. Menurutnya, penanganan persoalan sosial tidak dapat dilepaskan dari upaya pemberdayaan dan rehabilitasi sosial, termasuk memberikan penguatan kepada anak-anak nan sebelumnya tidak bersekolah.

Dalam kesempatan nan sama, Agus Jabo berpesan kepada para siswa SKB agar tidak rendah diri dan tetap mempunyai semangat dalam belajar.

"Kalian kudu punya semangat, kalian kudu punya disiplin nan tinggi, agar kemudian orang tua kalian bangga. Sekolah itu jalan kalian untuk bisa mewujudkan cita-cita kalian," tutur Agus Jabo.

Pelaksanaan MPLS SKB Sentra Margo Laras Pati menjadi bagian dari upaya menghadirkan akses pendidikan bagi anak-anak nan membutuhkan. Saat ini, sebanyak 57 siswa mengikuti program SKB Sentra Margo Laras Pati, terdiri atas 20 siswa jenjang SD, 31 siswa SMP, dan 6 siswa SMA.

Dengan support pemerintah pusat, pemerintah daerah, tenaga pendidik, pendamping, serta keluarga, pendidikan diharapkan tidak hanya menjadi ruang belajar, tetapi juga jembatan menuju kehidupan nan lebih layak dan mandiri.

(prf/ega)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News