Wall Street Turun Imbas Kekhawatiran Eskalasi Perang AS-Iran

Sedang Trending 3 bulan yang lalu
Ilustrasi Wall Street. Foto: Shutterstock

Indeks saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, jatuh sementara nilai minyak naik lantaran kekhawatiran bakal eskalasi perang di Timur Tengah nan dapat memperpanjang penutupan Selat Hormuz, memperburuk gangguan pasokan energi.

Dikutip dari Bloomberg, Indeks S&P 500 turun 0,4 persen pada pukul 4 sore waktu New York. Indeks Nasdaq 100 turun 0,6 persen, dan indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,4 persen.

Reli di S&P 500 terhenti, dengan indeks turun hingga 1,3 persen sebelum mengurangi penurunannya. Pada jam-jam terakhir perdagangan, saham Intel Corp. melonjak lantaran prospek nan kuat, memicu kenaikan di sektor produsen chip. Grup tersebut mencatatkan kenaikan ke-17 berturut-turut dalam perdagangan reguler.

Presiden AS Donald Trump memerintahkan Angkatan Laut AS untuk menembak kapal apa pun nan memasang ranjau di selat tersebut, sementara militer mengatakan telah mencegat dua kapal tanker minyak super nan mencoba menghindari upaya mereka untuk mencegah lampau lintas ke dan dari pelabuhan Iran.

Kemudian pada hari itu, Trump mengatakan bahwa jika Iran tidak mengirimkan minyak, infrastrukturnya bakal meledak. Dia juga mencatat bahwa Iran mau membikin kesepakatan, dan AS telah berbincang dengan negara tersebut. Trump juga mengatakan bahwa penduduk Amerika kudu bersiap untuk mengeluarkan lebih banyak duit untuk bensin untuk sementara waktu.

video story embed

Sementara itu, instansi buletin Iran Mehr melaporkan bahwa sistem pertahanan udara diaktifkan di beberapa bagian Teheran untuk melawan "target musuh," sedangkan instansi buletin semi-resmi Fars mengatakan bahwa perihal itu terjadi sebagai respons terhadap drone kecil.

“Ada cukup banyak ketidakpastian dalam perihal diplomasi antara kedua belah pihak. nan kurang menenangkan adalah kurangnya kejelasan nan berkepanjangan seputar Selat Hormuz. Tanpa rencana nan jelas untuk membukanya kembali, ketidakpastian tetap tinggi," kata Fawad Razaqzada di Forex.com.

Para pedagang juga mencermati laporan keuangan. Saham perusahaan perangkat lunak terpukul lantaran angka-angka International Business Machines Corp. dan ServiceNow Inc. kandas meredakan kekhawatiran tentang disrupsi kepintaran buatan.

Saham Tesla Inc. merosot lantaran rencana untuk meningkatkan pengeluaran menutupi hasil nan lebih baik dari perkiraan. Saham Texas Instruments Inc. melonjak lantaran prospek nan solid.

Sementara itu, Meta Platforms Inc. dan Microsoft Corp. sama-sama telah mengambil tindakan untuk mengurangi jumlah tenaga kerja mereka dalam upaya merampingkan operasi dan mengimbangi pengeluaran AI.

Terlepas dari akibat geopolitik nan tetap ada, S&P 500 siap mencatatkan keahlian bulanan terbaiknya sejak 2023 di tengah untung perusahaan nan kuat dan perekonomian nan tangguh. Hampir 80 persen perusahaan dalam indeks referensi ekuitas AS tersebut telah melampaui perkiraan pendapatan kuartal pertama sejauh ini, menurut info nan dikumpulkan oleh Bloomberg.

Menurut catatan Adam Hetts dan Oliver Blackbourn dari Janus Henderson, meskipun volatilitas meningkat seiring dengan dimulainya bentrok Iran, pasar finansial terbukti relatif tangguh.

“Para penanammodal sepakat pada dugaan krusial bahwa permusuhan dan gangguan mengenai terhadap ekonomi dunia bakal berjalan singkat. Indikator sentimen dan posisi kami menunjukkan penurunan di beberapa segmen pasar nan mencapai wilayah kapitulasi dan oleh lantaran itu dapat menjadi titik masuk nan menarik," katanya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan