Wamen Diktisaintek Stella Christie.(Dok. Diktisaintek)
WAKIL Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamen Diktisaintek), Stella Christie, membujuk generasi muda untuk tetap berpikir kritis di tengah masifnya penggunaan kecerdasan buatan (AI). Hal itu disampaikannya di hadapan 240 peraih danasiwa Tanoto Foundation dalam arena Tanoto Scholars Gathering di Pangkalan Kerinci, Riau, Kamis (23/7).
Stella menekankan bahwa meski AI bisa memberikan jawaban instan bagi beragam persoalan, keahlian manusia dalam mengevaluasi kecermatan luaran AI tetap tidak tergantikan.
"Secanggih-canggihnya AI, jika kalian bisa menentukan apakah luaran dari AI itu betul alias tidak, jeli alias tidak, bagus alias tidak, kalian tidak bakal tergantikan," tegasnya.
Dalam paparannya, Stella memberikan ilustrasi sejarah mengenai kejadian gelembung ekonomi (bubble), mulai dari "demam tulip" di Belanda pada abad ke-17 hingga "dotcom bubble" di awal era internet. Ia membujuk mahasiswa merefleksikan apakah tren AI saat ini merupakan gelembung serupa nan bisa pecah alias bakal terus bertumbuh secara berkelanjutan.
Selain aspek fungsional, Stella menyoroti "harga mahal" dari penggunaan AI terhadap lingkungan. Berdasarkan riset, penggunaan AI menyedot daya listrik dan air nan sangat besar. Tahun lampau saja, konsumsi daya AI setara dengan pemakaian daya satu tahun negara Latvia, dan diprediksi bakal terus meningkat melampaui konsumsi daya negara-negara besar di Eropa pada 2030.
Terkait bumi pendidikan, Stella mendorong perguruan tinggi untuk memperkuat tiga keahlian utama: menciptakan, mentransmisi, dan mengkurasi pengetahuan. Menurutnya, universitas kudu bisa memilah pengetahuan mana nan perlu diproduksi manusia dan mana nan bisa didelegasikan ke AI agar eksistensi akademisi tetap relevan.
Ia juga memperingatkan akibat negatif ketergantungan AI pada pelajar.
"Bukti ilmiah memperlihatkan ketika mahasiswa menggunakan AI secara berlebihan, keahlian mereka menyelesaikan pekerjaan justru memburuk lantaran proses berpikir kritisnya terhambat," tambahnya.
Sejalan dengan pesan tersebut, Tanoto Foundation melalui program danasiwa TELADAN terus berkomitmen mencetak pemimpin masa depan nan mempunyai karakter kuat dan keahlian berpikir kritis. Saat ini, pendaftaran danasiwa TELADAN Cohort 2027 telah dibuka hingga 7 September 2026 bagi mahasiswa di 10 perguruan tinggi mitra. (Z-10)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·